-->

Resensi Toggle

Kabar Resensi Pekan Ketiga Februari 2011

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

Warta Kota

Warta Kota

Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main karya Rudi Badil dan Indro Warkop (KPG, Jakarta, 2010)

Resensi ditulis oleh Reza Akbar Felayati

Dimuat JAWA POS, 20 Februari 2011

Siapa tak kenal Warkop yang digawangi Dono, Indro, Kasino? Mereka adalah pelawak legendaris yang dipunyai Indonesia. Bahkan grup lawak sekelas Bajaj dan Project Pop menyebut grup Warkop sebagai terbesar sepanjang sejarah perlawakan. Bukan hanya merambah panggung dan radio, tapi juga dalam satu dekade 90-an, Warkop menguasai film komedi Indonesia. Buku ini sebagian besar berisi dokumentasi banyolan-banyolan personel Warkop sejak masih siaran di radio Prambors.


Pluralisme Menyelamatkan Agama-Agama karya Moh Shofwan (Samudra Biru, Yogyakarta, 2011)

Resensi ditulis oleh Haeri Fadly

Dimuat JAWA POS, 20 Februari 2011

Indonesia pada awal pembuka tahun ini dihujani oleh kekerasan agama yang memilukan. Salah satu yang tergugat adalah pemahaman kita atas agama. Buku ini menawarkan cakrawala baru dan sekaligus membongkar fosil radikalisme keagamaan yang sudah bersarang dalam benak sebagian kelompok. Sebab, radikalisme dan ekstremisme menjadi ancaman bagi masa depan peradaban Nusantara.


Untuk Indonesia Yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin

karya Ligwina Hananto  (Literati, 2010)

Resensi ditulis oleh Susie Evidia Y

Dimuat REPUBLIKA 20 Februari 2011

Tak ada manusia di dunia ini yang ingin hidup terjepit dalam kemiskinan. Semuanya ingin kehidupan yang mapan. Dan itu yang dicita-citakan oleh negara. Yaitu sebuah kelas masyarakat  yang kuat. Cirinya: memiliki sejarah kredit yang sehat, punya dana darurat, punya rumah sendiri, dan memiliki proteksi. Menurut penulisnya, masyarakat kelas seperti ini yang menopang kehidupan ekonomi negeri. Jika kelas menengah ini sehat, maka akan merembes ke kelas yang bawah. Benarkah? Wina membeberkannya dalam 100 langkah agar hidup tak miskin.


Notes From Qatar: Positive, Persistence and Pray

karya Muhammad Assad (Elex media Computindo, Jakarta, 2011)

Resensi ditulis oleh Utami Widowati

Dimuat KORAN TEMPO, 20 Februari 2011

Buku ini ditulis anak muda berusia 23 tahun dan lulusan University of Technology, Malaysia. Buku ini sendiri dikumpulkan dari pilihan tulisan terbaik Assad di halaman blognya. www.muhammadassad.wordpress.com sejak November 2001 dan dikunjungi 150 ribu orang tiap tahun. Dinamakan catatan dari Qatar karena ditulis ketika Assad tinggal di Qatar. Tulisannya renyah dan isinya macam-macam yang menyelimuti kehidupan Assad di negeri minyak itu.


Epistemologi Tafsir Kontemporer karya Dr Abdul Mustaqim  (LKIS, Yogyakarta, 2010)

Resensi ditulis oleh Musyafak Timur Banua

Dimuat SUARA MERDEKA, 20 Februari 2011

Di tengah ingar-bingar kekerasan atas nama agama, penting untuk melihat kembali pola penafsiran umat atas kitab sucinya. Khususnya, umat islam atas Alquran. Buku ini menganjurkan perlunya epistemologi baru yang meliputi metode dan pendekatan. Karena sungguh cilaka bila penafsiran diserahkan kepada watak primordialisme dan radikalisme. Buku ini menjawab mendesaknya tafsir Alquran yang menghidupkan Alquran untuk masa terkini. Studinya bertuuan menjalelaskan hakikat tafsir, metode, serta validitas tafsir di era kontemporer. Untuk usaha kontemporerisasi tafsir itu, penulis buku ini meramu pelbagai pemikir tafsir terkemuka, antara lain: Fazlur Rahman, Arkoun, Na’im, Hanafi, Asghar Ali, Abu Zayd, maupun Syahrur.


Menggapai Matahari karya Dermawan Wibisono (Inti Medina, 2010)

Resensi ditulis oleh oleh RR Masyitah

Dimuat KEDUALATAN RAKYAT, 20 Februari 2011

Novel ini mengisahkan perjalanan seorang anak miskin yang bertekad memperbaiki kehidupannya. Tekad ini diwujudkan  dengan belajar keras sehingga mampu menembus pendidikan yang baik hingga perguruan tinggi di sekolah terbaik negeri ini. Latar kisah ini di Banyumanik. Hanya sekian kilometer dari kota Semarang.


Putri Kandita: Kemelut Putri Prabu Siliwangi karya Aan Merdeka Permana (Edelwaiss, 2010)

Resensi ditulis oleh oleh Fadmi

Dimuat KEDUALATAN RAKYAT, 20 Februari 2011

Novel ini berlatar Kerajaan Padjajaran. Mengisahkan salah seorang putri Prabu Siliwangi yang mempersatuka Kerajaan Sunda dan Galuh. Kecantikan Putri Kandita yang memikat hati para satria di negerinya ternyata membuahkan petaka. Putri tercantik itu beserta ibunya, Nyi Sri Dewi Parangka Hayu terkena santet amat mengerikan dan menjijikkan, sehingga harus dibuang.


Message from an Unknown Chinese Mother karya Xinran Xue (Penerbit Buku Kompas, 2011)

Resensi ditulis oleh Maria Hartiningsih

Dimuat KOMPAS, 20 Februari 2011

Buku ini mempertegas posisi Xinran sebagai penulis tentang pelanggaran hak-hak asasi perempuan di China, sekaligus aktivis dan pekerja sosial melalui Yayasan Mothers’ Bridge of Love. Latar belakang sebagai wartawan membuat perspektif buku ini sangat tajam, gaya bertuturnya terukur, detailnya terinci, dilengkapi konteks politik pada setiap fakta yang diungkapkan. Karya-karya Xinran selalu menegaskan bahwa melalui kisah, tindakan manusia menjadi sejarah. Termasuk rasa bersalah akibat tindakan keji yang terus mengimpit, yang menyebabkan angka bunuh diri sangat tinggi di kalangan perempuan di China.

Hariman dan Malari karya Imran Hasibuan, Airlambang, dan Yosef Rizal (Q-Communication, 2011)

Dimuat TEMPO, Edisi 14 Februari 2011

Ada tiga nama yang selalu terkait dengan Peristiwa 15 Januari 1974 alias Malari: Soemitro, Ali Moertopo, dan Hariman Siregar. Dua nama pertama adalah jenderal yang bergesekan dan disebut-sebut berada di belakang kejadian yang mendorong pemerintah Orde Baru semakin sistematis melakukan represi. Sedangkan Hariman pemimpin mahasiswa yang melakukan demonstrasi, yang berakhir dengan kerusuhan. Banyak berharap bahwa buku ini berusaha membeberkan data-data soal gesekan Hariman dengan tentara. Tapi tidak. Malari hanya ditulis sekitar 40 halaman-mulai bab “Jalan Menuju Malari” sampai pengalaman di penjara. Sepertiga buku berisi kehidupan Hariman dari masa kecil sampai sekarang, sepertiga lagi tentang pandangan orang terhadap dirinya, dan dalam sepertiga terakhir buku dipaparkan tulisan-tulisan Hariman. Jadi, buku ini soal Hariman.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan