-->

Kronik Toggle

Mahasiswa Galang Koin Sastra PDS HB Jassin

TANGERANG– Puluhan mahasiswa pecinta sastra Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), menggelar aksi unjukrasa menolak pengurangan subsudi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin.

Dalam aksinya, mahasiswa menggalang koin sastra untuk membantu kegiatan operasional PDS HB Jassin. Mereka juga membacakan puisi karya Chairil Anwar, orasi dan membentangkan poster serta spanduk.

“Begitulah, tuan dan puan. Setelah bom buku, kini pemerintah kita menelantarkan buku,” ungkap Arlian Buana, mahasiswa Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UIN, dalam orasinya, di depan Fakultas Tarbiah, Senin (21/3/2011).

Untuk diketahui, Pemerintah DKI Jakarta memberi dana subsidi untuk kegiatan operasional PDS HB Jassin sebesar Rp360 juta, berkurang Rp60 juta jadi Rp300 juta, berkurang lagi menjadi Rp164 juta dan akhirnya menjadi Rp50 juta.

“Mempertahankan PDS HB Jassin, berarti mempertahankan bagian sejarah dan kebudayaan bangsa,” terangnya.

Selain menggalang koin sastra, para pecinta sastra juga menggalang dukungan lewat akun jejaring sosial Facebook dan berbagai tempat lainnya.

“Gerakan koin sastra merupakan wujud mimpi anak bangsa untuk memiliki pusat dokumentasi sastra yang terus bernyawa dan tumbuh,” jelasnya.

PDS HB Jassin merupakan pengarsipan sastra Indonesia paling lengkap. Dirintis oleh HB Jassin dengan dana pribadi dan dibuka untuk umum pada 1930. Oleh Gubernur DKI Ali Sadikin, PDS HB Jassin menempati sebagian gedung di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta.

“Koin sastra mengekspresikan gugatan kita terhadap pembiaran nasib kebudayaan dan sastra kita yang diambang kebangkrutan,” terangnya.
(ugo)

*) Okezone, 21 Maret 2011

1 Comment

bambang haryanto - 28. Mar, 2011 -

Ikhtiar yang pantas diapresiasi. Semoga “buzz” itu akan terus mengumandang, membangkitkan bola-bola salju perhatian dan sukses dalam mencapai tujuan. Ada sedikit usul-usil. Sepertinya ide pengumpulan koin yang dikelola secara “biasa-biasa” itu sudah rada kehilangan greget.

Harapan saya, semoga ide ini menjadi pembuka untuk eksekusi ide lanjutannya,yang sama-sama bertumpu kepada gerakan masyarakat luas untuk mengatasi masalah secara bersama-sama (crowdsourcing). Usul saya adalah : selain ikhtiar mendigitalkan koleksi PDS HB Jassin, sebaiknya disusul upaya membuat koleksi-koleksinya menjadi “anak angkat” sekumpulan masyarakat yang peduli. Seperti koleksi surat dari Moetinggo Boesje (Kompas Minggu, 27/3/2011), kopi digitalnya bisa menjadi anak angkat komunitas Sumatera Barat dengan menyumbang sejumlah dana. Kalau dalam aksi pengumpulan koin penyumbangnya anonim, maka dalam gerakan anak angkat koleksi itu sang penyumbang memperoleh apresiasi dengan dipajang namanya di situs-situs web yang dirancang untuk itu. Ide serupa sebagai ikhtiar untuk ikut menyelamatkan museum-museum kita, telah saya tulis di blog saya. Silakan klik : http://esaiei.blogspot.com/2011/02/hukum-linus-dan-museum-kita.html. Semoga bermanfaat.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan