-->

Kronik Toggle

Moonlight Sonata Ala Wina Bojonegoro

IBOEKOE, SURABAYA-Iringan biola yang dimainkan Filesky dan aksi teaterikal Indri dari jurusan Teater
SMKN 9 mengiringi peluncuran The Souls:Moonlight Sonata, tetralogi pertama novel
karya Wina Bojonegoro di Metropolis Room, Graha Pena, Surabaya hari ini (5/2).

Jika ada orang bilang bahwa tugas sastra di antaranya adalah untuk memperhalus
sebuah pesan dan makna serangkaian kejadian, The Souls: Moonlight Sonata berhasil
melakukan tugas ini secara baik.

Lebih dari sekadar mengungkap serangkaian kejadian, Wina Bojonegoro membuat
novel ini menjadi sebuah perayaan imajinasi dan kekayaan rasa antara kepolosan,
perkara hidup, cinta, dan kasih sayang yang dibalut secara apik. Kekuatan energi alam,
jiwa-jiwa yang hidup, mengantarkan para tokoh memasuki dunia yang penuh haru-biru
dan pergolakan. Dan, “Musiklah yang menyatukan para pecinta dan cintanya”.

The Soul adalah novel 4 seri yang berkisah tentang perjalanan sebuah warisan biola
selama 7 turunan generasi. Dia datang untuk mencari garis darah, dimana cinta dan
kasih sayang dipertanyakan sepanjang hidup seorang anak manusia.
Moonlight
Sonata adalah serpihan pertama. Berkisah tentang biola yang menjadi alat pemersatu
bagi anak-anak manusia. Kelahiran yang tak dikehendaki pun berubah menjadi sebuah
entitas yang mewarnai kehidupan seorang perempuan muda bernama Padmaningrum.

Endang Winarti yang lebih akrab dipanggil Wina Bojonegoro, memang seorang
cerpenis yang berasal dari kota Bojonegoro. Dalam The Souls, Ia merangkai cerita
tentang kehidupan Padmaningrum yang menggelinding kearah berbeda seiring
perjalanan sang biola bersejarah yang memiliki perjanjian leluhur. Ketenaran dan
kemahiran akhirnya justru menggelinding kearah jurang kiamat. Prestasi dan ketenaran
yang semula direncakan sebagai medan magnit bagi sang ayah, ternyata menjadi
medan magnit bagi cinta lain, cinta yang absurd. Tapi toh roda kehidupan harus terus
berjalan, perjuangan belum selesai. Hidup baru saja dimulai, meskipun berdarah. Kata
siapa kematian adalah akhir? Bagi James dan Padma, kematian justru awal segalanya.

Dr. Sugeng Susilo Adi, M.Hum.,M.Ed , Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Brawijaya yang menjadi testimoner pembaca novel The Souls mengatakan ,

“Membaca Wina Bojonegoro ini adalah membaca rangkaian kata-kata hidup yang
magis mengalir lewat kalimat yang tali-temali menjadi paragraf yang hidup pula. Dan,
yang paling saya suka dari tulisan Wina Bojonegoro adalah monolog ‘aku’ bahwa apa
yang ada di dalam hati sang ‘aku’ dia tampilkan dalam rangkaian kata-kata magis yang
sangat-sangat enak disimak. Ungkapan perasaan ‘aku’ yang dia tampilkan terkadang
nakal, menggelitik, filosofis, menyindir ke-’ego’-an kita”.

Wina berharap novel pertamanya ini akan diterima baik oleh pembaca sehingga ia akan
mampu menuliskan serial selanjutnya dari The Soul(ND)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan