-->

Lainnya Toggle

Kepada Pemuja Pram

Oleh: Edward Samadio Kennedy a.k.a Post Panjoel Syndrom

Panjul

REDAKSI: 6 Februari (1925) adalah tanggal lahir prosais  Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan asal Blora ini wafat pada 30 April 2006. Esei ini sekaligus sikap redaksi Indonesia Buku untuk memperingati hari lahirnya. Lahir dari tangan seorang anak muda harapan bangsa.

Terlalu banyak orang yang memujamu. Seperti nasib kebanyakan pahlawan yang menentang kedegilan, membenci habis semua-mua kefanatikan, kau justru ditelanjangi dalam jutaan ritus pemberhalaan. Namamu Pramoedya, Pramoedya Ananta Toer. Kelak dunia memanggilmu Pram: seorang jenius lagi bengis, seorang pembangkang pula romantis.

Aku tahu kapan kau lahir, tetapi aku tak pernah tahu dan tak pernah mau tahu kenapa kelahiranmu perlu dikenang. Asumsiku: semua manusia (di)lahir(kan). Semuanya, bahkan batu, bahkan Tuhan, lalu apa pula pentingnya merayakan (tanggal) kelahiran?

Bukan berarti hidupku hanya untuk yang-penting-saja, tetapi, apalah guna merayakan kelahiran seorang manusia, padahal, kita harus “adil sejak dari pikiran”? Dan, tentu saja, akan membuang waktu jika semua manusia merasa perlu untuk merayakan hari lahir manusia lain yang entah siapa.

Para pemujamu tentu akan habis-habisan menangkal asumsiku. Pemujamu: sebarisan orang yang percaya bahwa hanya kaulah manusia di negeri yang penuh sesak dengan omong kosong ini, yang yakin tanpa ragu, bahwa nasibmu adalah nasib yang berwarna paling hitam, nasib yang terasa paling pahit, nasib yang terlihat paling buram. Nasib yang perlu diperjuangankan dan di doakan. Nasibmu adalah penegas kata-kata Stalin:

“Kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang hanyalah statistik.”

Apa yang kemudian banyak orang membanggakanmu, dalam pandanganku, adalah karena kau lebih dulu menolong dirimu: kau menulis. Menulis, menulis, menulis, menulis, menulis, dan menulis. Kau terus menulis ketika berpuluh kali kepalamu dikepruk oleh popor senapan dari prajurit yang berotak kabel dan bertangan setrum, yang ber-orangtua-kan presiden dan panglima perang. Kau terus menulis tanpa jeda, meski banyak bajingan fasis di negeri ini yang memperkosa habis-habisan harga dirimu, membunuhmu, menginjakmu, meludahimu, mengencingimu.

Dan kau tetap bangun.

Perlawananmu kau rangkai dari setiap abjad. Persetan peluru dan lars sepatu, kau ketik milyaran huruf, lalu kau bunuh semua-mua kemunafikkan tanpa darah dan daging tercecer. Apa yang kau lakukan adalah apa yang memang dibutuhkan untuk sebuah negeri pesakitan: epos kepahlawanan. Pahlawan adalah mereka yang selalu muncul dimana banyak orang tak mampu menolong dirinya sendiri.

Kau lalu adalah juragan bagi banyak pengecut. Seperti Arthur di Inggris yang dipilih oleh banyak prajurit Inggris demi melawan Viking dan Saxon, juga Romawi. Seperti Superman dari Antah Berantah itu. Seperti Pramoedya Ananta Toer…

Dari tiap huruf dan spasi, tanda baca dan kertas folio, dari sana epos kenabianmu kau ukir. Kau ukir dengan emas yang berlinangan dari telingamu yang penuh nanah, dari tulang belulangmu yang dari sana darah muncrat. Entah dari mana dosis nyali kau beli, kau terlalu berani.

Selalu ada “kau” dalam sebuah tragedi, sebagaimana hukum alam kita tahu: lawan bagi kekuasaan korup dan bangsat selalu adalah seorang manusia dengan keberanian tanpa limit.

Keberanianmu adalah keberanian yang tak sehat, dan karenanya tak logis, seperti sperma yang tak akan habis meski onani adalah makan setiap hari. Seperti udara yang selalu penuh, walaupun asap Honda Jazz dan Metromini adalah oksigen. Kau terlalu berani. Terlalu berani. Keberanian yang muncul dari sikap pasrah dan pesimis adalah keberanian yang tak punya batas. Keberanian untuk gagal dan sakit, kau adalah keduanya.

Tulisanmu kemudian termaktub dalam berpuluh buku, ada novel, ada biografi, ada keduanya. Lalu kesemuanya menjadi injil perlawanan tiap pemuda, tiap mahasiswa yang kelak menahbiskan dirinya sebagai seorang aktivis. Aktivis: orang yang selalu aktif.

Dalam negeri ini, aktivis adalah mahasiswa, atau post-mahasiswa yang rata-rata dari mereka terobsesi pada kemanusiaan dan moralitas yang indah, yang agung, yang selalu aktif menebar teror kepada pemerintah dengan berkoar-koar tentang rakyat dan kemiskinan dan tak lupa ikut berpartisipasi dalam demokrasi.

Kenapa bukan hiperaktif kalau begitu? Jangan tanya aku. Tanya Budiman Sudjatmiko, salah satu aktivis “didikanmu” itu yang kini menjadi salah satu borjuis sebuah partai bernama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, yang sampai sekarang masih dipimpin oleh anak perempuan seorang idolamu, partai yang satgasnya galak-galak tiap kali datang konvoi dan ramai. Seperti balita.

Cerita tentangmu juga menjadi heroin bagi pecandu kebencian pemerintah saat itu. Kau perlahan menjadi ikon, menjadi simbol. Namamu membuhul, buku-bukumu mahsyur, menjadi pembicaraan tiap mulut yang berbisik dan terdengar tiap telinga. Kau seperti ganja: candu yang membuat banyak orang selalu mau tahu meski sadar bahwa ganja adalah salah satu jalan paling mulus jika kita ingin mendapat stempel narapidana seperti Nurdin Halid.

Setiap orang kemudian berseru sepertimu tentang pentingnya berkarya, tentang perlunya menulis. Apa yang kau katakan mirip sabda seorang wali dengan banyak umat yang siap robek jantung untuk kau punya nama. Meski aku yakin, aku sangat-sangat yakin, bahwa bukan maumu untuk menjadi seperti itu, bukan hendakmu untuk dijadikan monumen pemberontakan yang selalu dibawa dan diarak ketika banyak orang bertempik sorak menjagal pemerintah.

Apa yang kau hendak perjuangkan adalah ‘kebebasan’, karena itu perlu ‘pembebasan’, bukan ‘pengidolaan’, lebih-lebih ‘pengukultusan’.

Tetapi itu terlambat. Namamu sudah terlanjur terpasung dalam pusara heroisme yang komikal di negeri ini. Mewangi, mengabadi. Seperti hymne Nationale yang menjadi bunyi ringtone Blackberry seorang mahasiswa pergerakan yang sedang asik diskusi tentang pergolakan Mesir dan Gayus Tambunan di Starbucks pada salah satu plaza terkemuka di Jakarta.

Maka dengan ini, Pram, harus kutuliskan kekalahanmu.

Kekalahan perjuanganmu, yang kini menjadi senyawa para pasifis hedonis dan mulitkulturalis itu: perjuangan pembebasan. Walau begitu, aku tahu kau paham, bahwa sejatinya, tiap pahlawan adalah orang-orang kalah. Orang-orang yang menuntut perlunya kemerdekaan, justru orang-orang yang dipenjarakan oleh ketakutan akan sirnanya kekuatan seorang pahlawan.

Aku menuliskan ini untukmu dalam sebuah malam Minggu yang riuh di sebuah kota dimana pendidikan dan selangkangan berlomba mencari konsumen, dimana keduanya adalah bagian dari pasar bebas dan globalisasi atas nama demokrasi. Kematianmu, Pram, adalah kemenanganmu. Dan aku bersyukur karenanya.

Sumber: Note Facebook Post Panjoel Syndrom dengan judul: “Karena Kematian Pram Kita Pantas Bersyukur”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan