-->

Esai Toggle

Muhidin M Dahlan | Bangsa yang Tak Merawat Diri

 

Soekarno bilang, Indonesia adalah bangsa kuli dan kuli dari bangsa-bangsa. Menurut saya, Indonesia bangsa perusak. Bangsa yang tak punya mental merawat. Apa pun akan dirusaknya jika itu tak memberi keuntungan pragmatis. Tak peduli, bahkan milik berharga Proklamator Indonesia. Dua warisan dari dua bapak pendiri bangsa (founding fathers) itu, sepanjang reformasi, terkubur satu-satu.

Alkisah, Perpustakaan Idayu menyatu menjadi tanah di Sentul pada 2006. Perpustakaan yang berdiri tahun 1966 ini menyimpan koleksi bibliografi Indonesia sejak 1955; pertama oleh PT Gunung Agung (penerbit dan toko buku) kemudian dialihkan ke Idayu tahun 1966, termasuk koleksi kliping koran dari tahun 1960-an, koran-koran daerah dari seluruh daerah yang selalu diterima Idayu secara gratis.

Ada juga koleksi Books on Indonesia sebanyak 3.000 judul. Pidato Bung Karno mulai dari yang terpendek (1949) hingga terakhir, termasuk saat menerima gelar doktor honoris causa dari lebih 20 universitas di dalam dan luar negeri. Ada pula foto dan film revolusi 1945 yang diperoleh dari IPPHOS. Dokumen Petisi 50 yang terkoleksi lengkap. Buku atau artikel terlarang juga ada dalam rangkaian koleksi.

Koleksi-koleksi itu berubah menjadi tanah, dimakan rayap Sentul. Menurut Murtini Pendit, yang 15 tahun mengurus dokumentasi Idayu, mereka sudah berupaya agar warisan itu mendapat tempat layak.

Setelah Gedung Kebangkitan Indonesia (STOVIA) yang dipakai Idayu diambil alih pemerintah, Idayu terusir. Mereka membujuk Perpustakaan Nasional memberi ruang khusus untuk bibliografi, tetapi ditolak. Universitas Indonesia juga menolak.

Terakhir, mereka menyewa gedung di Sentul. Gudang itu sekaligus menjadi kuburan akhir koleksi bibliografi Idayu.

Sepanjang reformasi, stempel ”bukan bangsa (bermental) perawat” ini mendapat legitimasinya. Selain Idayu di Jakarta, Pemerintah Kota Bandung juga pernah ambil ancang-ancang menghabisi Gedung Landraad, tempat di mana Soekarno diadili pada 1930. Untunglah ada sekelompok kecil budayawan memperjuangkannya habis-habisan hingga gedung itu kini menjadi pusat kebudayaan yang aktif.

Pada bulan Agustus 2010 mencuat peristiwa miris. Para ahli waris Inggit menjual surat nikah berikut surat cerai Soekarno dan Inggit Garnasih karena ketiadaan dana merawat barang-barang peninggalan keduanya, museum dan rumah sakit bersalin Inggit Garnasih di Kota Bandung.

Di Yogyakarta, Perpustakaan Hatta, rumah bernaung buku-buku yang dibeli dan dikumpulkan Hatta sepanjang hayatnya, akhirnya ”rebah” tahun 2007. Koleksinya dijual ke Perpustakaan Universitas Gadjah Mada.

Rahzen (2000) pernah cerita, puluhan ribu koleksi buku Perdana Menteri Ali Sastro Amidjojo justru didapatkannya tak sengaja di rumah jagal buku dan bersiap dibuburkan. Demikian juga koleksi Adam Malik mblusuk-mblusuk di pasar gelap buku bekas. Dan kita masih bisa menderetnya sepanjang-panjangnya.

Merawat memori

Mental merawat memori adalah salah satu modal dasar peradaban besar. Pada abad ke-10—bahkan sebelumnya—Nuswantara mengalami puncak kejayaannya. Relief Candi Cetho, Sukuh, dan Panataran, misalnya, menggambarkan relief-relief peradaban dunia yang mengukuhkan Nuswantara sebagai pusat peradaban. Tesis ini yang diyakini dua akademisi yang belum pernah ke Indonesia sekalipun, Stephen Oppenheimer (Eden in the East) dan Arysio Santos (Atlantis, The Lost Continent Finally Found).

Ditengarai, saat itu pemerintah sadar bahwa semangat global harus diikuti fondasi dasar bagaimana mengadopsi peradaban itu dengan semangat mendokumentasikan seluruh khazanah keilmuan dunia yang puncaknya berlangsung pada abad ke-14.

Seusai menyelesaikan proyek kolektif gigantik, Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia (2009), Henri Chambert-Loir (2010) menyimpulkan, mental (dukungan dan kebijakan) pemerintahlah kuncinya. Pada masa Dharmawangsa Teguh dan beberapa generasi setelahnya, hampir semua bahasa dunia digunakan di Nusantara karena kerajaan mendukung penuh proyek itu.

Kini, jangankan mendokumentasikan ilmu-ilmu di dunia, merawat warisan intelektual dua Proklamator Indonesia saja pemerintah tersaruk-saruk. Jangankan mengumpulkan buku/dokumen dari peradaban global secara sistematis seperti dilakukan Library of Congress Amerika Serikat dengan bergerilya hingga ke kabupaten-kabupaten kecil mencari dokumen berbahasa Indonesia, merawat rumah peradaban yang ada saja tak sanggup.

Tumbuhlah padi

Ini soal mental merawat yang tak dipunyai. Tanpa mental merawat, jangan harap ada visi yang menurun ke kebijakan. Mental merawat bukan retorika. Ia bersemayam dalam sikap budaya. Bentuk mental merawat itu terangkum dalam sebait kalimat Multatuli seperti dikutip Mohammad Hatta pada halaman akhir pleidoi Indonesia Merdeka: ”Onhoorbaar goeit de padi (tak terdengar tumbuhlah padi)”.

Kekuatan kebudayaan yang terpendam dalam memori sejarah, dengan berbagai bentuk medianya, sesungguhnya tak lain adalah kekuatan inti dari negara dan bangsa yang dibangun ini. Kekuatan yang menegaskan ”jati diri”, hal yang hanya ribut di mulut para petinggi. Dengan pelalaian sekaligus perusakan—disengaja atau tidak—kekuatan itu penanda kuat hilangnya diri dalam kolektivitas kita sebagai bangsa juga individualitas kita sebagai manusia.

Oleh karena itu, jangan pernah mimpi memanen kejayaan peradaban (Indonesia Jaya 2030) jika tak siap berjalan dalam kesunyian merawat, memupuk, dan menjaga warisan masa silam dengan segenap kesadaran. Bila tidak, aparat pemerintah hari ini akan dikutuk generasi berikutnya sebagai kutu bagi buku, rayap bagi dokumen, dan hama bagi padi yang menghancurkan harapan ”petani-petani” peradaban.

Sumber: Kompas, 23 April 2011

2 Comments

bambang haryanto - 24. Apr, 2011 -

Gus Muh, ini saya kutipkan petikan artikel dari Ziauddin Sardar tentang Wahabisme. “Wahhabism, there is only the constant present. There is no real past and there is no real notion of an alternative, different future. Their perpetual present exists in the ontological shadow of the past – or rather, a specific, constructed period of early Islamic history, the days of the Prophet Muhammad. The history/culture of Muslim civilisation, in all its greatness, complexity and plurality, is totally irrelevant; indeed, it is rejected as deviancy and degeneration. ..” Dari isi artikel Anda di Teroka Kompas kemarin itu, apa berarti wahabisme sudah masuk dan merasuk sebegitu jauh di negeri dan bangsa kita ini ?

Pustakawan - 25. Apr, 2011 -

“Seusai menyelesaikan proyek kolektif gigantik, Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia (2009), Henri Chambert-Loir (2010) menyimpulkan, mental (dukungan dan kebijakan) pemerintahlah kuncinya.”

Saya suka sekali kutipan itu. Mengingatkan saya pada sejarah perpustakaan di era kekhalifahan yang mana catatan tentang kegemilangan budaya pendokumentasian khazanah pengetahuan dalam bentuk perpustakaan pasti turut menyebut nama sang khalifah. Hal itu dapat dimaknai bahwa peran pemerintah/penguasa adalah kunci, sama dengan “teori” yang dimuat dalam kutipan di atas.

Konteks pernyataan itu adalah ranah kebijakan dalam organisasi kenegaraan atau pemerintahan suatu bangsa. Bila dipersempit, pernyataan tersebut juga dapat berarti adanya kesadaran, kemauan, dan dorongan dari seorang pemimpin; berarti ada inisiatif seseorang/pribadi yang punya visi-misi untuk bangsanya. Konteks sempit (visi-misi pribadi) ini sekaligus berarti luas, karena harapan mengenai pendokumentasian tidak lagi tergantung pada sosok penguasa, namun juga pada pribadi-pribadi yang punya visi-misi mengenai bangsanya. Buktinya adalah pribadi-pribadi seperti H. Masagung (Perpustakaan Idayu), HB. Jassin (PDS), dan Pramoedya Ananta Toer (kronik Indonesia & roman sejarah bangsa). Mereka bukanlah penguasa, namun punya visi-misi mengenai identitas bangsanya.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan