-->

Tokoh Toggle

Didik Nurhadi: "Saya sakit melihat buku"

Didik itu priyayi. Orang yang mempunyai status sosial tinggi dan identik dengan tubuh gemuk. Saya kagum dengannya yang memperolok priyayi lewat karyanya. Didik itu samalah dengan Umar Kayam, penulis novel Sang Priyayi itu. Lagi pula mereka sama-sama dari Ngawi — AGUS DERMAWAN T

Didik NurhadiSaya itu membaca teks. Tapi di luar buku juga saya membaca. Karena itu saya tidak suka baca. Selain alasan di dalam dan di luar teks keterbacaan, juga soal kepala ini. Dalam waktu 15 menit kepala ini sakit ketika mata memelototi buku. Bukan saja sekarang. Dari dulu sudah sakit kalau saya melihat buku.

Sewaktu SD mungkin belum sakit melihat buku. SMP masih lumayan. Tidak sakit-sakit amat. Walaupun buku cerita masih nyantol. Dengan nilai bahasa Indonesia konstan delapan. Matematika lari di bawah delapan. SMP makin menurun. Makin bodoh saya di SMP Ngawi 2 itu.

Sejak itu saya makin sakit dengan buku. Sejak itu saya tidak tahu jenis buku apa lagi yang masih saya suka. Dan bapak saya. Bapak saya sangat suka buku. Tentang kehidupan. Tentang tujuan hidup manusia. Tentang yang begitu-begitu. Aneh, bapak saya suka buku tapi tak pernah saya lihat dia baca buku. Saya yakin itu. Karena nggak ada buku dalam rumah itu. Atau saya yang aneh. Atau buku itu disimpan di suatu tempat yang teratas. Di loteng. Di para-para. Mungkin. Atau maklum. Karena tahu sendiri bapak saya tentara.

Berpesan bapak kepada saya. Bapak tahu saya tak suka baca dan sakit dengan buku. Sangat tahu itu. Makanya  bapak saya yang tentara itu mengajak tak usah banyak baca. Tak usah suka-suka amat dengan buku. Yang penting perhatikan baik-baik pengalaman. Belajar dari kenyataan. Banyak main. Amati hidup si A, maka mainlah ke A. Lihat hidup si B, berangkat mainlah ke si B. Jadi saya rasa-rasa bapak saya tentara itu orang baik juga.

Saya lalu sadar, itu kan dasar melukis. Mengamat-amati. Melihat-lihat. Semuanya begitu. Seniman tak boleh menghapal. Seniman menggambar. Menggambar itu mengamati dan melihat. Seniman itu dari hati naik ke mata. Dari pikiran turun ke mata. Tidak ke mulut. Tidak ke mana-mana. Semuanya diakhiri dengan gambar. Benci kepada si anu, saya gambar. Merasa aneh kepada si anu, saya gambar. Gambar dan gambar. Semua buku tulis selalu gambar dan gambar. Ada sisa biasanya di atas atau di bawah buku tulis pelajaran. Itu jatah gambar. Sesak itu buku tulis. Sesak gambar.

Karena itu pilihan utama saya sekolah Institut Seni Indonesia atau ISI itu. Kampus gambar. Kampus lukis.

Di situ saya sudah membuat figur-figur yang besar-besar itu. Sudah lama sekali. Entah mengapa begitu. Saya juga tidak tahu ada yang menggambar seperti itu. Karena memang saya tidak membaca buku di ISI. Iya toh. Karena memang saya tidak suka buku waktu sekolah di ISI. Makanya saya tak bisa menjelaskannya. Keluar. Keluar begitu saja. Simbol-simbol itu. Bahwa yang kaya dan serakah saya buat satire begitu. Dan itu terus saja yang keluar. Yang besar-besar. Yang semok-semok. Pendek. Perut-perut besar. Tangan-tangan besar. Kaki-kaki besar. Dengan kepala yang kecil.

Itu semua bukan dari buku. Bukannya tidak suka. Saya suka buku. Saya juga beli. Ada rak buku saya di belakang kalau mau lihat. Tapi saya sakit melihatnya lama-lama.

Pengalaman. Itu andalan saya. Kenyataan. Perdebatan dengan teman-teman soal sosial. Main ke tetangga. Main dan ngobrol ke sesama seniman. Seniman yang nggambar. Bukan seniman yang hidup dari buku dan menjadi kurator. Seniman yang begini gambarnya biasanya jelek-jelek. Maaf ini. Saya tidak ngejek. Memang faktanya begitu. Terutama teman-teman sekelas saya dulunya. Selalu bicara. Selalu ngoceh. Dari A, B, sampai Z. Teori-teori dihapalnya. Tercengang-cengang saya mendengar uraian artistiknya. Tentang lukisan ini dan lukisan itu. Tapi melihat lukisan yang dibuatnya, ya kayak telo. Begitu dahsyat bercerita tentang lukisan. Saking dahsyatnya bercerita, lukisannya jadi jelek. Heran saya. Jarang sekali ada yang imbang: baca bukunya hebat, lukisannya juga hebat. Jarang. Bukan tak ada. Saya melihat satu dua teman dekat saya begitu. Imbang. Pintar ngomong, karyanya juga bagus. Tapi itu hanya sedikit. Yang lainnya, ya makin suka buku, makin buruk lukisannya.

Saya pun makin menghindar dari buku. Karena mendapatkan contoh seniman yang suka baca buku. Makin suka dia baca buku, makin jelek lukisannya. Jika begitu, saya ke pengalaman saja. Dari melihat studio teman. Dari hasil perdebatan dengan teman. Dari berbagi kesukaan dengan teman. Tetangga. Itu inspirasi datang. Saya tuangkan. Bukan mencontek. Karena yang keluar tetap simbol-simbol itu. Yang besar-besar. Yang semok-semok. Perut-perut besar. Tangan-tangan besar. Kaki-kaki besar. Dengan kepala yang kecil.

Jangan tersinggung ya. Bukan buku. Saya sakit dengan buku. Saya lebih konsentrasi kalau dengar omongan. Seperti kisah tetangga saya yang jatuh selama jadi pekerja kasar di luar negeri. Menjadi gila bahkan. Karena tidak mampu. Itu contoh-contoh kecil. Betapa saya lebih menyukai cerita-cerita langsung daripada mendapatkannya di buku. Sakit saya dengan buku. Apalagi sekarang. Kepala saya sudah dijahit-jahit begini. Makin sakit dengan buku.

Saya ingin mengamalkan kata bapak saya saja: membaca itu bukan hanya baca buku. Mengamati sesuatu itu membaca namanya. Yang penting kamu catat. Karena saya seniman, catatan saya itu gambar. (Muhidin M Dahlan)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan