-->

Kronik Toggle

Sepuluhan Ribu Naskah Kuno Perpustakaan Nasional

Surakarta – Perpustakaan nasional yang berdiri sejak 1778 memiliki 10.300 naskah kuno dari berbagai daerah. Naskah kuno tersebut disimpan dalam ruangan khusus dan dirawat untuk menjaga kondisinya.

Kepala Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional Suyatno mengatakan naskah kuno dikumpulkan dari berbagai daerah dan sebagian dari kolektor. “Kalau kolektor dengan suka rela menyerahkan koleksinya, kami sangat bersyukur. Tapi kalau tidak mau, kami beri kompensasi sewajarnya,” kata Suyatno dalam seminar internasional Javanologi di kampus Universitas Sebelas Maret Surakarta, Senin (7/3).

Koleksi naskah kuno selain ditulis di kertas, juga di daun lontar, bambu, tulang belulang, kulit kayu, dan rotan. Koleksi yang menjadi kebanggaan antara lain Negarakertagama yang dibuat pada 1604. “Negarakertagama berisi catatan perjalanan Kerajaan Majapahit dan sudah di akui sebagai warisan budaya Indonesia,” katanya. Koleksi lainnya adalah Javaansche Bibliographie terbitan 1921 dan Inhoudsogave der Javaansche Couranten terbitan 1911.

Koleksi naskah kuno terdiri dari berbagai subyek bahasan macam sastra, dongeng, filsafat, bahasa, kesenian, wayang, pendidikan, tata krama, kesehatan, dan astronomi. Suyatno meyakini koleksi naskah kuno masih cukup banyak. Terlebih di Indonesia terdapat 784 suku bangsa dan sekitar 500 bahasa daerah. “Bisa jadi ada naskah kuno yang masih disimpan masyarakat,” di menjelaskan.

Dia meminta masyarakat turut menjaga kelestarian naskah kuno, salah satunya dengan menyerahkan ke perpustakaan nasional. “Atau bisa juga ke perpustakaan daerah masing-masing. Yang penting, naskah tersebut terawat,” katanya.

Perpustakaan nasional memiliki 3,4 juta eksemplar koleksi. Koleksi tersebut dalam bentuk karya tulis, cetak, rekam, dan digital. Dengan sejumlah koleksi di atas, perpustakaan nasional menjadi pusat rujukan dan pusat penelitian. “Kami mengundang para pakar untuk mengeksplorasi koleksi yang ada di perpustakaan nasional,” dia menegaskan.

UKKY PRIMARTANTYO

*) 7 Maret 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan