-->

Kronik Toggle

Gara-gara Buku, Salsabila Mengenal Sam

Samuel Ndimar (12) tak canggung mengenakan bulu burung cendrawasih sebagai hiasan rambut. Hiasan khas tanah kelahirannya, tepatnya di Desa Rawa Biru, Papua, justru membuatnya merasa lebih gagah.

Senyumnya merekah ramah saat memperkenalkan dirinya kepada Salsabila (10), murid SD Karet 01 Pagi, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (11/4). Tak hanya Salsabila, Senin pagi kemarin, Sam, panggilan akrab Samuel, juga berkenalan dengan siswa-siswi SD dan SMP dari beberapa lokasi di Jakarta.

Perkenalannya dengan kawan-kawan baru itu pun tidak perlu dilakukan secara susah payah dengan terbang dari Papua ke Ibu Kota, tetapi hanya lewat sebuah buku.

”Kawan, senang sekali aku dapat berkenalan denganmu. Akhirnya, mimpiku terwujud, yakni berbagi cerita dan pengalaman tentang kehidupanku di desa yang sangat kucintai: Rawa Biru di Papua,” demikian salam perkenalan Sam yang tertulis di lembar awal buku berjudul ”Kawan di Rawa Biru”, salah satu dari serangkaian seri Pustaka Anak Nusantara.

Halaman demi halaman di buku itu mengulas kehidupan Sam di tanah Merauke. Kekayaan ragam flora fauna hingga kultur dibahas tuntas dengan kalimat-kalimat pendek yang mudah dicerna anak-anak. Ada gambar-gambar Sam, kawasan rawa tempat bermain Sam, termasuk burung khas Papua, seperti cendrawasih dan beo. Makanan asli Sam juga diulas, antara lain, umbi-umbian dan sagu.

Sam juga makan ikan dan lauk lain seperti yang dimakan Salsabila, tetapi mungkin cara memasaknya berbeda. Dari buku itu, Salsabila dan teman-temannya juga bisa belajar bahasa Papua meski sedikit. ”Habis acara ini, kita mau mbal-mbal, ah,” kata Ivan, seorang siswa lain seusai membaca buku tentang Sam. Mbal-mbal yang dimaksud Ivan berarti bermain dalam bahasa Suku Kanum, suku keluarga Sam.

Salsabila dan teman-temannya juga bisa lebih dekat mengenal Sam, bahkan mendengarnya berbicara dan mengikuti penjelajahannya di alam Papua. Caranya mudah saja, putar video Sam yang tersedia satu paket dengan bukunya dalam piringan cakram.

Murid-murid SD-SMP dari beberapa sekolah di Jakarta Selatan berkesempatan menerima langsung buku seri Pustaka Anak Nusantara dan Dongeng Cerita Rakyat, Senin kemarin, di Aula Kantor Kecamatan Setiabudi. Mereka dengan sukacita membolak-balik buku yang menjadi koleksi tambahan bagi perpustakaan di sekolah. Selain kisah Sam, ada juga cerita rakyat lain, seperti Senggutru, Joko Kendil si Periuk Nasi, Malin Kundang, dan Jaka Tingkir.

Pembagian 432 buku ini dilakukan PT Indofood Sukses Makmur Tbk bekerja sama dengan Visi Anak Bangsa. Penyebaran buku-buku tersebut secara simbolik ditandai dengan diserahkannya satu paket bacaan oleh Franky Welirang, Direktur Utama Indofood Sukses Makmur, kepada Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Seluruh buku dibagikan kepada 193 perpustakaan SD dan 181 SMP se-Jabodetabek. Di luar itu, seri buku Pustaka Anak Nusantara dan dongeng cerita rakyat juga menambah koleksi perpustakaan di 33 kantor gubernur dan 25 perpustakaan daerah. ”Pustaka Anak Nusantara dan kumpulan cerita rakyat ini adalah representasi dari Indonesia yang multikultur. Ini adalah kekayaan yang harus terus dijaga kelestariannya. Keragaman budaya adalah ciri bangsa Indonesia yang direkatkan dalam NKRI,” kata Fauzi.

Fauzi amat menghargai pihak swasta yang telah memelopori pelestarian kultur bangsa sekaligus cermat membidik sasaran. Anak-anak adalah penerus bangsa yang harus mendapat pendidikan terbaik sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya. ”Di negara-negara maju, siswanya diwajibkan membaca buku bacaan, minimal enam buku setahun,” ujar Fauzi.

Kalau tidak dengan buku, kapan lagi Salsabila bisa mudah dan tanpa biaya berteman dengan Sam atau Cut, sobat dari Aceh. Ayo…ayo…ke perpustakaan dan baca bukumu.(NELI TRIANA)
*) Kompas, 12 April 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan