-->

Kronik Toggle

Diskusi Arsitektur Koprol

IBOEKOE, SURABAYA-Buku Arsitektur Koprol karya Anas Hidayat dibedah di dbuku bibliopolid Syrabaya, sabtu lalu (5/2). menghadirkan Pakar arsitektur ITS Prof. Dr.Ir. Josep Prijotomo, M.Arch dan budayawan Akhudiat, berikut ini transkrip dari diskusi itu.

Diana AV Sasa (Moderator):

Siang hari ini kita akan membincang sebuah buku karya arek Suroboyo, tentang Arsitektur yang masih jarang kita temui di Jawa Timur dan layak kita sambut dengan apresiasif. Buku ini adalah buah karya dari mas Anas Hidayat yang latar belakangnya seorang arsiteks.

Dalam bukunya, Mas Anas menyebut dirinya bukan seorang arsitek yang lebih dekat pada garis, bangunan, paku, besi, beton, dan semen. Dia mengaku lebih dekat pada teks. Jadi arsiteks yang lebih dekat dengan tulisan, sastra, filsafat. Maka ia lebih senang menyebut dirinya dengan arsiteks.

Dalam kesempatan ini kita akan berdiskusi dengan beberapa pakar yang juga banyak memberikan kontribusi pada buku ini. Yang pertama adalah Profesor Josef Prijotomo yang juga merupakan guru dari Mas Anas. Dan yang kedua adalah bapak Akhudiat yang lebih kita kenal sebagai budayawan yang banyak menulis tentang teater dan sastra tapi Pak Akhudiat sebenarnya juga banyak mengamati dan menulis tentang tata bangunan.

Saya sangat tertarik dengan satu tulisan yang dibuat Mas Anas. Setelah saya baca buku ini, sebenarnya apa yang ditulis Mas Anas dalam buku ini sangat terwakili dalam sebuah tulisan yang dibentuk seperti puisi. Ada di halaman 40. Menurut saya ini adalah penemuan bentuk penulisan esai yang sangat cerdas. Selamat Mas Anas, anda berhasil melakukan penulisan esai yang sangat indah dan menarik. Ini cerdas. Saya bacakan beberapa:

Biarkan re bermain re

Sering kita dengar kata ‘republik’

Dari bahasa Yunani:res-kembali dan publica-orang banyak

Tetapi republik sudah identik dengan istilah tata Negara

Maka disini ditulis dengan re-publik

Theme park tentunya tidak bisa direnggangkan dari publik

Jatim Park, WBL, dan BNS rek!

Untuk semua strata social, kaum berpunya bisa refreshing

Kere pun bisa hore

….

Tiga theme park ini jadi semacam reproduksi hiperrealitas

Menjual mimpi, dream

Biarkan rakyat kecil-gurem menikmati hiburan a la barat

Meski kadang masih gemeinscaft makan lesehan bareng

Atau tempat sare dan cangkrukan

Mereka mencari-cari ruang(re)-publik

Yang semakin hilang karena di gusur-gusur

Dan Negara masih merem, tak peduli dengan manusia-manusia

Cerdas sekali. Mas Anas saya lihat sangat kritis sekali terhadap kondisi arsitektur kota, tidak hanya di Surabaya tapi juga di Jawa Timur. Sebenarnya apa yang digagas mas Anas selama ini ketika melihat kondisi arsitektur kota-kota saat ini?

Anas Hidayat

Jadi, dalam menulis buku ini awalnya saya hanya ingin memberi sumbangsih karya untuk Surabaya. Tapi dalam perkembangannya saya banyak menulis juga tentang jawa timur. Seperti dikatakan mbak Sasa, sebagai seorang yang bergelar arsitek, saya memang tidak terlampau dekat dengan garis dan ruang. Saya membangun bangunan dalam teks. Jadi pargaraf-paragraf saya itu adalah karya saya. Menata kata-kata seperti menata bata saja.

Memang paradok. Seperti halnya arsitektur kota, juga paradoks. Banyak budaya-budaya yang dianggap sudah metropolitan tapi kehilangan jiwanya. Bahkan muncul arsitektur yang dianggap bukan arsitektur. Contohnya bangunan-bangunan di bantaran kali. Itu kan bentuk arsitektur juga, tapi karena berdampingan dengan bangunan-bangunan menjulang kemudian dipandang sebagai non arsitektur. Ini terjadi karena ada permainan ruang dan uang. Uang yang merebut ruang ini lah yang kemudian menghilangkan ciri khas kelokalan arsitektur sebuah kota.

Diana Sasa: Bagaimana dengan bangunan-bangunan bergaya eropa yang menjamur di Surabaya?

Anas Hidayat

Saya kira Surabaya ini mencoba mencitrakan sebagai kota urban dengan meniru arsitektur-arsitektur dari negeri barat. Seakan-akan masa depan kita ada di sana. Kita mengambil gaya-gaya Hongkong, Singapura, Amerika, Eropa, untuk mengejar citra masa depan dan modern. Gaya kita ini kemudian ditiru oleh daerah-daerah lain. Akibatnya kita menjadi seragam dengan kota lain, tidak memiliki ciri khas. Secara fisik kita maju tapi kehilangan sisi humanismenya.

Diana Sasa

Mas Anas sudah menemukan sejauh itu. Bahwa pembangunan fisik kota yang banyak berkiblat ke barat membuat kita menjadi asing dengan identitas kita sendiri. Apa benar kita sudah terlalu kebabalasan dan bangga dengan apa yang kita miliki di kota ini. Kita punya kota yang megah, punya patung Singa, punya patung Raffles, apakah dengan begitu kita akan sejajar dengan bangsa mereka. Apa benar begitu nanti kita akan diskusi lebih jauh. Tapi sebelumnya kita dengar apa pendapat Pak Yosef tentang isi buku ini.

Josef Prijotomo

Katanya dulu saya gurunya Anas, tapi dengan buku ini Anas adalah guru saya. Dan saya merasa sangat bahagia. Kebahagiaan seorang guru adalah ketika muridnya bisa lebih pinter dari gurunya. Ini benar-benar tulus dari hati saya. Karena sewaktu Anas mengajukan tesis S2, dia sudah melakukan gebrakan yang sangat luar biasa. Jadi dia melakukan analisa terhadap primbon untuk membuktikan bahwa seorang  filsuf terkenal dari Jerman, Hans-Georgee Gadamer ternyata memiliki kelemehan-kelemahan. Nah kelemahan-kelemahan itu dimuat di primbon. Itu kan ‘gendheng’. Coba bayangkan seandainya Georg Gadamer ditambah primbon sama dengan Anas Hidayat, bukan lagi Hans-George Gadamer namanya tapi Hans Primbon Hidayat. Itu yang saya lihat dari seorang Anas Hidayat.

Dari buku ini yang professor bisa menikmati bahasanya, dengan materi yang luar biasa beratnya, tapi tukang becak pun bisa ikut menikmatinya. Ini buku yang tidak gampang. Kalimat demi kalimat tidak mudah dituliskan sehingga bisa memuaskan dari lapis yang paling atas tapi juga bisa dinikmati lapis paling bawah. Jadi bukunya sendiri sudah paradoksal. Tapi saya yakin gambar sampulnya ini bukan mas Anas yang membuat. Gambarnya ini sangat tidak Surabaya. Tidak melokal dan menusantara. Kenapa gambarnya bukan pegupon misalnya. Karena dia mungkin bukan arsitek jadi bisa dimaafkan.

Ini sebenarnya adalah sebuah gambar dari masyarakat kita yang mengalami kehausan luar biasa sebagai diri sendiri yang Suroboyo, yang Indonesia. Coba lihat buku-buku yang ada di Gramedia, 90% isinya adalah dari manca. Dari mana kita bisa menemukan keindonesiaan, kesuroboyoan, kejawaan? Kita punya pengetahuan demikian banyak tentang Jawa, tentang Suroboyo, tapi kita jadi tidak tahu sama sekali tentang Suroboyo, Jawa sendiri. Surabaya kota luar biasa tapi buku gak punya sama sekali.

Buku Anas mencoba untuk menunjukkan lagi kenusantaraan itu meski dengan keterbatasan halaman. Contoh kasus Alun-alun Lamongan. Kalau orang bilang alun-alun bayangannya adalah lapangan kosong, karena di otaknya sudah ditanamkan bahwa yang namanya alun-alun itu lapangan kosong, hanya ada kegiatan disaat-saat tertentu, rumusnya sudah begitu.

Di Solo alun-alun dipakai untuk Sekatenan, di Joga untuk Grebeg Suro. Mal-mal kita itu adalah alun-alun dalam Sekatenan. Jadi pengunjung mall 88,8% itu jalan-jalan. Menikmati lingkungan. Hanya 12,2% yang belanja. Alun-alun ‘kan juga begitu kalau kita Sekatenan. Bedanya kalau di alun-alun kita keringatan kalau di mall kita kademen. Masalahnya itu tadi, sudah dikunci bahwa alun-alun adalah lapangan kosong untuk sekaten, mall adalah tempat belanja. Nah lubang-lubang itu tadi yang mesti kita tembus.

Termasuk yang anda lakukan ini dengan dbuku adalah terobosan. Anda melintas, tidak mengikuti kebiasaan. Lha wong di mall kok bikin perpustakaan. Wis jan gak main blas. Nah, itu tadi, langkah-langkah awal. Ada kerinduan-kerinduan besar yang tidak bisa diperoleh jawaban-jawaban. Anda menyediakan sebuah jawaban itu. Yang memang dihari ini sudah menjadi kunci bahwa kalau ke mall itu ya belanja, jadi ini menjadi aneh. Padahal ke mall itu juga bisa belanja pengetahuan. Membeli pengetahuan dari Pak Anas, membeli pengetauan dari Pak Akhudiat. Bahkan modalnya lebih murah, bisa sambil kleset-klesetan. Pengetahuan bisa menjadi sebuah komoditas.

Kalau bicara soal Surabaya. Jangan salahkan kalau patung Eropa itu ada di sana. Karena, orang Surabaya tidak punya keberanian untuk menempatkan Akhudiat sebagai patung penanda kota.  Coba ada Jalan Akhudiat. Kita gak ada seperti itu. Coba punya keberanian. Seperti ITS yang memberi nama jalan sesuai nama jurusan; jalan arsitektur, jalan stastitika, jalan tehnik elektro,jalan permukiman,  dan lain-lain. Coba kirim surat pada Josef Prijotomo jalan statistika, Indonesia,  pasti nyampai, karena gak ada se-Indonesia yang lainnya. Itu lah yang disebut membangun kekhususan.

Diana sasa

Ketika saya bertemu Mas Anas, saya masih belum terhubung apa-apa. Buku ini masuk dalam proyek penulisan yang kami lakukan. Kami sedang menyusun buku panduan 100 buku tentang Surabaya. Setelah membaca buku ini saya merasa ada teman, tidak sendirian ketika berbicara tentang ruang-ruang alternatif. Sedikit melenceng dari bahasan, ketika mengagas dbuku bibliopolis memang sejak awal saya dihantam dengan ketidakyakinan bahwa ruang ini bisa dimanfaatkan oleh publik. Ke mall orang pengennya jalan-jalan, nonton, pacaran begitu, lha kok disuruh baca buku. Sebenarnya ringan saja. Selama ini membaca selalu diidentikkan dengan kutu buku yang cupu dan tidak gaul, kurang pergaulan. Kami ingin menunjukkan bahwa membaca buku itu juga gaul, juga keren, juga asyik. Bahkan lebih mendapat nilai plus karena tidak hanya fisiknya saja yang keren tapi juga isi kepalanya. Itu yang ingin kami tularkan ke teman-teman muda disini. Untuk itu sebisa mungkin kami menyediakan ruang ini tanpa tujuan komersil, untuk masyarakat Surabaya. Saya percaya kami tidak berjalan sendiri.

Dari apa yang disampaikan Pak Yosef tadi, saya ingin tahu apa pendapat Pak Akhudiat sebagai budayawan, bagaimana melihat apa yang ditulis seorang Anas Hidayat mengenai paradoks-paradoksnya ruang dan uang ini?

Akhudiat

Sejak awal budaya yang berkembang di Surabaya memang paradox. Di Surabaya ada dua budaya yeng mungkin berjalan berdampingan, mungkin bertentangan, paradox itu tadi. Orang-orang kampong menamakan budaya kampong. Apa saja? Misalnya yang paling terkenal adalah tandakan. Sekarang tandakan sudah tidak laku menjadi orkes dangdut. Orkes mulai mahal berganti menjadi musik elektone.

Keluar kampong, dengan bahas Belanda yang kurang fasih, mereka mengatakan budaya straat, jalan. Budaya straat itu maksudnya ada di rumah-rumah gedongan di tepi jalan raya yang rata-rata bukan penduduk kampung. Penghuninya peranakan belanda, indo, dan orang timur asing, peranakan cina dan peranakan arab. Itu straat. Jadi paradox Surabaya itu. Kadang-kadang terjadi bentrok. Misal di daerah Perak, ada budaya kampong, santri, ketika melihat ada rumah yang pesta dansa, diserbu itu rumah yang ada pesta dansa.

Ternyata memang Surabaya ini dimuali dari kota bawah. Pusatnya di Jembatan Merah. Dibagi empat kota bawah itu. Timur dan Barat dibelah oleh Kali Mas. Utara dan selatan dibelah oleh jalan Rajawali, Jembatan Merah, dan Kembang Jepun. Kota empat ini penduduknya beda-beda.

Sebelah baratnya sungai itu kampong Belanda. Masuk akal, meninggalnya Mallaby disitu. Sebelah utaranya itu kampong Kristen Pribumi. Konsentrasinya orang-orang Indo di kampong Pesapen dan kampong Krembangan. Orang indo adalah peranakan Belanda dan Nyai-nyai. Ada yang dikawin ada yang tidak. Nyai bisa Madura, Manado,Maluku dan sebagainya. Jadi disitulah konsentrasinya anak-anak indo-indo, nyai-nyai, noni-noni, dan sinyo-sinyo.

Sebelah timur sungai, sebelah selatan Kembang Jepun adalah pecinan, Chinese camp.  Sebelah timur sungai sebelah utara Kembang Jepun konsentrasinya pribumi muslim, maka pusatnya Masjid Ampel. Inilah paradoksnya, sehingga menimbulkan ada budaya kampong ada budaya straat. Sampai sekarang masih terasa budaya ini.

Jaman dulu sangat terasa adanya perbedaan budaya kampong dan straat ini. Untuk menunjukkan budaya santri, tidak ada bioskop yang mulai sebelum shalat magrib. Bioskop mulai diputar jam 7 dan 9 malam. Munculnya diimulai dari Mitra Teathre, ada yang buka jam 10 pagi ada yang jam lima sore. Balai Pemuda itu adalah sebuah sociatate, tempat bergaul yang paling besar, yang paling mewah dan mahal. Mungkin yang masih memakai budaya itu sekarang adalah toko Allisa. Jadi buka jam 9 pagi sampai jam 12, shalat dhuhur dulu, jam 5 sore baru buka lagi. Itu berlangsung sampai tahun 70-an.  Jadi Surabaya itu sejak awal memang dimulai dengan budaya yang paradoks.

Saya tertarik dengan kekhususan. Sekarang tidak ada lagi kota yang bentuknya khusus. Kalau saya naik bis dimulai dari Mataram, Lombok, Surabaya, Jakarta, lampung sampai Palembang. Seluruh kota yang saya lewati mirip-mirip saja. Apa yang sama? RUKO. Lama-lama kita jadi republik ruko. Dan sepanjang jalan tulisan yang paling banyak saya baca adalah BAKSO. Jadi republik ini sudah menjadi republik ROKO dan republik BAKSO. Hutan-hutan di Palembang dan lampung dibabat hanya untuk membangun ruko. Jadi kita kehilangan kekhususan, semua menjadi seragam, mirip-mirip saja.

Diana Sasa

Kalau apa yang terjadi sekarang ternyata bukan sesuatu yang ujug-ujug, sudah dimulai sejak lama, berarti kita menanggung dosa lama yang pelan-pelan kita amini begitu saja secara nirsadar dan menjadi sesuatu yang biasa. Ketika kita mulai kehilangan kekhususan-kekhususan itu, cerlang tara, kecermelangan nusantara untuk menyebut kearifan lokal, kepribadian yang khas Indonesia, apa iya kita sudah separah itu, apa iya kita sudah terlampau jauh kehilangan kekhasan itu? Saya ingin mendengar pendapat dari hadirin. Silahkan saya buka forum tanggapan.

Firman

Ada yang salah tentang pola pembangunan di Surabaya ini sehingga kita kehilangan roh kota. Bagaimana tidak salah sedangkan cara berpikirnya sudah salah. Surabaya sendiri selalu mengikuti kota lain. Misalnya distro, music indie yang rame di Bandung kemudian kita ikuti. Padahal Bandung itu meskipun meniru budaya manca tapi punya khas, sedang kita gak punya, main tiru saja. Surabaya ini orangnya kurang suka mikir susah. Bagaiamana merubah pola fikir masyarakay yang malas ini?

Budi

Saya apresiasif sekali dengan apa yang ditulis dalam buku ini. Mas Anas menunjukkan bahwa Anda sudah masuk dalam kehidupan Surabaya dengan pernik-pernik yang terungkap dalam beberapa kalimat. Persoalannya sekarang Surabaya dalam sebuah perubahan. Tapi apakah perubahan itu perkembangan dan pembangunan. Karena setiap perubahan tidak selalu membangun.

Kita memang perlu merumuskan bagaimana master plan Surabaya ke depan. Kita harus duduk bersama,tidak hanya insinyur tapi juga melibatkan agamawan, seniman, budayawan. Harus didengar, mau apa Surabaya ke depan. Supaya pembangunan kita tidak njomplang, berorientasi fisik saja. Decision maker kita berorientasi kekuasaan, uang dan preman. Jadi kita harus mencermati apakah pembangunan kita fisik saja, karena memang fisik itu lebih mudah dikalkulasi, semakin banyak semennya semakin besar anggarannya. Persoalannya kosong. Kosong rohnya, kosong kemanusiaannya, kosong ketenggangrasaannya, kosong kenyamanannya, itu persoalan.

Maka pembangunan kota tidak bisa diserahkan pada para birokrat dan tukang insinyur. Ini harus dibicarakan publik sebagai partisipasi warga kota. Saya kira kesadaran civilisasi kota ini yang  perlu ditumbuhkan. Ini menjadi persoalan bersama. Maka apa yang dilakukan Mas Anas ini semoga bisa menggugah para birokrat dalam membangun kota, itu bukan persoalan kalkulasi saja tapi ada plus plusnya.

Diana Sasa

Ternyata bicara tentang pembangunan fisik di Surabaya memang bukan hal mudah, ada kekuasaan yang terlibat kuat disini. Tadi Mas Firman menyampaikan kegelisahannya tentang masyarakat kita yang sudah malas mikir. Ada mall ya dinikmati, ada televisi acara bagus ya dinikmati, ngapain mikirin identitas bangsa, kayaknya kok berat sekali. Apa iya, masyarakat kita sudah separah itu ketidakpeduliannya, atau mungkin masih ada kok yang peduli, mau bangun dan berpikir persoalan bangsa. Bagaimana pendapat Pak Yosef dan Pak Akhudiat?

Josef Prijotomo

Maaf, saya terpaksa mengangkat perkataan orang manca negara, tapi tidak bermaksud mengajak kita menjadi pengikut orang manca. Jangan tanyakan apa yang negara berikan padamu, tapi tanyakan pada dirimu  apa yang bisa kau berikan untuk negaramu.

Sekarang ini generasi santai, nah tanyakan apa yang bisa diberikan generasi santai ini pada negerinya. Apa? Jangan diisi dengan tawuran. Bagaimana dengan kesantaian itu bisa muda kaya raya, tua foya-foya, mati masuk surga. Kalau bisa dalam kelurusan itu kenapa tidak? Persoalannya kan disitu. Banyak yang iri kalau ada yang kaya, ada yang iri kalau ada yang nikmat. Saya ingat dulu waktu jaman mahasiswa-mahasiswa demo teriak-teriak kritis, tapi setelah jadi ya lupa.

Nah ini, apa yang bisa dilakukan untuk negeri. Kalau ini bisa dilakukan oleh setiap insan, maka kita akan dihadapkan pada pertumbuhan yang demikian beraneka, tidak lagi seragam. Itu tadi disampaikan oleh Pak Budi tentang berpikir biner. Kita jangan dikotak-kotakkan oleh pikiran bahwa yang satu ini pasti benar dan yang lain harus dibunuh. Saya benar anda juga benar, bedanya saya laki-laki anda perempuan. Nah itu yang akan menghasilkan biner-biner yang baru, kebhinekaan yang baru.

Kalau sekarang kita melihat alun-alun dan mall sebagai dua yang terpisah. Fenomena masa lalu dan masa sekarang bisa saja kita katakan bahwa ini adalah alun-alun. Makanya namanya jangan royal plaza, tapi Alun-alun Royal. Plaza tidak lebih tidak kurang ya sama dengan alun-alun, Square itu ya alun-alun. Tapi menggunakan kata alun-alun gengsi dong. Nah itu, nikmatnya menggunakan bahasa sendiri disebut ndeso, menggunakan bahasa asing itu katanya lebih mentereng. Jadi yang pertama apa yang bisa kita lakukan untuk negeri, yang kedua tidak ada lagi satu yang paling benar, kita ini bhineka. Tidak ada lagi keseragaman.

Benar tadi Pak Budi mengatakan mari kita bangun kota tidak hanya oleh birokrat dan politisi. Itu sebenarnya bisa. Kenapa kita tidak menggunakan internet dan HP untuk sesuatu yang bermanfaat bagi kota. Dari pada HP untuk sms dan ringtone-ringtonenan kenapa tidak dibuat untuk menyampaikan gagasan mengenai kota? Kita juga bisa memanfaatkan internet untuk menyampaikan gagasan, bertukar pikiran. Perubahan-perubahan baru masih kita lihat sebagai gengsi bukan potensi. Kotamadya Surabaya sudah membuka diri untuk menerima masukan dari warga melalui internet. Kalau kita tidak mau memberikan sumbangan gagasan, ya jangan salahkan kalau kemudian ada ‘permainan-permainan’ itu.

Satu hal yang sering saya lontarkan kalau ditanya ciri khasnya Surabaya itu apa? Tergantung, soal apa, misal bahasa, gampang saja, ciri khasnya Surabaya ya ‘dancok’. Kata itu berlaku sedemikian luas dari segala lapisan dan tingkatan. Tidak ada kata yang memiliki kekhususan sebegitu luas. Kenapa kita tidak bikin ‘minggu dancuk!’ untuk menampilkan hal-hal luar biasa.  ITS itu sebelum rektornya orang Jawa Tengah, dulu slogannya ITS,Cuk! Tapi setelah rektornya orang Jawa Tengah jadi ITS, Cak!.

Kalau bangunan ya ada khasnya Suroboyo, pegupon doro. Sebelum Madura mengklaim sebagai khasnya Madura, klaim dulu sebagai khasnya Surabaya. Coba buat lomba foto pegupon doro. Pasti banyak dan beraneka ragam, variasinya akan luar biasa. Nanti reaksinya dikira mendukung perjudian? Lha itu kan yang judi, yang tidak kan juga banyak. Itu beberapa gagasan, coba cari yang lan.

Resepnya sederhana, yakini, aku berbuat ini untuk negeri. Yakini bahwa itu adalah warung. Lantai tiga royal ini kan dikuasai oleh warung. Kalau yang lain warung perut, ini adalah warung otak. Maka namanya jangan bibliopolis, tapi warung uteg, cangkrukan uteg, begitu! Coba setahun lagi kita ketemu lagi disini, kita evaluasi apa yang sudah dilakukan Pak Akhudiat, anas, anda, saya, dan semua disini.

Diana Sasa

Kalau dulu orde baru membuat kita seragam, dan orde reformasi masih sedang dalam masa transisi. Jadi modernisasi memang sangat sulit kita tolak. Tapi bagaimana modernisasi itu kita jadikan alat, sebuah potensi untuk kita ramu dengan apa yang sudah kita punya untuk menjadi sesuatu yang masih khas kita tapi tetap sejalan dengan perkembangan jaman. Kalau Pak Akhudiat bagaimana?

Akhudiat

Karena saya sebagai penulis, pengarang, penyair dan pelamun, saya suka berangan-angan. Surabaya ini kalau dibandingkan dengan kota-kota lain sebenarnya sama. Surabaya ini termasuk kota dengan kebudayaan sungai, river culture. Kota-kota besar di dunia pasti di tepi sungai. Contoh saja Moskow, Paris, Venesia, Washington, seluruh kota-kota itu di tepi sungai. Barangkali kota-kota tepi sungai itu dibangun sebelum adanya roda. Hubungan lalu lintas menggunakan perahu. Maka sebagai kota berbudaya sungai, barangkali Surabaya ini akan bersih, teratur maju semuanya jika pemerintah kota membuat peraturan bahwa semua bangunan di tepi sungai harus menghadap sungai. Jadi tidak ada lagi WC gantung. Itu kan gara-gara tidak ada malu. Andai saja seluruh bangunan menghadap sungai, mereka akan malu. Kita kembalikan Surabaya menjadi kultur sungai.

Diana Sasa

Saya sudah 10 tahun di Surabaya, tapi belum lama saya tahu bahwa bangunan Grahadi itu ada teras yang menghadap sungai. Bangunan-bangunan kota tua juga menghadap sungai. Nampaknya indah dan nikmat sekali Pak Gubernur duduk-duduk di teras itu sambil menikmati sungai. Saya melihat beberapa daerah bantaran sungai sudah mulai menuju arah itu. Rumah-rumah dibersihkan dan menghadap sungai. Mudah-mudahan jika pemerintahan stabil kita akan lebih baik, dan harus ada perda yang mengatur itu.

Ini yang kemudian bisa kita tarik dengan apa yang tadi disampaikan Pak Budi bagaimana pemerintah kota ketika ingin merumuskan sebuah tata kota Surabaya tidak hanya melibatkan insinyur, birokrat dan politisi, tapi juga perlu menggandeng agamawan, budayawan, seniman, dan elemen warga kota lain. Nah kita sebagai bagian dari warga Surabaya bisa memulai dari forum-forum seperti ini untuk memberikan masukan pada pemerintah tentang perbaikan Surabaya.

Akhudiat

Saya ada mimpi ke dua tentang Surabaya. Orang luar Surabaya paling bingung kalau di Surabaya tentang stasiun. Kalau mau ke Jogja, Bandung mesti lewat Gubeng atau Pasar Turi. Selalu begitu. Ini kekeliruan besar. Seluruh kota-kota besar di dunia selalu memiliki Grand Central Station. Saya usulkan supaya Gubeng itu menjadi Surabaya Gubeng Grand Central Statiun, stasiun besar. Semua jurusan lewat Gubeng. Pasar Turi itu jadi stasiun kecil saja. Jadi kalau nanti kita mau ke Jakarta begitu, kita lewat atasnya tugu pahlawan. Apa tidak indah begitu itu?

Diana Sasa

Wah, iya saya pernah salah juga ketika mau ke Bandung. Saya di Pasar Turi. Untung 15 menit masih terkejar itu kereta Turangga di Gubeng. Ini paradox kota. Menarik sekali impian Pak Akhudiat. Kita lihat apakah mimpi itu kelak bisa menjadi nyata.

Ok, saya buka lagi pertanyaan dan tanggapan.

Benny Wicaksono

Terimakasih, Selamat Siang. Saya Benny Wicaksono. Saya lebih konsisten di seni berbasis teknologi. Saya melihat arsitektur memiliki sesuatu yang futuristik. Lahirnya buku ini sangat menarik karena sementara ini di wilayah arus besar seni rupa jawa timur saya belum melihat para arsitek banyak terbicara. Padahal di wilayah barat seperti Bandung, Jakarta, Jogja, cukup banyak teman-teman di wilayah arsitektur yang ikut mewarnai arus besar seni rupa. Nah di Surabaya tidak ada. Mungkin mereka berkarya tapi kurang terpublikasi baik atau hanya berbicara di kalangan mereka sendiri sehingga tidak terpublikasi di media-media yang mengkaji khusus senirupa. Meskipun ada beberapa tokoh arsitektur yang mulai terlibat dalam beberapa penyelenggaraan event seni rupa tapi belum memberikan kontribusi karya yang berarti selain sebuah ungkapan yang cantik saja.

Menanggapi apa yang disampaikan Mas Firman tentang anak-anak muda Surabaya yang lebih cenderung mengekor kota-kota lain, saya melihat tidak begitu. Contohnya, ketika sekarang ini Jogja Hip Hop Foundation begitu besar diulas oleh media yang mainstream. Tahun 2001 kita sudah punya yang namanya Pasukan Record. Kita buat genre hip hop yang Surabaya dan memang tidak terpublikasi ke media secara baik seperti apa yang terjadi sekarang. Saya melihat, wilayah timur memang jauh dari pusat kekuasaan media. Sehingga apa-apa yang kita buat disini tidak terekspose dengan baik, tidak terpublikasi dengan baik, dan tidak terdokumentasi dengan baik. Teman-teman juga agak malas untuk mengkomunikasikan karya-karyanya dengan jaringan lain di kota lain yang lebih punya kekuasaan media, atau luar negeri. Saya setuju dengan prof. Kita memang dalam situasi digital. Itu membuat kita melintas batas. Kita sebenarnya memiliki sesuatu yang khas dan unik Surabaya, yang ada diantara anak-anak Surabaya, ada diantara kreator-kreatornya. Ya sudah, biarkan saja mereka tetap organik dengan ketidak idealan itu. Saya percaya ciri khas Surabaya itu akan muncul dengan sendirinya.

Shofa

Saya asli dari Bali tapi sudah lama di Surabaya. Saya membaca buku Sketsa Tokoh Surabaya yang mengungkap tokoh-tokoh Surabaya. Saya tertarik dengan ungkapan Pak Johan Silas. Katanya, kau tidak akan menemukan karakter Surabaya di mall-mall seperti ini, tapi di sudut-sudut kampung. Ternyata itu saya rasakan benar ketika saya menelusup di kampung-kampung Surabaya. Sayangnya ketika saya menanyakan tentang Surabaya pada generasi mudanya, ternyata mereka tak cukup faham mengenai akar budayanya sendiri. Yang hadir disini saya rasa cukup tua, yang muda-muda kemana? Mereka kan penerus, mestinya mereka yang hadir untuk menelurkan gagasan-gagasannya.

Diana Sasa

Mas Benny tadi menyampaikan kerinduan munculnya arsitek di ranah seni rupa. Di Surabaya kita mengenal Agung Tato. Tapi yang lebih penting mungkin adalah arsitek-arsitek yang mau mengolah seninya sebagai abdinya pada bangsa untuk menjaga kekhasan dan kekhususan bangunan-bangunan kota.

Di Surabaya sebenarnya ada komunitas-komunitas sunyi seperti komik, animasi, dan film pendek yang memiliki kekhasan Surabaya. Bahasanya menggunakan bahasa soroboyo, karakter tokohnya juga suroboyo. Tapi mereka bergerak di ranah sunyi. Kenapa saya bilang sunyi karena bergeraknya di komunitas saja. Padahal karya-karya mereka mendapat apresiasi di luar negeri, tapi masyarakat Surabaya sendiri tidak tahu. Ini tentu ironis.

Bagaimana tanggapan Pak Akhudiat dan pak Yoseph?

Josef Prijotomo

Tidak adanya arsitek di wilayah kesenian. Itu salahnya pada arsitek. Sekolah arsitektur Indonesia tahun 50-an dibuka untuk menghasilkan ahli tehnik. Titik.Sebagai reaksi negeri ini butuh pemenuhan kebutuhan pembangunan yang cepat sementara ahli Belandanya hilang dan ahli pribuminya belum muncul. Jadi yang dihasilkan adalah ahli bangunan, ahli gedung, yang semuanya serba kalkulasi. Bangunan dan bangunan.

Jangan disamakan dengan artchitecture. Itu adalah bangunan yang plus. Seluruh hitungan selesai baru jadi bangunan belum artchitecture. Arsitektur adalah ilmu danbangunan. Sekolah arsitektur yang didirikan sampai dengan aat ini hanya menghasilkan arsitektur sebagai ilmu bangunan saja. Seluruh Indonesia mohon dimaafkan dosa arsitektur ini. Waktu  tahun 70-an itu sudah diingatkan, awas architecture itu adalah ilmu dan seni bangunan. Tapi seninya selalu dipinggirkan. Seni tu kan kalau ditambah air kan menjadi air seni, tempatnya di toilet. Arsitektur tempatnya kan bukan di toilet. Padahal orang berseni(kencing) dengan orang berkesenian itu kan nikmatnya sama. Kalau sudah selesai baru menderita kenikmatan. Kepuasannya setelah selesai.

Hari ini saya melihat peristiwa ini sebagai sebuah peristiwa bersejarah bagi Surabaya dan Dewan Kesenian Jawa Timur karena disini dihari ini untuk pertamakalinya Dewan Kesenian merangkul, menyapa arsitektur. Kami selama ini melihat dan merasakan bahwa arsitektur itu dimusushi dan tidak dikoncoi oleh dunia kesenian. Jadi belum ada jembatannya.

Mengenai generasi muda kita yang banyak tidak tahu tentang Surabaya, jangan kan generasi muda generasi tuanya juga banyak yang tidak tahu. Bagaimana mau tahu, cari dimana pengetahuannya? Informasi dan pengetahuan tentang kelokalan Surabaya relatif miskin. Kalah dengan informasi yang lain. Contoh paling gampang televisi. Acara budaya di TVRI itu indahnya luar biasa tapi waktunya jam 3 pagi, saat orang tidur. Sementara acara prime time isinya Cuma mangan, tukaran, nangis, mangan, tukaran, nangis. Sinetron itu kan cuma itu isinya, gak pernah nyambut gawe tapi omahe koyok kraton

Jawabannya sederhana, mau gak anda menjadi orang yang melakukan penghimpunan pengetahuan tentang Surabaya. Kalau anda mau tinggal jalan. Cari informasi dari Pak Akhudiat, kalau Pak Akhudiat gak tahu cari lagi ke orang lain. Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, itu saja.

Tahun 70-an saya itu jadi kepala sebuah ruang baca di jurusan saya, dibantu oleh seorang tenaga administrasi lulusan STM. Melihat saya sering muncul tulisannya di koran, tenaga administrasi saya itu bertanya,

”Pak, kalau nulis di koran itu apa harus sarjana?”

Saya bilang “enggak”.

“Kalau gitu saya boleh, Pak nulis di koran?”

“Bisa dan boleh,” jawab saya

“Bapak mau ngajari saya?”

Nah, saya ajari dia. Ada sekitar 12 tulisan yang bicara tentang toponomi kampung-kampung di Surabaya. Sementara tidak ada arsitektur atau insinyur yang nulis. Dari hasil tulisan itu dia memberanikan diri untuk mengambil S1 arsitektur. Lulus. Ini contoh gampang tentang apa yang bisa saya lakukan demi negeri, itu yang akan saya lakukan. Jangan pedulikan disini tidak laku. Jangan takut, jalan terus. Ahli bahasa Jawa disini tidak ada harganya, di luar negeri sangat dihormati.

Mengenai Surabaya yang menjadi kota epigon, menjadi orang lapis kedua. Tidak usah malu dan takut.Justru itu dipegang. Karena di Indonesia ini ada fenomena yang kita tidak tahu tapi menjalankan.  Sesuatu yang muncul pertamakali di Jakarta di lingkungan yang paling elit, sebulan berikutnya akan segera muncul di Surabaya daerah elit, Kota Satelit Citraland misalnya.  Tiga minggu kemudian akan muncul di daerah Kedungdoro, Kedungsari. Seminggu lagi akan sudah ada di Keputran Gang Buntu. Apa-apa yang ditiru di Surabaya akan cepat diturunkan sampai ditingkat bawah yang paling ndeso.

Lihat saja model-model arsitekur spanyolan, mediteran itu sudah sampai di ndeso. Kenapa cepat berganti? Lha orang kota masak modelnya ndeso. Kalau di ndeso sudah banyak yang memakai, orang kota akan mencari model baru lagi. Jadi kita ayo jadi orang lapis dua yang akan terus merongrong orang Jakarta untuk terus melakukan perubahan supaya lebih maju.

Akhudiat

Mungkin juga termasuk Barbie. Banyak sekali wajah-wajah Barbie. Di Surabaya mulai ada boneka Barbie berpakaian Madura. Mungkin nanti wajah Barbie akan hilang dengan sendirinya.

Mengenai kampung, saya sudah mulai menulis buku Masuk Kampung Keluar Kampung. Yang bercerita orang-orang tua, saya mendapat bahan banyak sekali.

Surabaya ini kota urban yang besar, tapi banyak sekali dongeng-dongeng. Maka saya masukkan kategori urban legend. Ternyata orang Surabaya masih senang berdongeng, tapi dengan setting kta. Kalau kita teliti banyak sekali. Dongeng ini termasuk kekayaan sastra lisan, sastra tutur. Misalnya dongeng rumah setan, dongeng penampakan Kembang Kuning, dongeng yang katanya kalau ada bangunan baru selalu ada anak yang diculik, nah itu ternyata kisah-kisah lama yang dimunculkan lagi. Terjadi di Surabaya. Saya berusaha bagaimana dongeng-dongeng itu saya hidupkan dalam sastra lisan.

Misalnya cerita lambang yang dibuat Belanda, ikan suro dan boyo. Katanya suro dan boyo itu bertengkar mati-matian sampai berdarah dan muncullah Jembatan Merah. Saya lihat itu bukan dongeng. Mungkin Sebenarnya dongeng itu adalah cara orang-orang tua dulu menceritakan kejadian sebenarnya tapi diceritakan dengan legenda. Kira-kira suro itu adalah wakil laut, boyo wakil daratan. Karena di Surabaya itu perbedaan antara pasang dan surut tajam sekali. Kadang-kadang laut itu masuk sampai di Wonokromo. Sehingga terjadi pertengkaran laut dan daratan itu. Kadang laut yang menang kadang daratan yang menang.

Dalam buku Negarakertagama, raja Majapahit selalu bermalam di Suroboyo sebelum mengunjungi Buwun (Bawean). Surabaya disebut-sebut dimana? Ternyata pantai Surabaya abad ke 10 itu di Wonokromo sini. Dan saat itu ada sunan yang berkuasa, namanya Raden Adipati Wonokromo, keturunan ke enam Sunan Ampel. Sampai hari ini saya cari tidak ketemu dimana makamnya.

Surabaya ini dikuasai oleh 3 dinasti. Dinasti Sunan Ampel, dari Kanjeng Sunan Ampel sampai ke Pangeran Pekik. Dikalahkan oleh Mataram dari Surakarta, yang berkuasa sebelas penguasa Surakarta. namanya Umbul Sawelas. Setelah itu yang berkuasa adalah Bupati-bupati yang diangkat Belanda, keturunan Boto Putih. Bukan main kekayaan cerita Surabaya itu yang perlu kita bukukan dan kita ceritakan pada anak cucu bahwa Surabaya adalah sebuah tempat yang tidak sekedar tempat yang mengandung Suro dan boyo.

Diana Sasa

Sebenarnya kita tidak perlu terlampau kecil hati dan pesimis bahwa kita tidak mampu melawan arus yang modernitas yang demikian besar. Kalau tadi Mas Firman mengatakan bagaimana merubah pla fikir masyarakat kita yang sudah terlanjur keblinger dan tak acuh, maka apa yang kita lakukan ini adalah salah satu upaya bagaimana mengajak orang untuk mau berpikir dan bertanya kembali pada nurani masing-masing. Hadirin disini yang meskipun lebih banyak mendengarkan, tapi saya yakin jauh di dalam hatinya sependapat dengan apa yang kita bicarakan tadi. Ya, kita sedang kehilangan kekhasan itu. Ya, kita sedang digerus oleh arus modern yang sulit kita lawan. Dan ya kita ingin memunculkan kembali apa yang sudah kita punya sebagai bagian dari kepribadian bangsa kita itu.

Mas Anas adalah salah satu figur, sosok, anak muda yang layak kita apresiasi dan jadikan contoh sebagai anak muda yang peduli pada kondisi kotanya, kondisi bangsanya, negaranya. Jadi kalau ditanya tentang apa yang kau lakukan untuk bangsamu, beliau sudah bisa menjawab: saya arsitek, saya membaca, dan saya menulis.

Sebelumnya, saya ingin tahu apa saja bahan bacaan Mas Anas ini. Apa buku favorit anda, Mas Anas?

Anas Hidayat

Bumi Manusia, Wastucitra, dan Zaratustra. Tiga itu saja.

Diana Sasa

Seseorang sangat bisa tergambar dari apa yang dibacanya. Jadi tidak bisa kita lawan lagi bahwa you are what you read, kau adalah apa yang kau baca. Maka kalau sekarang sudah jarang membaca, ayo lah kita membaca lagi. Bukan hanya membaca yang kita senangi, tapi mulai melirik yang diluar kegemaran. Mas Anas sudah membuktikan bahwa meskipun dia seorang arsitek, yang selama ini selalu diidentikkan  dengan paku, semen, beton, tapi dia bisa sangat humanis. Salah satu asupan dalam kejiwaanya, mungkin adalah buku-buku yang dibacanya itu tadi.

Mudah-mudahan dbuku bibliopolis tetap bisa melanjutkan forum-forum seperti ini supaya kita bisa memberikan kontribusi untuk Surabaya. Skala kecil dulu. Kalau dulu kami dan teman-teman segenerasi selalu teriak-teriak terus di jalanan, saperinya kita sudah capek. Mungkin inilah saatnya kita mulai membuktikan dengan kerja keras dan karya. Supaya meskipun kita muda tapi kita juga layak untuk dilihat gagasannya. Kita buktikan kontribusi kita untuk Surabaya salah satunya adalah dengan karya. Mas Anas juga sudah membuktikan kontribusinya untuk Surabaya adalah dengan karya, dan itu buku.

Josep Prijotomo

Tips saya dalam menulis. Saya menulis untuk yang belum tahu. Bukan menulis buat yang belum tahu. Dengan begitu saya tidak takut salah. Kalau ada yang keliru adalah kewajiban bagi yang tahu untuk memberi tahu saya.

Diana Sasa

Jadi di dbuku bibliopolis bersama 20an orang penulis muda sedang melakukan project penulisan 100 buku tentang Surabaya. Mudah-mudahan dalam waktu enam bulan ke depan itu bisa terwujud. Mas Anas ditunggu buku selanjutnya. Pak Yosef, Pak Akhudiat terimakasih. Pemprof Jatim, Dewan Kesenian Jawa Timur, ITS, Surya Internusa Mebel, dbuku bibliopolis mengucapkan terimakasih atas kehadiran Anda. Tetap membaca, dan terus menulis. Wassalamualaikum Warohmatullahi wa barokatuh.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan