-->

Kronik Toggle

70 Persen Buku Terserap di Jawa-Bali

Jakarta – Distribusi buku fiksi dan nonfiksi di Indonesia tidak merata karena sekitar 70 persen buku terserap di Pulau Jawa-Bali. Tingginya biaya distribusi buku ke luar Pulau Jawa menjadi salah satu sebab timpangnya penyebaran buku.

Selain menghadapi persoalan distribusi buku yang tidak merata, perbukuan di Tanah Air juga menghadapi persoalan rendahnya minat baca masyarakat.

Berdasarkan kajian Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang punya minat baca tinggi. Satu buku rata-rata dibaca lima orang.

”Kondisi ini menempatkan minat baca Indonesia terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur,” kata Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Lucya Andam Dewi dalam rapat dengar pendapat umum panitia kerja Rancangan Undang-Undang Sistem Perbukuan Nasional Komisi X DPR dan Ikapi di Jakarta, Rabu (9/2). Pertemuan ini dipimpin Wakil Ketua Komisi X DPR Asman Abnur.

Menurut Lucya, meskipun belum ada data resmi, laporan dari toko-toko buku di seluruh Indonesia menyebutkan ada 15.000- 18.000 judul buku per tahun yang diterbitkan. Negara seperti Malaysia yang penduduknya lebih kecil dari Indonesia bisa menerbitkan sekitar 12.000 judul buku per tahun, sedangkan Jepang bisa menerbitkan 100.000 judul buku per tahun.

Ketua Dewan Pertimbangan Ikapi Setia Dharma Madjid menambahkan, di Malaysia, pemerintah setiap tahun mengalokasikan dana setara Rp 80 miliar untuk mengkaji, mempromosikan, dan mengembangkan perbukuan di negeri jiran ini.

Selain itu, setiap dua tahun ada kajian literatur Melayu yang cocok untuk anak-anak. ”Kajian ini bisa dimanfaatkan penerbit untuk menghasilkan buku-buku yang memang dibutuhkan masyarakat di sana,” kata Madjid.

Ketua Kompartemen Minat Baca Ikapi Hikmad Kurnia mengatakan, untuk meningkatkan minta baca masyarakat, harus ada perubahan pendekatan. Selama ini anak-anak Indonesia umumnya mengenal buku pertama adalah buku pelajaran.

”Akibatnya, anak menjadi tidak berminat membaca buku karena buku identik dengan sesuatu yang sulit. Tidak menyenangkan,” kata Hikmad.

Mestinya anak-anak harus dibuat senang dulu pada buku, antara lain dengan menyediakan buku-buku yang menarik bagi anak-anak di awal membaca. Jika sudah senang, akan mudah untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Di sisi lain, Lucya menambahkan, peran pemerintah sangat penting untuk menggerakkan industri perbukuan. Selama ini pemerintah terkesan kurang serius mengembangkan perbukuan. Ini, antara lain, tecermin dari tidak adanya pengendalian harga kertas sehingga harga kertas sangat tinggi, buku berkali-kali kena pajak, penulis buku kena pajak tinggi, dan biaya distribusi buku tidak ada perkecualian, sama dengan barang lainnya.

”Hingga saat ini tidak ada institusi pemerintah yang secara jelas membina industri perbukuan,” kata Lucya.

Pemerintah hanya peduli pada buku-buku pelajaran sekolah. Padahal, banyak jenis buku yang mesti mendapat dukungan untuk berkembang demi meningkatkan minat baca masyarakat. (ELN)

*) Disalin dari situs berita Kompas, Kamis 10 Februari 2011

2 Comments

wahyu awaludin - 12. Feb, 2011 -

lagian, buku pelajaran di Indonesia kok ngebosenin banget ya..udah akui aja..memang begitu kan? akibatnya, anak2 males baca..saya pun sampai sekarang malas baca buku pelajaran…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan