-->

Kronik Toggle

Foke "Kecolongan" Anggaran PDS Disunat!

JAKARTA–Nasib Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin yang terletak di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) kini sedang berada di ujung tanduk. Dengan anggaran hanya Rp50 juta per tahun, tempat penyimpanan 48 ribu naskah sastra karya anak bangsa yang didirikan HB Jassin ini terancam ditutup.

Fauzi mengaku menyesal adanya penurunan anggaran yang terjadi untuk PDS HB Jassin. Ia menyatakan dirinya sama sekali tak tahu menahu bahwa anggaran tempat arsip tersebut dipangkas hingga kini hanya memiliki anggaran Rp50 juta per tahun.

Melihat realitas tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo pun angkat bicara. Ia menyatakan hal tersebut seharusnya tidak perlu terjadi pada PDS HB Jassin yang berperan sebagai tempat pemeliharaan arsip budaya bangsa.

“Ini merupakan pusat dokumentasi arsip yang sangat berharga, tidak pantas rasanya pusat dokumentasi mendapat porsi yang begitu rendah sebagai pusat kebudayaan di Jakarta,” ucap Fauzi, Senin (21/3/2011), di Balaikota, Jakarta.

Fauzi mengaku menyesal adanya penurunan anggaran yang terjadi untuk PDS HB Jassin. Ia menyatakan dirinya sama sekali tak tahu menahu bahwa anggaran tempat arsip tersebut dipangkas hingga kini hanya memiliki anggaran Rp50 juta per tahun.

“Saya merasa system monitoring itu tidak jalan karena tidak mendapat laporan juga bahwa anggarannya diturunkan. Saya berangkat dari realita bahwa anggaran HB Jassin tidak turun,” tuturnya.

Fauzi melanjutkan meski keputusan pemangkasan anggaran PDS HB Jassin melalui SK Gubernur akan tetapi dirinya tidak mengetahui detil pemangkasan tersebut.

“Memang dari SK Gubernur, tapi saya tidak tahu. Memang saya tidak memeriksa satu persatu rincian SK gubernur tadi,” ujarnya.

Menurutnya, rincian SK gubernur tersebut seharusnya diteliti terlebih dulu secara sistematis oleh asisten. Namun, hal tersebut tidak terjadi sehingga anggaran pun akhirnya dipangkas. Ia mengungkapkan bahwa keberadaan PDS HB Jassin masih sangat diperlukan negeri ini. Pasalnya, tempat itu menjadi pusat dokumentasi sastra yang selalu dijadikan referensi mahasiswa hingga peneliti internasional.

“Dulu Pak Jassin menyerahkan sepenuhnya ke pemda DKI. Ketika itu, sayalah yang memberikan anggaran pertama 600 juta pada waktu itu. Tapi fungsi pengawasannya tidak jalan,” tandas Fauzi.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan