-->

Kronik Toggle

Perpustakaan Kampus, Tinggal Nama?

perpus uiSeiring perkembangan teknologi, perpustakaan di kampus bukan lagi ruangan yang penuh dengan tumpukan buku dan skripsi mahasiswa. Kini, perpustakaan berganti wajah dengan banyaknya fasilitas, seperti jaringan internet dan ”wireless fidelity” atau wifi.

Perpustakaan kampus yang kuno pasti akan ditinggalkan oleh mahasiswanya. Untuk itu, inovasi perlu terus dilakukan oleh pengelola universitas.

Kepala UPT Perpustakaan Institut Teknologi Surabaya (ITS) Drs Mansur Sutedjo, SIP mengutarakan, kebutuhan data bagi mahasiswa dipenuhi, baik berupa e-journal maupun buku teks. Walaupun sekarang peran buku teks mulai diambil alih internet, perpustakaan tetap menyediakan buku teks. ”Bagaimanapun untuk masuk ranking perguruan tinggi dunia, perpustakaan harus menyediakan buku teks,” ujarnya.

Sebagai gambaran, mengacu pada standar Kementerian Pendidikan Nasional, satu mahasiswa berbanding dengan 15 buku. Oleh karena itu, sampai sekarang ITS berupaya memenuhi standar tersebut. Menurut dia, anggaran pengadaan buku, baik hard copy maupun e-journal, berkisar Rp 4 miliar per tahun. ”Biasanya setiap tahun ada bantuan dana dari APBN, tetapi 2011 ini murni dari ITS,” tuturnya.

Bagaimanapun pihak kampus menyadari bahwa sebagian besar mahasiswa enggan menginjakkan kaki ke perpustakaan. Kalau tidak ada tugas, untuk apa ke perpustakaan? Untuk menumbuhkan kecintaan terhadap perpustakaan dan menepis anggapan bahwa perpustakaan itu kuno, ITS menyediakan beragam pendukung, seperti komputer, televisi, dan sofa.

Perpustakaan lima lantai yang menyediakan fasilitas wifi ini juga mengoleksi buku dan majalah populer serta berlangganan delapan surat kabar lokal dan nasional. ”Kami pun berupaya memperkuat digital content, terutama karya ilmiah sivitas akademika ITS,” papar Mansur.

Lebih suka internet

Fasilitas yang lengkap di perpustakaan tentunya menjadi harapan sebagian besar mahasiswa. Ari Kuncoro, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Universitas Sanata Dharma, mengungkapkan, Perpustakaan Universitas Sadhar yang berada di Paingan, Yogyakarta, selalu dipenuhi mahasiswa yang menggunakan fasilitas internet.

”Fasilitas sudah bagus, koleksi buku juga banyak, tetapi mahasiswa lebih sering berselancar di internet. Hanya mahasiswa yang sedang menyusun skripsi saja yang banyak membaca buku-buku karena dibutuhkan untuk penjelasan teori dalam skripsi,” ungkapnya.

Fikri Aulia Rachman, mahasiswa Teknik Kimia Universitas Indonesia, mengungkapkan, perpustakaan kampus diharapkan memberikan pelayanan yang terbaik dan tepat guna sehingga kegiatan penelitian dan akademis bisa berjalan baik. ”Manajemen dan operasional perpustakaan juga harus lebih akuntabel untuk meningkatkan kualitas pelayanan kegiatan perkuliahan di kampus,” ungkap dia.

Ia mengatakan, dalam menyongsong era baru dunia riset sivitas akademika, UI tengah membangun sebuah gedung perpustakaan yang akan menjadi perpustakaan terbesar se-Asia. ”Citra perpustakaan tradisional sebagai tempat membaca dan meminjam buku terus berakselerasi di era IT ini, perpustakaan kampus harus merevitalisasi perannya sebagai jantung universitas sehingga world class research university bukan hanya merupakan label belaka, namun sebagai bukti konkret kemajuan bangsa,” tegasnya.

Guilford Caesar Maukar, mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, berpendapat, kebanyakan perpustakaan kampus kini tidak memiliki fasilitas yang memadai dalam penyediaan buku, terutama buku-buku dengan isu yang kontemporer sehingga untuk melakukan sebuah riset akan sulit bila bergantung pada buku perpustakaan saja.

”Keadaan semakin buruk, perpustakaan hanyalah terpaku dalam peminjaman buku semata. Di perpustakaan Fisipol UGM sebenarnya sudah memiliki fasilitas yang sangat memadai untuk mencari buku, belajar, atau setidaknya berkumpul bersama teman-teman,” kata Guilford.

Lebih sreg

Shendy Setiawan (19), mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra, malah masih mengandalkan buku. Meski sekarang mencari buku bisa melalui internet, dia merasa lebih nyaman mendapatkan data dalam buku-buku. ”Kadang-kadang saya enggak yakin dengan data di internet, kalau di buku lebih sreg soalnya ada bukti fisiknya,” katanya sambil tertawa.

Dia menjadi pengunjung tetap di perpustakaan kampus. Kira-kira dalam seminggu, Shendy berkunjung ke perpustakaan dua sampai tiga kali. Kedatangan ke perpustakaan bukan semata-mata mencari bahan yang berkaitan dengan tugas.

Perpustakaan, bagi mahasiswa semester II itu, mempunyai suasana yang nyaman sehingga juga menjadi pilihan untuk bersantai. Saat tidak berburu materi untuk tugas, dia meluangkan waktu untuk membaca buku dan majalah. ”Saya paling suka membaca majalah dan buku tentang pengetahuan,” tuturnya menyebut majalah National Geographic sebagai bacaan favorit.

Wili Azhari, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, mengungkapkan, perpustakaan seharusnya menjadi bagian integral dari proses pembelajaran, terkadang tidak diimbangi dengan buku-buku yang memadai.

”Buku-buku yang disediakan tidak mendukung kurikulum yang telah ditentukan. Hal ini sungguh disayangkan. Padahal, perpustakaan merupakan sarana mahasiswa dalam mencari sumber bahan belajar. Terbatasnya akses ruang dan waktu di perpustakaan juga menyebabkan mahasiswa lebih memilih toko buku dibanding perpustakaan. Sebaiknya perpustakaan kampus memiliki semacam standar operasional supaya bisa memenuhi kebutuhan mahasiswa,” kata Wili.

Perpustakaan di kampus memang harus terus berkembang mengikuti perkembangan teknologi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama mahasiswanya sendiri. Kalau tidak, perpustakaan hanya menjadi bangunan yang berisi rak-rak pajangan berisi buku-buku lama dan skripsi yang tentu saja tidak menarik minat mahasiswa.(Fabiola Ponto/SuSIE Berindra)

Sumber: Kompas, 1 Maret 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan