-->

Kronik Toggle

Arsitektur Koprol, Buku Arsitek Teks

IBOEKOE, SURABAYA-Dia menyebut dirinya seperlima arsitek. Dia tidak berarsitektur dengan garis, bidang, besi, semen atau paku. Lebih suka disebut ‘arsiteks’. Karna dia adalah arsitek yang lebih berkutat dengan teks. Kalimat menurutnya adalah serupa batu bata yang harus disusun menjadi sebuah bangunan tulisan yang utuh dan runut. Dia adalah Anas Hidayat. Arsitektur Koprol adalah bangunan teks buah karyanya. Hari ini (5/2) buku itu dibedah di Majelis Biblio,  dbuku bibliopolis, Royal Plaza, Surabaya.

Buku setebal 128 halaman yang banyak memuat tentang sentilan Anas terhadap arsitektur kota yang kehilangan kekhususan itu dibedah oleh pakar arsitektur Prof. Josef Prijotomo dan budayawan Akhudiat.

Prof. Josef melihat apa yang dilakukan Anas adalah sebuah denyut hidup dari anak muda yang peduli pada kondisi bangsanya.

“Kota-kota di Indonesia secara arsitektur memang nyaris seragam. Dimana-mana ada gedung bertingkat dan ruko. Anas menulis karena gelisah mendapati kota yang kehilangan kekhasan bangunannya. Itu lah sumbangsih dia untuk bangsanya. Dia peduli. Pada titik ini dia adalah murid saya yang berhasil. Seorang arsitek bukan hanya mesti bisa menghitung dan membangun tapi juga mesti mengerti filosofi dan nilai budaya sebuah bangunan”.

Menurut Akhudiat, tata ruang kota yang menjauh dari kekhasannya bukanlah sesuatu yang hanya terjadi di masa sekarang.

“Sejak masa kolonial pemisahan kota dan kampung itu sudah ada. Surabaya mengenal daerah santri si utara dan daerah straat di selatan yang lebih banyak dihuni peranakan. Kalau selatan itu kampung, utara itu kota.  Nah, sekarang bukan lagi selatan-utara, tapi kampung di pinggiran  dan kota di tengah”

Anas yang banyak menulis esai arsitektur di berbagai media itu mengumpulkan serpihan 22 tulisannya dalam Arsitektur Koprol. Istilah koprol yang berarti jungkir balik itu memang tepat untuk merangkum gagasan Anas mengenai kekhasan tata bangunan nusantara. Arsitektur kota tidak memiliki  gagasan-gagasan rancangan kota yang bergulingan ke depan.

Dalam buku yang diterbitkan Dewan Kesenian Jawa Timur ini, Anas membicarakan jejak sejarah perkembangan kota, lengkap dengan ragam dan lika-liku lelaku di dalamnya: manusia, uang, dan perubahan cara pandang. Kota, di sini Surabaya yang banyak disorot, merupakan area hybrid (persilangan). Lahan yang dulunya ranum dengan nuansa paguyuban, lambat laun terkikis dan terdesak. Gagasan dan rancangan arsitekstur mendesak dan menggasak nilai-nilai kearifan lokal. Surabaya menjelma bak orang bermata juling; tubuh yang tumbuh dengan kenikmatan dan kesakitan (:paradoks), atau gerak nalar antara uang dan tata ruang.

Terakhir, perbincangan dalam arsitektur –teks anas, ternyata menyiratkan upaya dan kesadaran pentingnya mengembalikan local jenius di tengah tata ruang global. Dengan kata lain, meminjam kata-kata Ludwig Mies van Der Rohe: God is in the details, tuhan ada di dalam detail, arsitektur hendak tak hanya melulu desain dan kerangka saja. Tapi juga mesti menghadirkan nilai-nilai spiritual dan filosofis kehidupan manusia.(SW)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan