-->

Kronik Toggle

Siswa SMA di Surabaya Tulis Buku Kepahlawanan

Surabaya – Lorenzo Yauwerissa, siswa SMAK Frateran, Jalan Kepanjen, Surabaya, tengah mempersiapkan penulisan buku kepahlawanan.

Saat ini, dia meminta dukungan dari Gubernur Jatim Soekarwo, mantan Wali Kota Surabaya Bambang DH (kini Wakil Wali Kota Surabaya, red), tokoh sejarah Prof. Aminuddin Kasdi, dan beberapa tokoh lainnya, untuk membuat kata pengantar.

“Iya, ini lembaran bertuliskan surat dukungan, dan kata pengantar, serta catatan untuk sekapur sirih yang akan ditulis ke buku,” katanya saat ditemui di kantin SMAK Frateran, Senin.

Sejak Mei tahun lalu, Lorenzo memang sibuk mengumpulkan catatan-catatan sejarah kepahlawanan. Ia bertekad dan memiliki cita-cita menulis sebuah buku sejarah yang dipersembahkan bagi para pelaku sejarah, masyarakat, serta para generasi muda zaman sekarang. Bukunya berjudul “65 Tahun Kepahlawanan Surabaya”.

Berbagai cara untuk mendapatkan dokumentasi sejarah masa lalu dicarinya. Diantaranya dengan mengumpulkan puluhan buku sebagai referensi, serta mendatangi satu per satu keluarga pahlawan, hingga wawancara langsung dengan tokoh-tokoh veteran, antara lain Amari, Ismunandar, Sudarso, dan pensiunan Kostrad Letkol (Purn) Tanto, serta legiun veteran lainnya.

“Saya juga mendatangi tempat pemakamannya dan melihat apa yang terjadi disana. Saya ingin tahu, apakah para pahlawan yang gugur mempertahankan bangsa ini sudah diperhatikan atau justru ditinggalkan oleh pemerintah,” ucapnya.

Ia pun mengaku terenyuh dan prihatin melihat kondisi keluarga atau bahkan hidup para veteran saat ini. “Semuanya ada di buku yang saya tulis, dan bisa dibaca,” tutur anak sulung dari dua bersaudara tersebut.

Remaja kelahiran Surabaya, 14 Desember 1993 itu mengaku memiliki ide membuat buku karena ingin merasakan betul bagaimana susahnya para pahlawan mempertahankan negeri ini. Di samping itu, ia bertekad akan membantu para veteran yang saat ini hidup susah dan membenahi makam bagi pahlawan yang telah gugur.

“Hasil penjualan buku akan saya dedikasikan untuk mereka yang berjuang mempertaruhkan nyawanya. Doakan semoga buku ini laris dan saya bisa membantu, meski hanya mengecat batu nisan makam pahlawan,” jelas Lorenzo.

Sambil membuka resleting tas yang semula berada di punggungnya, ia mengeluarkan dan menunjukkan sebuah buku bergambar seorang mantan wali kota Surabaya berseragam Persebaya Surabaya.

“Dia inilah yang menginspirasi dan membuat saya semakin bersemangat untuk menyusun buku,” katanya sambil ibu jarinya menunjuk gambar Soenarto Sumoprawiro, mantan wali kota Surabaya yang terkenal dengan “bonek”-nya.

Dikatakannya, semangat Cak Narto (sebutan akrab Soenarto, red) dengan hanya berbekal “bondo nekat” untuk membangun kota ini membuatnya berkeinginan memiliki semangat layaknya Cak Narto.

Ia lantas mencontohkan keinginan Cak Narto membangun sebuah masjid besar di Surabaya meski hanya dana pemerintah kota sangat pas-pasan. “Tapi buktinya, sekarang masjid yang diberi nama Masjid Al-Akbar itu berdiri megah dan menjadi ikon kota, bahkan Bangsa Indonesia.

“Saya tulis buku ini juga dengan modal nekat dan anggaran yang sangat minim. Trik-trik dari Cak Narto yang saya tiru,” katanya lantas tertawa.

Dalam buku yang tebalnya 220 halaman, Lorenzo juga mengisahkan tentang kejadian nyata yang terjadi di bumi Surabaya ketika pertempuran November terjadi. Selain itu, ia juga bercerita bagaimana kehidupan “arek-arek Suroboyo” setelah sukses membuat penjajah terusir dan kembali ke negaranya.

“Selama ini kita hanya tahu bahwa puncak perang November diakhiri dengan kematian Jenderal Mallaby. Padahal kejadiannya tidak hanya itu saja. Di dalam buku itulah nanti yang akan saya kupas semuanya,” papar remaja yang tinggal di kawasan Jalan Manyar Kertoadi tersebut.

Selama proses penulisan pun, ia tak sepenuhnya menulis menggunakan ketikan komputer. Bahkan, sebagian besar tulisannya menggunakan mesin tik. Ini karena Lorenzo tidak memiliki laptop yang bisa dibawa kemana saja dan diketik kapan saja. Tidak jarang ia pun harus membawa mesin tik ke sekolah dan mengetik di kantin.

Didukung Sekolah

Keinginan Lorenzo membuat buku juga mendapat respon positif dari sekolah tempatnya menuntut ilmu. Salah satu guru pembimbingnya, Rini Woro Suharsasi, mengaku bangga dengan apa yang dilakukan Lorenzo.

“Syukurlah saya dipertemukan dengan Lorenzo secara tidak sengaja ketika kami sama-sama berdoa. Dia sempat tanya dan membuat hati saya terenyuh untuk membantunya, sebab jarang anak seusia Lorenzo ingin membuat buku yang isinya menghormati para pahlawan dan sangat mencintai sejarah masa kemerdekaan, khususnya di Surabaya,” tutur Rini.

Untuk menunjukkan kepeduliannya, sekolah siap menggelar agenda peluncuran buku yang rencananya digelar pada 5 Mei mendatang. “Saat ini bukunya masih masa cetak, semoga ketika peluncuran nantinya mendapat sambutan positif,” kata guru mata pelajaran kesenian tersebut.

*) Antaranews, 7 Maret 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan