-->

Kronik Toggle

Tanjungpinang Terbitkan Dermaga Sastra Indonesia

Jakarta – Pemerintah Kota Tanjungpinang bekerja sama dengan Komodo Books akan meluncurkan buku “Dermaga Sastra Indonesia: Kepengarangan Tanjungpinang, dari Raja Ali Haji sampai Suryatati A. Manan” di Bentara Budaya Jakarta pada Selasa (29/3) sore nanti.

Buku yang merupakan suatu kajian sejarah sastra Melayu di Riau itu akan dibahas oleh Prof. Dr. Budi Darma, sastrawan dan guru besar Universitas Negeri Surabaya, dan Prof. Dr. Abdul Hadi W.M., sastrawan dan guru besar Universitas Paramadina Jakarta. Acara peluncuran buku ini akan ditandai penandatanganan prasasti buku oleh Suryatati A. Manan, Wali Kota Tanjungpinang yang juga seorang penyair, dan dimeriahkan dengan musikalisasi puisi oleh Sanggar Matahari.

Buku itu ditulis oleh Jamal D. Rahman, Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison; Al Azhar, peneliti di Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau; Abdul Malik, kandidat Ph.D. Universitas Malaya Malaysia dan dosen Universitas Riau; Agus R. Sarjono, redaktur Majalah Sastra Horison dan dosen STSI Bandung; dan Raja Malik Hafrizal, Kepala Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu di Pulau Penyengat.

Buku tersebut mencoba merekam perjalanan dan perkembangan sastra di Kepulauan Riau yang berhubungan dengan Tanjungpinang dari awal hingga kini. Kesastraan di sana dimulai ketika karya sastra pertama ditulis dalam aksara Arab Melayu oleh Raja Ahmad dan terutama oleh Raja Ali Haji pada abad ke-19, yang dikenal dengan karya termahsyurnya, “Gurindam Duabelas”. Setelah itu Riau melahirkan banyak sastrawan, seperti Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau, Aisyah Sulaiman Riau, hingga Sutardji Calzoum Bachri.

Dalam rilisnya, Komodo Books menyatakan bahwa buku ini membahas para sastrawan itu seorang demi seorang agar memperoleh gambaran yang relatif utuh tentang sosok dan kepengarangan setiap pengarang. “Disusun secara kronologis menurut waktu kemunculan mereka sebagai sastrawan, atau kemunculan karya sastra mereka, buku ini mencoba menggambarkan perjalanan dan perkembangan kepengarangan sastra di Tanjungpinang sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-21 ini,” kata penerbit berbasis di Jakarta itu.

Buku ini juga menunjukkan posisi Tanjungpinang sebagai kota penting bagi perkembangan sastra Kepulauan Riau, yang juga berperan besar bagi perkembangan sastra Indonesia modern. Tak mengherankan pula jika Tanjungpinang kemudian menegaskan dirinya sebagai Kota Gurindam Negeri Pantun.

Sumbangan penting di bidang sastra dari Kepulauan Riau terus mengalir. Puisi, cerpen, novel, roman, dan drama terus ditulis dan diterbitkan dari generasi ke generasi hingga hari ini. Tentu saja perkembangan ini di satu sisi memperlihatkan kesinambungan tradisi sastra Melayu yang relatif tua, dan di sisi lain menawarkan sejumlah perubahan bagi kemungkinan adanya sumbangan penting terhadap sastra Indonesia modern yang relatif muda.

Banyak karya sastra mereka bercorak kemelayuan, baik dalam bahasa maupun masalah yang dibicarakan. Hal itu telah memperkaya khazanah sastra Indonesia modern, yang sejauh ini telah diperkaya oleh corak lokal atau etnis Nusantara. Kebanyakan para sastrawan tersebut berhubungan dengan kota Tanjungpinang: lahir di sini, pernah tinggal di sini, pernah belajar di sini, memulai karier kepengarangannya di sini, atau bahkan menetap di kota ini.

Iwank

*) Tempointeraktif 29 maret 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan