-->

Tokoh Toggle

Michan, Si 'Kutu Kupret Sendal Jepit'

michan-insBandung – Penggemar novel kocak atau blogger yang gemar blogwalking pasti pernah membaca novel ‘Kutukupret Sendal Jepit’ atau membaca tulisan di blog toramarimelompat.multiply.com. Sosok penulisnya yang bernama Mita Supardi atau yang akrab disapa Michan pun sudah tidak asing lagi.

Ternyata, proses pembuatan novel pertamanya itu tidak sengaja dan cukup singkat. Salah satu pembaca blognya mengirimkan email yang isinya copy paste tulisan-tulisan di blog Michan sebanyak 600 halaman. Pembaca tersebut memaksa Michan untuk mengirimkan tulisan tersebut ke salah satu penerbit.

“Ya udah akhirnya saya kirim, tapi tanpa ngarepin ini beneran atau enggak. Eh ternyata ada yang nelepon, katanya tulisan saya layak untuk dinovelkan. Asalnya saya enggak percaya sampai saya menutup telepon dari penerbit itu. Enggak tahunya, orang yang nyuruh saya ngirim tulisan itu salah satu editor di penerbit itu,” cerita Michan kepada detikbandung.

Michan termasuk penulis yang beruntung karena proses editing hingga terbit tidak terlalu lama. “Kalau kata temen-temen sih cepet. Dari Februari 2008 sampai Juli 2008, alhamdulillah sudah laku 3.000 buku. Teman saya ada yang sampai setahun, dua tahun belum terbit juga,” terang gadis kelahiran Bontang, 12 Juni 1988 ini.

Menurut Michan sejak novel perdananya tersebut beredar di pasaran, sudah dua tahun ini dia vakum dan belum mencoba menerbitkan novel genre serupa dengan novel humor pertamanya.

“Meski sudah dua tahun vakum, tapi pembaca masih tetap saja ingat saya. Banyak yang nanya di twitter, di facebook kapan novel kedua saya diluncurkan,” ujar Michan.

Sebetulnya menurut Michan, ia sudah mengantongi beberapa tulisan, dan siap untuk meluncurkan novel keduanya. Namun ia harus mengalami beberapa kali revisi sehingga jeda novel pertama dan kedua terlalu lama.

Saat ini Michan sedang menyelesaikan novel fiksi dan menulis prosa. “Selain itu, saya aktif juga di komunitas fiksiminiers Bandung,” tutur Mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional Unpar ini.

Rencananya Michan akan menerbitkan buku fiksinya tersebut melalui jalur indie. Bukunya pun rencananya akan dicetak dalam jumlah yang tidak banyak.

“Sebenarnya sih lebih enak di penerbit major karena distribusi mereka yang mengatur, pajak juga sudah diurusin. Paling cape saat promo bukunya saja,” kata Michan.

Sering Mendapat ‘Surat Cinta’ dari Penerbit

Michan gemar menulis sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Selain gemar menulis, ia juga gemar membaca. Hanya saja di Bontang, kota kelahirannya saat itu sulit untuk mendapatkan buku.

Karena itulah gadis kelahiran 12 Juni 1988 ini bertekad suatu saat harus bisa menghasilkan buku dari tulisannya sendiri. “Dulu di Kota Michan itu enggak ada toko buku. Setiap weekend selalu nyari ke Samarinda. Itu juga butuh waktu 3 sampai 4 jam perjalanan,” tutur gadis berkacamata ini.

Saat SMP kelas 1, Michan pernah mengirim naskah novel ke penerbit-penerbit. Tulisannya terkumpul 150 lembar kertas A4 spasi 1.

Namun saat itu keberuntungan belum memihak kepadanya. Ia pun sering mendapat ‘surat cinta’ dari penerbit. “Bukannya dapat balasan positif, malah dapat ‘surat cinta’. Surat cinta itu istilah untuk surat penolakan dari penerbit. Sempat frustasi saat itu,” terangnya.

Untungnya, rasa frustrasi yang dialami Michan tidak berkepanjangan. Saat ia duduk di bangku SMA, ia mencoba kembali menulis dan membuat buku sendiri.

“Michan bikin buku, di print gitu, terus di-fotocopy. Dikasiin ke teman-teman responnya bagus. Tapi tetap saat itu enggak mau ngasiin ke penerbit,” ceritanya.

Baru di tahun 2008, Michan beruntung mendapat kesempatan membuat buku perdananya ‘Kutu Kupret Sendal Jepit’.

Michan bisa dibilang sukses menjalani kehidupan mandiri di Bandung. Orang tua dan adik-adiknya saat ini masih tinggal di Bontang. Sejak SMA, Michan hijrah ke Bandung dan mulai indekos sendiri.

“Orang tua sebetulnya orang Bandung, dua-duanya asli sunda. Cuma ayah saja kerja di Bontang, dan saya juga lahir di Bontang,” ujar mantan Duta Wisata Putri Bontang 2001 ini.

Meski kadang sulit hidup jauh dari orang tua, namun menurut Michan, hal tersebut justru membuatnya lebih mandiri dan bisa mengekspresikan diri. “Kenapa milih bertahan di Bandung walaupun jauh dari orang tua, karena akses di Kota Besar ini kan gampang. Lebih gampang untuk berkreasi,” ujar juara ke-3 Kotex Be-You 2008 ini.

Selain menulis, gadis berbakat ini juga gemar bermain musik, menulis lagu, dan bikin
film. Semua itu menurut Michan, karena ia memang sangat mencintai dunia seni.

“Apapun yang berhubungan dengan seni, saya suka. Saya juga ingin konsisten di nulis,
tapi saya inginnya mengalir begitu saja. Menulis tanpa beban,” kata Michan.

*) Detiknews,10 Februari 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan