-->

Tokoh Toggle

Saftari: "Membaca itu sehat bagi seniman, tapi lebih sehat lagi kalau bekerja"

Saftari 2Ia pelukis dengan tema lingkungan yang konsisten. Hitunglah, sejak 1998 hingga 2007, ia mengeksplorasi daun sebagai objek karya. Baginya, daun memiliki metafora yang kaya. Di belahan dunia yang mengalami empat musim, daun menjadi kunci penanda musim. Musim gugur disebut demikian lantaran daun-daun berguguran. Musim semi disebut demikian ketika daun-daun muda bertumbuhan dari pori-pori batang setelah dibekukan salju di musim salju.

Daun juga adalah penanda sebuah lingkungan sehat atau rusak. Daun yang terbakar, daun yang kering kerontang, batang-batang meranggas tanpa daun, adalah sebagian penggambaran Saftari bagaimana lingkungan dieksploitasi oleh manusia.

Hingga dalam sebuah karyanya muncul objek lain bernama mesin ketik. Tampak dalam kanvas itu daun-daun gugur di sekitaran mesin ketik tua di mana kertas-kertasnya terbakar.

Penggambaran itu menarik. Dan memiliki kisah sendiri. Mari memasuki dunia Saftari dengan mesin ketik-mesik ketik tuanya.

“Aku tertarik saja dengan bentuk benda ini. Sama tertariknya aku dengan mobil-mobil jeep atau sejenisnya. Kayaknya mesin ketik ini bisa diolah menjadi pesan tersendiri.”

Bagi Saftari, masuknya mesin ketik di lanskap kanvasnya bukan seperti kerja seorang seniman-filsuf, seniman pemikir. Bagi seniman-pemikir, ide dulu baru tindakan. Saftari rupa-rupanya jauh dari tipe itu.

“Membaca enggak terlalu berpengaruh dalam proses berkarya, walau sadar membaca itu sehat bagi seniman. Misalnya, untuk melukis mesin ketik, saya mencari dulu buku-buku sejarah mesin ketik, mencari mesin ketiknya Yang penting saya senang dulu dengan objeknya. Saya simpan. Dilihat-lihat Baru disentuh, ditangani, dan diubah jadi objek untuk menyampaikan pesan kreatif.”

Menurut Saftari, ia tak pernah menggilai mesin ketik seperti layaknya sastrawan macam Arswendo Atmowiloto atau Remy Silado yang di rumahnya berjejer-jejer koleksi mesin ketik.

“Selain itu aku sama sekali tidak lancar mengetik. Dulu waktu di SMP memang ada pelajaran ADM… apa itu… Administrasi. Ada praktik mengetik dengan sepuluh jari. Tetap aku nggak bisa.”

Boleh dibilang, hubungan Saftari dengan mesin ketik bukan hubungan generik atau ideologis. Tapi karena kesukaan bentuk. Itu pun bertemunya pun tidak intens, tapi respons sambil lalu yang diendapkan. Karena itu mencarinya pun jika ada waktu kala tak sedang mengerjakan karya yang lain. Itu juga di tempat-tempat yang terbuka yang sudah dikenal para pencari barang rongsokan di Yogyakarta. Pasar Klithikan atau kerap disebut “Pasar Maling”.

“Di Alun-Alun Kidul di bawah pohon beringin pertama mendapatkan mesin ketik. Kalau nggak salah harganya ada 25 ribu. Paling mahal 150 ribu di Prawirotaman, kios kelontong antik-antik, mesin hitung steenlees. Di antik itu lebih banyak omong2 kayu, jati, bisnis. Saya buat saja mesin ketik dari kayu. Ada juga mesin ketik dapat dari orang-orang. tetangga yang menyimpan. Saya mendapatkan delapan. Tapi saya bukan kolektor. Ada waktu senggang saja.”

Membawa mesin ketik dalam isu lingkungan (kayu dan daun) bisa dipahami dari habitus yang saling berkorelasi antara alam dengan kalam. Alam adalah kayu dan dedaunan, sementara mesin ketik adalah masuk ekosistem kalam. Menurut Saftari, mesin ketik itu mempengaruhinya. Bukan dicari-cari lewat pembacaan kalam. Lewat sebuah operasi membaca buku. Baginya, objek ada dulu barulah pikiran. Objek yang mempengaruhi ide. Tidak sebaliknya: berpikir dulu baru mencari.

“Aku melukis itu ya bekerja dan merespons saja. Keinginan membaca sebelum melukis itu ada. Tapi dikalahkan oleh keinginan bekerja yang lebih kuat. Kalau tidak bekerja, saya bisa sampai sore membaca. Membaca tak bisa nyambi-nyambi. Membaca itu kan ingin mendapatkan sesuatu. Ada dunia di luar akan masuk. Tapi terkadang ada banyak pekerjaan yang lebih kuat, satu pun tidak ada yang masuk.”

Saftari memandang membaca (buku/teks) adalah aktivitas yang mestinya memiliki waktu sendiri, seperti halnya bekerja (melukis/berkarya).  Maka jangan heran bila Saftari kaget dan berpikir keras mengingat buku apa saja yang berhasil menerobos kenangannya.

“Buku yang tak dilupakan itu apa ya. Buku yang tidak mengada-ngada, yang realis-realis. Tan Malaka, mungkin. Dari Penjara ke Penjara itu. Yang juga ada sionase-spionasenya (Matu Mona??? pen). Aku ngat betul itu karena di depan rumahku ada jalan Tan Malaka (Saftari berasal dari Payakumbuh, Padang, pen). Sudah lama tahu nama jalannya, tapi tidak tahu nama itu siapa. Juga yang Pramoedya Ananta Toer. Soal Pulau Buru. Juga Panggil Aku Kartini Saja. Kapal van der Wijk iya. Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi karya Pram itu. Eh, bukan. Siapa itu lupa. Kebanyakan aku lihat buku-buku itu dari teman-teman Taring Padi.”

Demikianlah Saftari. Data ini diambil dari Jeglok RT I RW 06. Di studio yang mirip tempat kerja tukang kayu lantaran mesin-mesin pengolah kayu ada di mana-mana. Di depannya, tampak kuburan tua di antara rerimbunan pring yang selalu ribut jika ada angin menamparnya.

“Yang tertua. Konon sudah ada sebelum kuburan kampung muncul. Di sini, sewanya sangat murah.” (Muhidin M Dahlan/Diana AV Sasa)

Foto: JHE/Gelaran Almanak

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan