-->

Kronik Toggle

Tahun ke-4 Anugerah Tirto Adhi Soerjo

JAKARTA–Newseum Indonesia kembali menggelar pemberian Anugerah Tirto Adhi Soerjo kepada tokoh inovatif dan komunitas dalam bidang pers dan komunikasi publik. Penghargaan akan diberikan pada 7 Desember 2010 di Kantor Newseum Indonesia, Jakarta Pusat.

“Ini adalah tahun ke-4 kita mengadakan tradisi penganugerahan sebagai bagian dari sebuah kampanye panjang tentang Hari Jurnalistik Indonesia 7 Desember,” kata Taufik Rahzen di Jakarta (6/12).

Menurut Rahzen, selain 7 Desember sebagai hari kematian perintis pers kebangsaan, Desember juga bisa disebut sebagai bulan jurnalistik. Sebab, pada bulan inilah nyaris semua pers Indonesia, baik cetak maupun elektronik, akan mengeluarkan album rekaman peristiwa dan sekaligus evaluasi prestasi apa saja yang sudah diukir dan kegagalan apa saja yang mengiringi perilaku kita sebagai bangsa.

“Desember inilah momentumnya. Paling memungkinkan sebagai bulan jurnalistik,” lanjutnya.

Anugerah Tirto

Dalam siaran pers disebutkan Newseum Indonesia memberikan Anugerah Tirto Adhi Soerjo kepada mereka, baik pribadi maupun lembaga, yang dalam sepenggalan hidupnya terus melakukan inovasi yang memberdayakan dan menginspirasi masyarakat untuk bertindak dan memulai. “Dan jalan serta pilihan itu dibaktikan dalam tindakan-tindakan nyata. Bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk orang lain,” tandas Rahzen

Nilai-nilai itu disarikan dari seluruh sikap dan jalan hidup Tirto Adhi Soerjo yang terangkum dalam 4 jalan:

Jalan Jurnalistik, yakni keyakinan bahwa revolusi Indonesia bergerak di aras dunia cetak dunia informasi. Jalan jurnalistik adalah jalan yang mengawal pendapat umum dan memediasi dua belahan terbesar masyarakat politik, yakni publik (warga) dan re-publik (pemerintah).

Jalan Pergerakan, yakni ikhtiar yang dilakukan secara kolektif dan konsisten dalam sebuah komunitas atau kelompok untuk membantu dan menolong orang-orang terprentah dan tak berdaya.

Jalan Alkimia dan Kemandirian, yakni sebuah usaha sadar membantu masyarakat untuk memiliki ilmu yang mandiri, termasuk ilmu kesehatan, pendidikan, teknologi. Ilmu itu bisa didapatkan dari sekolah, tapi yang lebih penting dari penggalian kearifan lokal yang dipunyai masyarakat itu sendiri.

Jalan Kronik, yakni sebuah usaha tekun mengumpulkan informasi yang disusun untuk melihat kembali jalannya sejarah. Jalan kronik kemudian jalan pengayaan dan penguasaan informasi yang diambil agar masyarakat maupun pribadi tak didustai oleh sejarah yang ditunggangi kepentingan-kepentingan sesaat sekelompok tertentu dan sekaligus radar untuk membaca masa depan yang lebih baik.

Menurut Rahzen, keempat jalan itulah yang dilakukan Tirto Adhi Soerjo dengan sangat tekun dan konsisten di usianya yang tak terlalu panjang. “Menapaktilasi jejak inovasi itulah Anugerah Tirto Adhi Soerjo dihadirkan,” pungkasnya. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan