-->

Kronik Toggle

Universitas Sebelas Maret Dirikan Pusat Kajian Jawa

Surakarta – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mendirikan pusat kajian Jawa atau biasa disebut Institut Javanologi. Institut tersebut didirikan pada 28 Desember lalu dan baru akan diresmikan 6 Maret nanti.

Kepala Institut Sahid Teguh Widodo mengatakan dasar pendiriannya untuk melestarikan budaya Jawa melalui penggalian nilai-nilai luhur budaya Jawa serta kajian mendalam terhadap berbagai aspek.

“Institut yang kami dirikan tidak sekadar membahas bahasa dan filsafat seperti yang sekarang ini jamak dilakukan. Tapi lingkupnya lebih besar lagi,” ucapnya saat jumpa wartawan di kampus setempat, Selasa (1/3).

Penelitian dan kajian kebudayaan yang menjadi bidang garapan melingkupi sistem religi atau kepercayaan, perekonomian, organisasi, pengetahuan, bahasa, kesenian, dan teknologi Jawa.

Institut juga akan menyelenggarakan berbagai forum ilmiah dalam bentuk seminar, diskusi, sarasehan, simposium, dan lokakarya. “Kami juga menyebarluaskan hasil kegiatan melalui media cetak dan elektronik,” ujarnya.

Institut diharapkan menjadi tempat berkumpulnya para pemikir dan budayawan Jawa. Pihaknya sudah mendapat tawaran kerja sama dengan Jepang, yang dikenal sangat mengapresiasi budaya Jawa. “Bahkan Universitas Leiden berjanji akan mengembalikan sebagian koleksinya ke kami,” katanya.

Untuk deklarasi, pada 6 Maret diselenggarakan gelar seni kolosal dengan menampilkan 30 dadak merak dari Perkumpulan Reog Ponorogo. Gelar seni bertempat di halaman Rektorat UNS dengan melibatkan 150 seniman. “Kami pilih reog karena budaya asli Indonesia dan sempat diklaim negara lain,” ucapnya.

Selain gelar budaya, pada Senin (7/3) diadakan seminar internasional yang mengangkat tema “Menggali nilai luhur kearifan lokal Jawa” di perpustakaan UNS.

Ketua panitia Slamet Subiyantoro menerangkan seminar akan menghadirkan para ahli kebudayaan Jawa, seperti Masakatsu Tozu, ahli batik klasik dari Jepang.

Lantas Allan Frank Lauder dari Afrika Selatan yang menguasai komputerisasi dan linguistik Jawa, serta Laura Romano asal Italia yang paham sistem religi Jawa.

“Pembicara nasional ada ahli naskah dari Perpustakaan Nasional Suyatno, ahli arsitektur tradisional Jawa Galih Wijil Pangarso, dan ahli filsafat Jawa Oesman Arief,” terangnya.

Pendirian Institut diharapkan membuat keberadaan budaya Jawa semakin dikenal masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, tapi bisa mendunia.

UKKY PRIMARTANTYO

*)Tempointeraktif, 1 Maret 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan