-->

Kronik Toggle

Dua Perpustakaan DAK di Batujajar Terbengkalai

NGAMPRAH, (PRLM).- Pembangunan dua ruang perpustakaan bersumber dana alokasi khusus (DAK) Bidang Pendidikan 2010 di Kecamatan Batujajar, masing-masing di SDN Batujajar 2 dan SDN Giriwangi, terbengkalai. Pemborong meninggalkan begitu saja kedua bangunan tersebut sejak dua bulan lalu. Padahal, projek fisik DAK tersebut mestinya sudah tuntas paling lambat Desember tahun lalu.

Kepala Sekolah SDN 2 Batujajar Cucu Fathonah menuturkan, projek pengerjaan ruang perpustakaan baru dimulai akhir Desember 2010. Enam pekerja mulai membangun pada awal Januari. Baru beberapa pekan bekerja mereka menghilang begitu saja. “Tidak ada pemberitahuan apapun kepada kami. Mereka pergi begitu saja. Bangunan yang baru setengah jadi ini ditinggal tanpa kejelasan,” ujarnya, Rabu (30/3).

Ruang perpustakaan di kompleks sekolah ini baru selesai 50 persen. Keempat dinding sudah berdiri, tapi atapnya belum terpasang. Begitu pula dengan jendela dan pintu. Karena kondisi demikian, kiriman buku bersumber DAK terpaksa ditumpuk di ruang usaha kesehatan sekolah (UKS). Para siswa tak kunjung bisa memanfaatkan fasilitas baru tersebut.

Di SDN Giriwangi, kondisi serupa ditemukan. Projek pembangunan ruang perpustakaan di sekolah ini bahkan telah terbengkalai lebih dari dua bulan. Sampai saat ini baru 60 persen pembangunan terselesaikan. Empat dinding sudah berdiri dan separuh atap tuntas dikerjakan. “Saya juga bingung harus bagaimana. Pemborong pergi begitu saja. Padahal, perpustakaan ini amat penting artinya buat sekolah kami yang selama ini belum punya ruang perpustakaan,” ucap Kepala Sekolah SDN Giriwangi Mohammad Ateng Jaelani.

Baik Cucu maupun Ateng mengaku sudah melaporkan permasalahan ini ke berbagai instansi. Mereka sudah memberitahu Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan Batujajar, melapor ke Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora), dan bahkan mengeluh kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bandung Barat. Hasilnya nihil.

“Kata mereka, projek berhenti karena pemborong projek ini tengah bermasalah hukum. Nanti projek diteruskan kalau permasalahan sudah beres. Tapi itu kapan persisnya, tak ada yang berani memberi tahu,” papar Cucu.

Kepala UPTD Pendidikan Batujajar Adung Mulyadi mengaku tak bisa berbuat apa-apa menyikapi keterbengkalaian dua projek perpustakaan DAK tersebut. Sistem tender yang digunakan membuat segala urusan teknis diserahkan ke pemborong. Petugas UPTD tak lagi bisa secara teknis bertanggung jawab dan mengawasi.

Adung memastikan, dari delapan sekolah penerima bantuan DAK, permasalahan ‘hanya’ ditemui di dua sekolah tersebut. Enam projek yang lain tuntas dikerjakan. “Apa yang terjadi di Batujajar ini yang terbaik di Kabupaten Bandung Barat. Silakan cek, di kecamatan lain. Pasti lebih banyak yang belum tuntas,” tuturnya.

Wakil Ketua Komisi D DRPD Kabupaten Bandung Barat Asep Hendra Maulana mengaku terkejut dengan temuan pembangunan dua ruang perpustakaan DAK yang terbengkalai di Batujajar. “Kami sudah lama tak turun ke lapangan. Laporan dari masyarakat juga tak ada. Temuan ini mengagetkan juga. Kami akan segera cek ke lapangan. Bagi masyarakat yang mengetahui adanya ketidakberesan di sekolah lain, silakan segera melapor ke kami,” ungkapnya. (A-165/A-120)***

*) Disalin dari situs berita Pikiran Rakyat, Rabu, 30/03/2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan