-->

Resensi Toggle

Cine Book Club: Bulan Film Buku Tanah Air

Studio 1 Gelaran Indonesia Buku Jalan Patehan Wetan No. 3, Alun-Alun Kidul, Keraton, Yogyakarta, Indonesia

gieYOGYAKARTA–Tanpa terpengaruh segala hiruk pikuk impor mengimpor kemarin, Cine Book Club tetaplah santai dan memutar film segala rupa. Akan tetapi bila bulan ini kami sepenuhnya memutar film dalam negeri, itu bukanlah perkara politis. Sesuai dengan kebijakan kami untuk memutar film terkait momentum, maka sejalanlah pilihan tersebut karena Maret merupakan Bulan Film Nasional.

Tak ada salahnya pula , selama bulan Maret, kita bisa bersikap lebih kontemplatif, hingga akhirnya meninjau kembali, ke arah mana sebetulnya karya film kita menuju. Karya-karya yang kami putar merupakan film populer pada masanya, dan kebanyakan kontemporer. Namun tetap tak melupakan kriteria kami, harus melibatkan buku dan juga proses kreatif.

Berikut jadwal pemutaran kami bulan ini:

1. “Gie” – 5 Maret 2011 ( sutradara Riri Reza; 147 min)

Siapa tak kenal Soe Hok Gie dan “Catatan Seorang Demonstran”-nya? Sempat menjadi kontroversi pada tahun 2005 sebab Gie-nya Riri Reza dianggap tak akurat secara historis. Namun, kafilah tetap berlalu. Berhasil menggondol banyak penghargaan di FFI 2006, inilah Gie yang dipotret dari sudut pandang personal, bahkan cenderung apolitis katanya. Silahkan Anda nilai lagi setelah lima tahun pemutaran perdananya.

2. “Telegram” – 12 Maret 2011 (Sutradara: Slamet Rahardjo Djarot; 82 min)

Diangkat dari novel Putu Wijaya, sutradara terpandang Slamet Rahardjo Djarot menampilkan ilusi yang dialami seorang wartawan di ibukota terkait banyak pilihan hidup. Berkisar tentang Daku (dimainkan Sujiwo Tejo), seorang lajang dari Bali yang bekerja sebagai reporter di Jakarta. Daku berhubungan dengan Norma (Anne J. Cotto), seorang wanita yang terpaksa menjadi pelacur karena kemiskinannya.  Di sisi lain. Daku bersembunyi dan terperangkap dalam kehidupan khayalnya yang indah dengan Rosa (Ayu Azhari), perempuan muda yang cantik dan mampu mengobati rasa sepi yang membakar dirinya. Telegram sepertinya tak akan lagi menjadi sekadar benda pos usai anda menonton film ini.

3. Novel Tanpa Huruf “R” – 19 Maret 2011 (Sutradara: Aria Kusumadewa; 85 min)

‘Novel Tanpa Huruf R’ adalah sebuah kisah antara dunia nyata dan tak nyata yang tak jelas batas dan alasannya. Drum (Agastya Kandou) adalah seorang pria dengan masa lalu yang berliku-liku dan diwarnai kekerasan. Ibunya hilang di laut ketika mereka lari dari desanya. Sementara ayahnya meninggal tertabrak mobil di depan matanya. Kekasihnya, seorang gadis keturunan Tionghoa mati dibantai dalam kerusuhan.  Karya Aria yang lebih matang setelah “Beth” untuk kemudian disusul “Identitas”. Pantas disimak dan diperbincangkan lebih lanjut.

4. “Fiksi” – 26 Maret 2011 (Sutradara: Mouly Surya; 90 min)

Anda boleh merasa pernah menyaksikan Fiksi. Atau malah belum pernah sama sekali dan hanya mendengar gegap-gempitanya di mana-mana. Tidak bijak menilai seuatu tanpa kita mengetahuinya sendiri.  Cerita Alisha (Ladya Cheryl) wanita berumur 20 tahun yang membuntuti Bari (Donny Alamsyah) hingga kemudian terobsesi dengannya, representatif sekali sebagai film tentang buku, seuai kriteria kami. Baik buruk kualitasnya? Mari kita bicarakan bersama di akhir pemutaran saja.

Setiap pemutaran dimulai pukul 19.00 tepat, tentunya di Gelaran Indonesia Buku, Patehan Wetan 3, Alun-Alun Kidul, Kraton, Yogyakarta. Ajak kawan, pacar, ayah-ibu, adik, kakak, paman, bibi, siapapun dia. Sebab semua pemutaran gratis, tersedia pula makanan dan minuman, serta tak lupa, beragam hadiah menarik bagi peserta diskusi usai pemutaran yang beruntung. Mari Menonton Buku, Mari Membaca Film! (Ardyan M Erlangga)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan