-->

Kronik Toggle

Banyak Mahasiswa Belum Mahir Meresensi Buku

MERESENSI buku, bagi sebagian besar mahasiswa tampaknya masih menjadi kegiatan asing, bahkan dianggap sulit. Terbukti, masih banyak kekurangan yang dilakukan para peresensi dari mahasiswa.  Mulai dari pemberian judul resensi yang justru masih menggunakan judul buku bersangkutan, kesalahan penggunaan dan penulisan awalan maupun kata depan, hingga ketiadaan sikap atau ekspresi jiwa guna merespons isi buku tersebut.

Ya, hal itu tampak jelas terlihat dalam final Lomba Resensi Buku dan Pemilihan Bintang Perpustakaan yang diadakan oleh UPT Perpustakaan IKIP PGRI Semarang di ruang baca perpustakaan lantai 3 Jl Lingga, Rabu (27/4).

Tak pelak, dewan juri seringkali mengkritik dan mengingatkan para finalis saat mempresentasikan karya resensinya. Dari total 15 finalis yang sudah diseleksi dari 73 peserta babak penyisihan, rata-rata memang mendapat saran dari dewan juri agar memperbaiki karya resensinya di waktu mendatang.

Kaidah

Terutama, terkait pengolahan kata dan kalimat sesuai kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan alur runtut atau mengalir. Ibarat sebuah perusahaan, seluruh karyawan saling berhubungan dan harus saling bersinergi agar menghasilkan produk yang berkualitas.

“Karya resensi Anda sudah bagus, alurnya mengalir, presentasi pun baik. Namun, logika penyusunan bahasa dan sikap terhadap isi buku, belum dituliskan. Resensi itu saling berhubungan. Kalau ada kesalahan sedikit, membuat cacat resensi,” kata salah seorang juri, Agus Wismanto SPd (Humas PGRI Jateng) kepada finalis, Eky Yuliana.

Pada kesempatan itu, Eky dan 14 finalis lain wajib mempresentasikan karya resensinya 15-20 menit, termasuk untuk paparan dan tanya jawab dengan dewan juri yang terdiri atas Agus, Drs Harjito MHum (dosen IKIP PGRI Semarang), dan Muhajir SPd (Humas IKIP PGRI Semarang).

Kepala UPT Perpustakaan IKIP PGRI, Dra Asropah MPd mengatakan, juara 1 hingga 3 secara berurutan mendapat uang pembinaan Rp 1 juta, Rp 750 ribu, dan Rp 500 ribu, ditambah piala dan beberapa buku.

Para peserta yang meresensi buku fiksi dan nonfiksi bertema bebas dari perpustakaan IKIP PGRI Semarang itu, harus melalui penilaian terkait kelancaran dalam berbicara, menjawab, dan memberi tanggapan, kesesuaian tulisan hingga tanggapan, serta keefektifan berkomunikasi.

Dikatakan, acara rutin menyambut Hari Pendidikan Nasional itu bertujuan membangkitkan minat cerdas membaca para mahasiswa sehingga muncul keinginan menulis guna meningkatkan intelektual. Sebelum membuka acara, Rektor IKP PGRI Semarang Muhdi SH MHum menuturkan, lomba tersebut sebagai pendorong mahasiswa membaca maupun menulis dengan efektif dan efisien.  (Hadziq Jauhary-53)

Sumber: Suara Merdeka via Koran Perpustakaan Gresnews

1 Comment

Pustakawan - 28. Apr, 2011 -

“juara 1 hingga 3 secara berurutan mendapat uang pembinaan Rp 1 juta, Rp 750 ribu, dan Rp 500 ribu, ditambah piala dan beberapa buku.”

KOMENTAR ISENG:
Seorang teman pernah mengungkapkan satire yang membandingkan antara hadiah kuis di televisi dengan hadiah lomba menulis.

Di televisi, orang cukup menebak nomer ruang kemudian dengan gampangnya dapat uang belasan juta, sedangkan hadiah sayembara menulis karya ilmiah, esai, resensi, dll, hanya dalam rentang ratusan ribu hingga 1-3 jutaan.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan