-->

Kronik Toggle

PDSHB Jassin-Ini Tamparan bagi Dunia Sastra

JAKARTA— Sastrawan senior Indonesia, Taufik Ismail, mengaku sangat sedih ketika mengetahui Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin sebagai pusat dokumentasi sastra terbesar di dunia hanya diberikan anggaran pemeliharaan Rp 50 juta per tahun.

Ini merupakan satu tamparan yang menyinggung kita sebagai sastrawan. Ini sesuatu yang kurang wajar.
— Mataim bin Bakar

”Ini tidak pantas dilakukan oleh sebuah pemerintahan dari sebuah bangsa yang beradab,” kata Taufik saat menjadi peserta dalam seminar majelis bahasa Brunei-Indonesia-Malaysia (Mabbim) di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (22/3/2011) kemarin.

Taufik menambahkan, Jassin adalah sastrawan jempolan tingkat dunia. Orang mengaguminya karena Jassin sangat tekun mendokumentasikan semua karya sastranya seorang diri tanpa dibantu siapa pun selama puluhan tahun. Sebagai bangsa yang beradab, selayaknya pemerintah bisa memelihara warisan sastra karya-karyanya.

”Saya angkat kopiah untuk Fauzi Bowo karena beliau berani mengakui kekhilafannya dan saya tak jadi marah,” kata Taufik.

Dalam kesempatan terpisah, mantan Kepala Pusat Bahasa Brunei Mataim bin Bakar menyatakan kesedihannya.

”Ini merupakan satu tamparan yang menyinggung kita sebagai sastrawan. Ini sesuatu yang kurang wajar. Sebagai seorang yang berbakti kepada negara, seharusnya ada suatu aturan khusus mengenai ini,” ujar Ketua Perwakilan Brunei pada seminar tersebut.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, sangat dimungkinkan adanya perpindahan aset pengelolaan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dari Pemprov DKI kepada Kemdiknas.

”Ada kemungkinan perpindahan aset, jika Pemprov DKI tidak sanggup mengelola PDS HB Jassin, kami bisa juga membantu mengeluarkan anggaran,” kata Nuh yang mengatakan bahwa semua kekayaan budaya negara wajib dirawat dan diberi perlindungan.

*)Oase Kompas, 23 Maret 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan