-->

Resensi Toggle

Orang-orang Pesisir | Mahwi Air Tawar

derma-buku-GELARANIBUKU-IBOEKOEREDAKSI: Buku ini masih sebuah draft novel. Dibahas pertama kali di halaman Perpustakaan Indonesia Buku (Sabtu, 02/04/2011) sebagai bagian dari proses pengayaan dan pengujian proses kreatif. Bahkan sejak naskah masih berada dalam sapihan. Berikut ini adalah sekilas rangkuman isi (draft) novel karya Mahwi Air Tawar, sastrawan berdarah Madura.

* * *

Kampung Nelayan, Desa Legung, Desa Jongkang, dua cinta menjangkiti tanpa mengenal usia. Satu cinta dari Markoya, janda muda beranak satu diperebutkan birahi lelaki sekampung, dan cinta yang lain, dari anaknya,  Munati, gadis belasan tahun yang dimenangi oleh Julantip, lelaki kecil usia belasan tahun anak kepala desa. Kisah cinta sederhana yang kaya dalam kentalnya tradisi kampung nelayan di pesisiran Madura.

Desa Legung merupakan daerah pesisir pantai. Mata pencaharian utama penduduknya adalah nelayan. Sebagaimana daerah pesisir lainnya, mereka pintar dan rajin merawat tradisi; Remo, Karapan Sapi, Tandak, Ludruk, dan satu lagi, mistik. Lain hal dengan Desa Jongkang, memang tak jauh dari Legung, tapi penghidupan mereka sudah berbeda. Jongkang merupakan daerah tepian bukit kapur, penduduknya menghabiskan waktu dengan bekerja menjadi penambang kapur, sesekali buruh angkut bagi nelayan di Desa Legung ketika musim penghujan.

Dua daerah berbeda, satu berorientasi laut dan satunya lagi darat, terikat cerita yang memikat.

Mula-mula. Julantip, anak semata wayang Durakkap, kepala desa yang blater tak tertandingi dan cucu dari Keaji Osen, seorang guru ngaji, dukun, dan pawang hujan, jatuh cinta pada Munati. Jatuh cinta lebih awal dari usia yang belum semestinya, membuatnya menahan derita lebih lama. Sejak itu, Julantip merasa tidak terima jika ada yang berbuat jahat pada Munati atau ibunya, bahkan hanya sekadar gunjingan ibu-ibu kampung. Cinta Julantip seakan menemu puncak cemara. Cinta dalam hatinya pelan-pelan membentuk kebencian pada siapa saja yang mengeruk hal-hal buruk pada Munati dan Markoya. Lebih-lebih bagi yang berani mengganggu keduanya. Kepada pengganggu itu, Ia akan mengancam untuk memberitahukan kepada Durakkap dan Keaji Osen bahwa ia dijahati, pengakuan yang sedikit menyimpang. Tamatlah riwayat pengganggu itu. Seperti halnya Sattap, ia diusir oleh Keaji Osen karena mencabuli Julantip. Tentunya dengan kesaksian yang sedikit dilebih-lebihkan oleh Julantip.

Di sisi yang lain, Markoya, janda beranak satu, juga merupakan anak seorang blater, bajing, dan pembunuh, Haji Sattar namanya, teman bajing Durakkap. Markoya memiliki tubuh indah, bahenol, atau singkatnya dambaan hasrat seksual laki-laki. Karena kelebihan yang dimiliki oleh Markoya tersebut, perempuan-perempuan kampung kemudian mempergunjingkannya. Menuduh Markoya sebagai pelacur, perempuan penggoda laki orang. Sementara bagi laki-laki, Markoya seringkali mendapat perlakuan yang cukup istimewa. Lebih-lebih Durakkap, ia memperlukan Markoya dengan sangat baik. Suatu kali, Markoya dilaporkan kehilangan sesuatu, di saat yang sama, seseorang juga melapor ada warga yang kehilangan. Namun durakkap lebih mendahulukan Markoya. Hal ini tentu saja membuat cemburu Sitti, Istri Durakkap. Namun, Sitti tak dapat berbuat apa-apa dalam budaya patriarki itu. Sitti hanya menangis hingga tidur. Perempuan mana mau dimadu, bahkan hanya dalam perasaan.

Durakkap adalah lelaki paling berkuasa di Desa Legung, ia menjadi kepala desa setelah menggulingkan penguasa sebelumnya. Kesalahannya hanya sederhana, kepala desa sebelum Durakkap membatalkan acara Rokat Tase, acara tradisi Desa Legung. Penduduk tidak terima, lebih-lebih Durakkap dan bajing-bajing lainnya, karena mereka dianggap perusuh. Selang sehari, rumah kepala desa dan saudara-saudaranya berhasil dimasuki maling. Beberapa hari kemudian, kepala desa yang alumni perguruan tinggi islam itu mangkir dari jabatannya untuk selamanya. Maka, jadilah Durakkap kepala desa.

Kisah dalam novel ini berakhir dengan penceritaan tentang Haji Sattar, yang cukup gagah berani melawan nasib yang digariskan bagi desanya sebagai penambang batu. Ia mencari peruntungan lain. Benarlah, ia mendapatkannya. Uang yang ia dapat dikumpulkan dan direncanakan untuk membeli tanah. Namun yang terjadi lain, Haji Sattar mulai berkanalan dengan bajing-bajing dan blater, maka ia maling, menjadi kaya, dan akhirnya terlibat judi, miskinlah ia tak punya apa-apa. Lalu ia berniat menemui seorang dukun meminta ilmu memenangkan judi. Sesampainya di rumah dukun, niat berguru itu hilang dan tergantikan dengan niat maling karena melihat barang-barang indah di rumah dukun. Niatnya diketahui oleh dukun, namun dukun itu mempersilahkan Haji Sattar mengambil barang-barangnya. Setelahnya, Haji Sattar Hilang.

Novel ini terdiri dari lima bab pendek-pendek tanpa subjudul, yang bisa dirampungkan sekali duduk. Yang mencengangkan dari karya penulis terkenal Mahwi Air Tawar ini adalah kisah-kisah yang tak tahu kapan dan di mana ia harus berakhir. Seolah-olah, penulis memberikan otoritas penuh kepada pembaca untuk merampungkannya sendiri. Atau jangan-jangan… (saya berikan otoritas penuh pada anda untuk merampungkan kalimat ini).

Fairuzul Mumtaz a.k.a. Virus, Koordinator Obrolan Senja di Angkringan Buku

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan