-->

Kronik Toggle

Maaf, Bom Buku Bukan Urusan Orang Buku

Bom Buku mengancam Jakarta pada 15 Maret 2011. Satu meledak di Teater Utan Kayu yang ditujukan untuk Ulil Abshar Abdala. Dua yang lainnya ditujukan masing-masing kepada Goris Mere (kantor BNN) dan rumah Ketua Pemuda Pancasila Japto S Soerjosoemarno.

Redaksi Indonesia Buku mengumpulkan komentar-komentar pasca bom buku itu terjadi dan menjadi isu hangat di media-media publik. Media publik yang dimaksud adalah media online yang bukan dikelola individu atau pribadi, antara lain Metrotv News, Detik, Viva News, Kompas, dan Republika.

Hasilnya: instansi keamanan, baik tentara, kepolisian, intelijen sudah memberikan komentar. Menteri-menteri terkait juga sudah mengeluarkan komentar. Bahkan Presiden SBY sudah memberikan statemen prihatin lewat juru bicaranya. PBNU juga sudah.

Tapi “orang-orang buku”? Nyaris belum ada “orang-orang buku” dikutipkan pernyataan atau statemennya ihwal bom buku ini, kecuali kicauan-kicauan pendek di status facebook dan twitter. “Orang-orang buku” yang dimaksud antara lain IKAPI, penerbit, penulis, distributor, perpustakaan, kolektor, dan pembaca.

Atau, memang bom buku ini bukan urusan “orang-orang buku”?

* * *

“Selama 10 tahun saya bergerak di bidang pemikiran Islam di Jaringan Islam Liberal (JIL), tidak pernah ada kejadian seperti ini. Tidak ada pengaruh sedikitpun dengan peristiwa itu.” — Ulil Abshar Abdalla, Pendiri Jaringan Islam Liberal dan Ketua DPP Partai Demokrat

“Buku itu hanya media, hanya kontainer bom. Ini hanya media saja untuk membuat paket bom, biar orang tertarik sehingga ingin membuka” —Kombes Pol Boy Rafli Amar, Kabagpenum Mabes Polri

“Sasaran bom buku adalah orang-orang yang gemar baca buku. Bom disimpan di dalam buku dimaksudkan agar sasaran membuka paket itu. Sekarang mereka bisa melihat sasaran mereka orang yang sering baca, orang yang sering buka buku. Karena sering seperti itu, dikirimlah bukunya. Begitu buku dibuka, meledaklah” — Irjen Pol Sutarman, Kapolda Metro Jaya

“Bom buku memang trend internasional. Tahun lalu di Eropa ini trend. Di Timur Tengah, Inggris, Italia, hingga Jerman juga pernah terjadi hal yang sama. Targetnya tidak harus dari kalangan pemerintah, tapi individu-individu yang dianggap ‘musuh'” —Ansyaad Mbai, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme

“Pengirim 3 bom buku diduga intelijen hitam. Intelijen ini ditengarai mengirim bom buku untuk memojokkan terdakwa teroris Abu Bakar Ba’asyir. Intelijen hitam adalah gerakan intelijen tanpa instruksi resmi atau bergerak sendiri yang ingin memojokkan kalangan tertentu, dan saya lihat yang dipojokkan adalah Abu Bakar Ba’asyir. Waktunya sedang tepat, bersamaan dengan masa sidang Ba’asyir”– Mustofa B Nahrawardaya, Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum Pusat

“Analisa saya condong pada skenario intelijen. Karena yang bisa melakukan ini cukup profesional. Kalau nggak intelijen ya teroris” — Suripto, pengamat intelijen dan petinggi PKS

“Kami tengah mendalami kiriman tiga bom berbentuk buku kepada Kepala Badan Narkotika Nasional Gorries Mere, Ulil Abshar Abdalla selaku aktivis Jaringan Islam Liberal, dan Ketua Umum Pemuda Pancasila Yapto. BIN telah bekerja keras mencegah terjadinya teror melalui bom selama ini.  Namun tentu tidak mudah mengungkap suatu kejahatan, apalagi mereka melaksanakannya secara tertutup. Walau begitu, kami tentu berusaha membongkar karena berkali-kali membongkar” — Sutanto, Kepala Badan Intelijen Negara

“Selain melakukan pelacakan ke sejumlah desa, kami juga telah memeriksa database alamat. Namun hingga kini juga tidak ditemukan. Meski tak menemukan alamat seperti yang tertera mulai besok kami akan melakukan pelacakan berjenjang. Yaitu dari tingkat RW dan RT” —Muliadi, Camat Ciomas Bogor

“Perilaku kekerasan bukanlah karakter bangsa Indonesia. Aksi bom semacam itu jelas terencana. Pemerintah harus mengusut aksi tersebut. Pelaku pemboman harus ditindak tegas.” — Said Agil Siradj, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

“Bom tidak memiliki kaitan dengan aktivitas Ulil sebagai fungsionaris Partai Demokrat. Bisa diduga berkaitan dengan aktivitasnya sebagai pimpinan JIL. (Ancaman) berasal dari kelompok fundamentalis” — Jafar Hafsah, Ketua Fraksi Demokrat DPR RI

“Itu terlalu jauh. Bagaimana bisa membayangkan itu ada kaitan dua hal itu (Bom Buku dan Berita The Age Australia)? Presiden SBY telah mendapat laporan mengenai perkembangan teror tiga bom. SBY prihatin dengan kejadian yang telah menyebabkan sejumlah orang termasuk anggota polisi mengalami luka-luka itu. Pihak kepolisian diminta segera menginvestigasi dan mengusut tuntas kasus ini. Kita tidak bisa membiarkan aksi kekerasan apalagi sampai menimbulkan korban” — Julian A Pasha, Juru Bicara Presiden SBY

“Saya kira belum bisa dikatakan motifnya sekarang. Belum bisa dikatakan motif akar permasalahannya dan terburu-buru kalau dikatakan apakah ini motifnya politik atau balas dendam dan sebagainya. Belum juga bisa memastikan apakah benar pelaku teror ini berniat untuk membunuh orang yang menerima paket. Kami siap memback-up Polri bila dibutuhkan” — Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan (Menhan)

“Kita tidak ingin terlalu dini (menyimpulkan-red), apakah bom ini terkait dengan siapa, motifnya apa, oleh siapa karena proses penyidikan sedang bejalan, marilah kita tunggu. Kita berharap semua cepat untuk diungkap ke publik, itu harapan kita semua” — Djoko Suyanto, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam)

3 Comments

Tanzil - 17. Mar, 2011 -

ini tanggapan saya sebagai orang buku :

Buku memang memiliki daya ledak yang bisa mempengaruhi pembacanya. Meneror orang2 yg tertentu yang suka membaca dengan bom buku adalah perbuatan yang sia-sia karena yang bisa mempengaruhi atau merubah pikiran mereka bukanlah ledakan dari bom buku melainkan buku yang dibacanya.

Tanzil, book blogger & book reviewer

Tanzil - 17. Mar, 2011 -

revisi:

ini tanggapan saya sebagai orang buku :

Buku memang memiliki daya ledak yang bisa mempengaruhi pembacanya. Meneror orang2 tertentu yang suka membaca dengan bom buku adalah perbuatan yang sia-sia karena yang bisa mempengaruhi atau merubah pikiran mereka bukanlah ledakan dari bom buku melainkan buku yang dibacanya.

Tanzil, book blogger & book reviewer

IBOEKOE - 17. Mar, 2011 -

hehehehe, penerima buntelan dan paket buku angkat kutipan. Yang belum dikomentari, perasaan terdalam sebagai penerima buntelan….

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan