-->

Kronik Toggle

Industri Buku Nasional Masih Terbelakang

MAKASSAR — Lemahnya kondisi perpustakaan di perguruan-perguruan tinggi, masih sangat terbatasnya koleksi perpustakaan, dan produksi buku nasional yang tak seimbang dengan jumlah penduduk Indonesia merupakan permasalahan utama yang harus dicarikan jalan keluar.

Demikian hal yang terungkap dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Perpustakaan Seluruh Indonesia di Hotel Clarion Makassar, yang dibuka sejak Senin (19/4/2010). Rakornas yang berlangsung hingga Rabu (21/4/2010) itu diikuti oleh 162 kepala perpustakaan provinsi dan kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Plt Kepala Perpustakaan Nasional RI Lily AS mengatakan, sebagai praktisi perbukuan, dia lebih menekankan bahwa industri buku nasional belum mendapat perhatian yang optimal dari perpustakaan nasional. Padahal, kata dia, untuk menumbuhkan gemar membaca sesuai amanat Undang-Undang Perpustakaan, usaha gemar membaca harus melibatkan semua komponen masyarakat.

“Sebagai contoh, Indonesia masih terbelakang jauh dari India dan Amerika dalam soal industri buku,” ujarnya.

Tercatat, dari 476 penerbit yang ada di Indonesia, buku-buku yang baru terbit per tahun hanya 12.000 eksemplar. Sementara itu, jumlah penduduk Indonesia 220 juta jiwa.

Angka itu bisa dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) yang menerbitkan buku baru setiap tahun hingga 75.000 eksemplar, disusul India sebanyak 25.000 eksemplar.

Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang mempertegas bahwa membicarakan masalah perpustakaan berarti membicarakan peradaban manusia. Oleh karena itu, kata Agus, ke depan perpustakaan diharapkan menjadi bagian yang sangat penting seperti pentingnya pembangunan infrastruktur.

()Kompas.com 20 April 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan