-->

Literasi dari Sewon Toggle

Cine Book Club: Bulan Film Kisah Para Pengarang (April)

Studio 1 Gelaran Indonesia Buku (IBOEKOE) pojok Alun-Alun Kidul, Patehan Wetan no. 3, Yogyakarta, Indonesia mempersembahkan:

Tanggal 23 April merupakan tanggal luar biasa untuk segenap pecinta buku di seluruh dunia. Pada tanggal yang sama dan di tahun yang sama, tepatnya 1616, tiga sastrawan kanon Miguel de Cervantes, William Shakespeare, dan Inca Garcilaso de la Vega meninggal. Menariknya, pada tanggal itu pula, sastrawan dunia dari generasi yang lebih muda seperti Vladimir Nabokov, Joseph Pla, atau Manuel Mejía Vallejo lahir.

UNESCO lantas mengabadikan tanggal itu sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Internasional.

Cine Book Club Yogya bekerjasama dengan Indonesia Buku kemudian bersepakat untuk mendidekasikan pemutaran selama bulan April sebagai “Bulan Kisah Para Pengarang”.

Empat film dari berbagai belahan dunia, memotret kehidupan empat sastrawan (maupun sosok fiksi seorang sastrawan) akan kita saksikan dan bahas bersama.

Meminjam semangat yang diperjuangkan UNESCO lewat penetapan Hari Buku Internasional itu, semoga rangkaian pemutaran Cine Book Club bulan April ini akan menginspirasi segenap pecinta buku sekaligus film untuk “menemukan kenikmatan lagi dari aktivitas membaca, sekaligus menghormati peran tak tergantikan dari banyak orang yang berjuang demi pemajuan harkat kemanusiaan lewat buku.”

1. “Quills” (2000) – Terj. Bahasa Indonesia, 124 menit. [2 April 2011]

QuillsPenulis kenamaan Perancis bernama Marquis de Sade menyebabkan kegemparan di seantero negeri akibat kisah-kisahnya. Karyanya yang erotis, menjurus cabul, bahkan penuh kekerasan membuat murka mulai dari Kaisar Napoleon Bonaparte, pemuka agama, sampai cendekiawan. Uniknya, rakyat memujanya, rela mengantri untuk mendapat novel-novelnya di pasar gelap. Bahkan, mereka yang benci dan memusuhi, tak urung ikut membaca tulisan de Sade diam-diam.

“Quills” menampilkan pada kita, sebuah kondisi masyarakat abad 18 Eropa yang rasa-rasanya masih relevan sampai sekarang. Betapa pembebasan pikiran, rupa-rupanya selalu dianggap berbahaya. Marquis de Sade (diperankan Geoffrey Rush) sungguh-sungguh memahaminya.

Lewat interaksinya dengan Abbe de Coulmier (Joaqin Phoenix), kepala rumah sakit jiwa tempat ia ditahan, penonton disuguhi pertanyaan-pertanyaan pelik, tentang licensia poetica, supremasi seni, moralitas semu, kemunafikan masyarakat, dan represi kekuasaan. Satu hal yang pasti, “Quills” besutan Philip Kaufman akan memprovokasi siapapun ia, bahwa menulis adalah sarana pembebasan jiwa yang luar biasa dan termasuk hak asasi yang pantas dipertaruhkan. Itulah sebab semua pengarang melakukannya sejak zaman dahulu hingga sekarang.

2. “Mishima: A Life in Four Chapters” (1985) – Terj. Bahasa Inggris, 121 Menit. [9 April 2011]

MishimaFilm ini merupakan interpretasi fiksi dari kisah hidup sastrawan pilih tanding Jepang, Yukio Mishima (diperankan oleh aktor senior Jepang, Ken Ogata). Terdiri dari empat segmen, masing-masing merupakan paralel yang menggabungkan kehidupannya dengan cerita dari tiga novel masterpiece-nya yaitu “The Temple of the Golden Pavilion”, “Kyoko’s House”, serta “Runaway Horses”.

Khusus pada bagian keempat, sutradara sekaligus penulis skenario Paul Schrader menghadirkan momen terpenting seorang Mishima, yaitu peristiwa kudeta dan seppuku dramatisnya pada tanggal 25 November 1970. Keempat segmen tadi akan membawa penonton memahami lebih lanjut ideologi berkesenian seorang penulis penting pasca-perang bagi sastra dunia yang dinominasikan tiga kali untuk meraih Nobel tersebut.

3. “Sult” (1966) – Terj. Bahasa Inggris, 112 menit. [16 April 2011]

Knut HamsunFilm Norwegia karya sutradara Henning Carlsen ini dengan berani berupaya mengadaptasi novel monumental Sastrawan peraih Nobel Sastra tahun 1920, Knut Hamsun berujudul “Lapar” ke dalam format 35 mm. Bertempat di Christiania (nama ibukota Norwegia sebelum berubah menjadi Oslo) tahun 1890, kita akan ikut menyusuri jalanan kota industrial dari sudut pandang pengarang miskin sekaligus kelaparan Pontus (Per Oscarsson).

Ia berjuang keras menerbitkan karya-karyanya, sekaligus mencari cinta sejati. Tapi, peruntungan yang ia dapat hanyalah kekalahan demi kekalahan. Protagonis kita ini seakan tidak diinginkan kehadirannya di dunia. Di balik semua nasib buruk dan rasa lapar yang konsisten menghantui, penonton bersama si Pontus berjuang meruwat nilai-nilai hakiki manusia.

4. “Barfly” (1987) – Terj. Bahasa Indonesia, 100 menit. [23 April 2011]

Berdasarkan cerpen dari Charles Bukowski, sastrawan sekaligus peziarah budaya, dan peletak ide generasi bunga di Amerika Serikat, hadir sebuah komedi-drama “Barfly”.
Film ini menekankan cerita pada sosok Henry Chinaski (Mickey Rourke), penulis pemabuk yang kerap membuat ulah. Si protagonis ini naga-naganya adalah alter-ego Bukowski sendiri.

Seiring film berjalan, kita saksikan bagaimana Henry berjuang menulis puisi dan cerpen, sembari kerap beradu mulut dengan bartender bar langganannya, sekaligus menjalin cinta tak biasa dengan seorang perempuan labil bernama Faye Dunaway (Wanda Wilcox).

Sebuah film yang dapat menjelaskan betapa upaya pengarang hidup dan menghidupi dunia, tak melulu seromantis bayangan orang. Tentunya, karya sutradara Perancis Barbet Schroeder ini merupakan sebuah film yang mencerahkan.

Setiap pemutaran dimulai pukul 19.00 tepat, tentunya di Gelaran Indonesia Buku Patehan. Ajak kawan, pacar, ayah-ibu, adik, kakak, paman, bibi, siapapun dia. Sebab semua pemutaran gratis, tersedia pula makanan dan minuman, serta tak lupa, beragam hadiah menarik bagi peserta diskusi usai pemutaran yang beruntung.

Mari Menonton Buku, Mari Membaca Film! (Ardyan M Erlangga, tukang bioskop Cine Book Club)

“Bulan Film Kisah Para Pengarang”

Ardyan M. Erlangga mengundang Anda. · Bagikan · Acara Umum
Waktu
Hari ini jam 19:00 30 April jam 22:30

Tempat
Studio 1 Gelaran Indonesia Buku Jalan Patehan Wetan no. 3, Alun-Alun Kidul, Keraton Yogyakarta, Indonesia

Dibuat oleh:

Info Selengkapnya
Tanggal 23 April merupakan tanggal luar biasa untuk segenap pecinta buku di seluruh dunia. Pada tanggal yang sama dan di tahun yang sama, tepatnya 1616, tiga sastrawan kanon Miguel de Cervantes, William Shakespeare, dan Inca Garcilaso de la Vega meninggal. Menariknya, pada tanggal itu pula, sastrawan dunia dari generasi yang lebih muda seperti Vladimir Nabokov, Joseph Pla, atau Manuel Mejía Vallejo lahir.

UNESCO lantas mengabadikan tanggal itu sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Internasional. Cine Book Club Yogya bekerjasama dengan Indonesia Buku kemudian bersepakat untuk mendidekasikan pemutaran selama bulan April sebagai “Bulan Kisah Para Pengarang”. Empat film dari berbagai belahan dunia, memotret kehidupan empat sastrawan (maupun sosok fiksi seorang sastrawan) akan kita saksikan dan bahas bersama.

Meminjam semangat yang diperjuangkan UNESCO lewat penetapan Hari Buku Internasional itu, semoga rangkaian pemutaran Cine Book Club bulan maret ini akan menginspirasi segenap pecinta buku sekaligus film untuk “menemukan kenikmatan lagi dari aktivitas membaca, sekaligus menghormati peran tak tergantikan dari banyak orang yang berjuang demi pemajuan harkat kemanusiaan lewat buku.”

1. “Quills” (2000) – Terj. Bahasa Indonesia, 124 menit. [2 April 2011]

Penulis kenamaan Perancis bernama Marquis de Sade menyebabkan kegemparan di seantero negeri akibat kisah-kisahnya. Karyanya yang erotis, menjurus cabul, bahkan penuh kekerasan membuat murka mulai dari Kaisar Napoleon Bonaparte, pemuka agama, sampai cendekiawan. Uniknya, rakyat memujanya, rela mengantri untuk mendapat novel-novelnya di pasar gelap. Bahkan, mereka yang benci dan memusuhi, tak urung ikut membaca tulisan de Sade diam-diam.

“Quills” menampilkan pada kita, sebuah kondisi masyarakat abad 18 Eropa yang rasa-rasanya masih relevan sampai sekarang. Betapa pembebasan pikiran, rupa-rupanya selalu dianggap berbahaya. Marquis de Sade (diperankan Geoffrey Rush) sungguh-sungguh memahaminya.

Lewat interaksinya dengan Abbe de Coulmier (Joaqin Phoenix), kepala rumah sakit jiwa tempat ia ditahan, penonton disuguhi pertanyaan-pertanyaan pelik, tentang licensia poetica, supremasi seni, moralitas semu, kemunafikan masyarakat, dan represi kekuasaan. Satu hal yang pasti, “Quills” besutan Philip Kaufman akan memprovokasi siapapun ia, bahwa menulis adalah sarana pembebasan jiwa yang luar biasa dan termasuk hak asasi yang pantas dipertaruhkan. Itulah sebab semua pengarang melakukannya sejak zaman dahulu hingga sekarang.

2. “Mishima: A Life in Four Chapters” (1985) – Terj. Bahasa Inggris, 121 Menit. [9 April 2011]

Film ini merupakan interpretasi fiksi dari kisah hidup sastrawan pilih tanding Jepang, Yukio Mishima (diperankan oleh aktor senior Jepang, Ken Ogata). Terdiri dari empat segmen, masing-masing merupakan paralel yang menggabungkan kehidupannya dengan cerita dari tiga novel masterpiece-nya yaitu “The Temple of the Golden Pavilion”, “Kyoko’s House”, serta “Runaway Horses”.

Khusus pada bagian keempat, sutradara sekaligus penulis skenario Paul Schrader menghadirkan momen terpenting seorang Mishima, yaitu peristiwa kudeta dan seppuku dramatisnya pada tanggal 25 November 1970. Keempat segmen tadi akan membawa penonton memahami lebih lanjut ideologi berkesenian seorang penulis penting pasca-perang bagi sastra dunia yang dinominasikan tiga kali untuk meraih Nobel tersebut.

3. “Sult” (1966) – Terj. Bahasa Inggris, 112 menit. [16 April 2011]

Film Norwegia karya sutradara Henning Carlsen ini dengan berani berupaya mengadaptasi novel monumental Sastrawan peraih Nobel Sastra tahun 1920, Knut Hamsun berujudul “Lapar” ke dalam format 35 mm. Bertempat di Christiania (nama ibukota Norwegia sebelum berubah menjadi Oslo) tahun 1890, kita akan ikut menyusuri jalanan kota industrial dari sudut pandang pengarang miskin sekaligus kelaparan Pontus (Per Oscarsson).

Ia berjuang keras menerbitkan karya-karyanya, sekaligus mencari cinta sejati. Tapi, peruntungan yang ia dapat hanyalah kekalahan demi kekalahan. protagonis kita ini seakan tidak diinginkan kehadirannya di dunia. Dibalik semua nasib buruk dan rasa lapar yang konsisten menghantui, penonton bersama Pontus berjuang meruwat nilai-nilai hakiki manusia.

4. “Barfly” (1987) – Terj. Bahasa Indonesia, 100 menit. [23 April 2011]

Berdasarkan cerpen dari Charles Bukowski, sastrawan sekaligus peziarah budaya, dan peletak ide generasi bunga di Amerika Serikat, hadir sebuah komedi-drama “Barfly”. Film ini menekankan cerita pada sosok Henry Chinaski (Mickey Rourke), penulis pemabuk yang kerap membuat ulah. Si protagonis ini naga-naganya adalah alter-ego Bukowski sendiri.

Seiring film berjalan, kita saksikan bagaimana Henry berjuang menulis puisi dan cerpen, sembari kerap beradu mulut dengan bartender bar langganannya, sekaligus menjalin cinta tak biasa dengan seorang perempuan labil bernama Faye Dunaway (Wanda Wilcox). Sebuah film yang dapat menjelaskan betapa upaya pengarang hidup dan menghidupi dunia, tak melulu seromantis bayangan orang. Tentunya, karya sutradara Perancis Barbet Schroeder ini merupakan sebuah film yang mencerahkan.

Setiap pemutaran dimulai pukul 19.00 tepat, tentunya di Gelaran Indonesia Buku Patehan. Ajak kawan, pacar, ayah-ibu, adik, kakak, paman, bibi, siapapun dia. Sebab semua pemutaran gratis, tersedia pula makanan dan minuman, serta tak lupa, beragam hadiah menarik bagi peserta diskusi usai pemutaran yang beruntung. Mari Menonton Buku, Mari Membaca Film!

1 Comment

AEna - 02. Apr, 2011 -

bagus tp ga tau tempatnya

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan