-->

Kronik Toggle

Aktivis #Koin Sastra Menyerahkan Alat Digitalisasi pada PDS HB Jassin

JAKARTA – Digitalisasi 20.000 dokumen koleksi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin masih terkendala. Bantuan sejumlah alat dari gerakan Koinsastra yang diserahkan, Selasa (29/3), belum mencukupi untuk memenuhi target awal pendigitalisasian yang dipatok selesai enam bulan.

Selasa siang, perwakilan sukarelawan Koinsastra menyerahkan 6 komputer, 3 mesin pemindai, dan 2 printer ke pengelola PDS HB Jassin. Itu untuk mendigitalisasi literatur. ”Ada 57 sukarelawan yang mendaftar melalui Koinsastra,” kata Krishna Pabichara, salah satu penggagas Koinsastra.

Untuk memenuhi target awal enam bulan selesai, perlengkapan Koinsastra masih kurang. Setidaknya mereka butuh 10 komputer, 5 pemindai, 3 printer, dan 1 mesin fotokopi.

Rencananya, pada 13 April Koinsastra akan menggelar puncak malam penggalangan dana di Bentara Budaya Jakarta. Konser itu melibatkan banyak musisi dan seniman Jakarta.

Gerakan Koinsastra yang digalang masyarakat untuk menyelamatkan PDS HB Jassin terus bergulir. Selain Jakarta, menyusul 11 kota, di antaranya Denpasar, Malang, Surabaya, Semarang, Banjarmasin, dan Kendari.

Gerakan itu membuka situs web di www.PDS-HBJassin.com.

Publik tergerak

Gerakan itu menarik simpati publik. Karyawan perpustakaan Freedom Institute, misalnya, mengumpulkan uang untuk membeli komputer dan pemindai. Lima orang yang saling kenal di Facebook iuran membeli 1 printer.

Di Denpasar, mahasiswa Universitas Udayana hingga kemarin mengumpulkan dana Rp 1,1 juta. Dari pembacaan cerpen di Kalimalang, Jakarta Timur, terkumpul Rp 1,247 juta.

Pelibatan swasta

Kondisi PDS HB Jassin mengundang perhatian pengusaha, salah satunya Ciputra. Pengusaha properti itu menyumbang Rp 100 juta yang diserahkan kepada pengelola PDS HB Jassin. ”Saya penggemar karya Chairil Anwar, Taufiq Ismail, dan Kahlil Gibran. Begitu mendengar PDS HB Jassin terancam tutup, saya sedih sekali,” kata Ciputra.

Pemilik dan pengelola manajemen Teater Koma, Ratna Riantiarno, mengatakan, peran swasta sangat penting untuk menghidupkan kegiatan kebudayaan di Tanah Air. ”Pemerintah perlu mendorong agar perusahaan swasta mau mengalirkan dana ke pusat dokumentasi. Beri keringanan pajak bagi mereka,” katanya.

Sumber: Kompas, 30 Maret 2011, “Rencana Digitalisasi Koleksi Terkendala”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan