-->

Kronik Toggle

Pusat Sastra HB Jassin Tolak Bantuan Nasdem

Jakarta -Ketua Dewan Pembina Yayasan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Ajip Rosidi, menolak niat organisasi Nasional Demokrat, yang ingin membantu biaya operasional yayasannya. “Saya tidak mau dibantu yang berbau unsur politis,” ujarnya usai bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, di Yayasan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Senin (21/3) sore.

Ajip menerangkan, pihaknya mengapresiasi niat Ketua Pimpinan Pusat Nasional Demokrat Bidang Komunikasi dan Informasi, Jeffrie Geovanie yang sudah mau membantu. Ajip mengatakan, ibu dari Geovannie memang tercatat pernah bekerja di yayasannya. “Kalau atas nama Nasdem tidak deh,” katanya.

Meski demikian, Ajip membuka lebar-lebar pada pihak luar yang ingin membantunya menjalankan yayasannya. Termasuk dari Yayasan Geovannie Found, yang diketuai sendiri oleh Geovannie. “Kalau dari yayasannya baru kami mau,” ujarnya.

Pusat sastra HB Jassin mengalami kesulitan operasional setelah dana hibah dari Pemprov DKI Jakarta pada 2011 ini dipangkas menjadi hanya Rp 50 juta. Penetapan dana hibah ini ditetapkan lewat SK Gubernur DKI Jakarta nomor 215/2011 tanggal 16 Februari 2011.

Tahun lalu, dikatakan Ajip pihaknya menerima Rp 165 juta. Jauh berbeda saat 2003. Waktu itu pihaknya mendapat dana dari Pemerintah DKI sebesar Rp 500 juta setahun. “Semakin tahun semakin kecil,” ujarnya.

Kepala Perpustakaan HB Jassin Endo Senggono menyampaikan, dana hibah sebesar Rp 50 juta tidak mencukupi untuk menutup biaya operasional. Apalagi, pihak perpustakaan tidak memungut bayaran kepada pengunjung. “Kami amat tergantung Pemprov melalui anggaran tahunan,” katanya.

Menurut Endo, ketika penghematan dilakukan, maka dokumen yang ada di perpustakaan akan terancam. Penghematan AC, ia mencontohkan, akan dapat merusak dokumen yang sejak 1930 dijaga. “Belum lagi untuk menafkahi 13 orang karyawan. Jumlah ini terdiri dari 5 orang PNS dan 8 orang yang dikontrak,” katanya.

Dalam SK gubernur DKI Nomor 215 tahun 2011 tentang penetapan belanja hibah dan bantuan sosial, banyak alokasi anggaran 2011 yang tidak logis. Misalnya ada anggaran untuk Alex Asmasubrata Management sebesar Rp 2 miliar. Kemudian Lembaga Seni Qasidah Indonesia yang mendapat anggaran Rp 1 miliar.

HERU TRIYONO

*) Tempointeraktif, 21 Maret 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan