-->

Kronik Toggle

Dari Banjaragung: Santri Menulis Sejarah Kampung

JEPARA — Sebanyak 28 warga mengikuti Pelatihan Menulis Sejarah Kampung di kompleks Pondok Pesantren Al-Fauziyah, Banjaragung, Bangsri, Jepara, mulai Sabtu-Minggu (18-19/12/2010). Acara ini digelar oleh Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3) KH Ahmad Fauzan.

Ketua RB3 KH Ahmad Fauzan, Ali Burhan, mengatakan, pelatihan menulis sejarah kampung adalah satu dari sekian banyak kegiatan yang telah dilakukan RB3 KH Ahmad Fauzan untuk memajukan kualitas para warga belajar di kawasan tersebut. Sejumlah kegiatan yang telah dilakukan, antara lain, pelatihan pembuatan kerudung, kue, buah tangan upacara pernikahan, dan seni kaligrafi.

“Kami memadukan antara isi buku yang ada di perpustakaan RB3 dan kebutuhan warga belajar. Sehingga isi buku, terutama buku life skill, bisa diaplikasikan oleh warga untuk membuka lapangan usaha baru,” ujar Ali Burhan.

Terkait penulisan sejarah kampung, kata Ali, pihaknya ingin menanamkan kesadaran sejarah di jiwa warga belajar, khususnya anak-anak muda. Mayoritas peserta pelatihan menulis ini adalah santriwan dan santriwati. Dengan memahami sejarah kampungnya sendiri, yaitu Desa Banjaragung, anak-anak muda belia tersebut bisa belajar dari apa yang terjadi di masa lalu dan masa kini untuk merekonstruksi masa depan.

“Sejarah tidak hanya milik para sarjana dan ahli sejarah, tapi sejarah juga bisa dipelajari dan ditulis oleh anak-anak muda di desa. Dengan pemahaman sejarah kampung, anak-anak muda bisa mendapat bekal untuk merekonstruksi masa depan,” jelas Ali.

Kepala Seksi Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Jepara, Utim Shohijatsih, mengatakan, pelatihan penulisan untuk warga belajar RB3 adalah upaya yang patut diapresiasi. “Mengenal ilmu penulisan dan ilmu jurnalistik dapat membuat warga belajar bisa berekspresi. Itu akan merangsang daya kreasi mereka untuk menjalani hidup,” ujar Utim.

Dalam pelatihan tersebut, para peserta diajak berdiskusi tentang pentingnya pengetahuan sejarah, pentingnya budaya menulis, teknik penulisan dasar, teknik wawancara, dan fotografi dasar. Para peserta difasilitasi oleh penulis Muhidin M. Dahlan, Diana AV Sasa, M. Sholahuddin, dan Mohammad Eri Irawan.

Muhidin, yang juga Kepala Sekretariat Indonesia Buku Yogyakarta, mengatakan, pelatihan menulis sejarah kampung adalah salah satu instrumen untuk menumbuhkan daya kritis anak-anak muda terhadap lingkungan sekitarnya. “Teman-teman muda belia itu bisa menyelami kampungnya sendiri dari berbagai sisi, lalu menjumput banyak hal untuk membangun masa depan dengan lebih antusias dan penuh semangat,” ujar penulis sejumlah buku sejarah tersebut.

Dia mencontohkan, dengan memetakan kesenian di Banjaragung, anak-anak muda saat ini bisa belajar untuk membangun konsep kesenian yang lebih membumi dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Pengurus Yayasan Al-Fauziyah M.  Sholahuddin mengatakan, setelah pelatihan, para peserta akan melakukan kegiatan riset sejarah. Para peserta akan mengumpulkan dokumen dari berbagai pihak, mulai RT, RW, pemerintah desa, organisasi sosial-keagamaan di desa, hingga Badan Pusat Statistik (BPS) Jepara.

“Untuk melengkapi dokumen-dokumen itu, para peserta juga akan mewawancarai banyak narasumber. Semua data nantinya akan dikompilasi, disusun, dikritisi, dan ditulis dalam sebuah bentuk buku,” ujar Sholahuddin.

Untuk kegiatan riset dan wawancara, kata dia, waktu yang diperlukan sekitar tiga bulan. Proses penulisan akan dilakukan dalam waktu satu bulan. “Sehingga, buku sejarah kampung ini kami prediksi bisa terbit pada bulan April 2011,” jelasnya.

Buku sejarah kampung Banjaragung akan menjadi buku keempat tentang sejarah kampung di Indonesia yang ditulis sendiri oleh anak-anak kampung setempat. Buku sejarah kampung yang sudah terbit adalah “Pelangi di Ketangi”, buku yang mengisahkan sejarah kampung Ketangi, Gunung Kidul. Saat ini anak-anak kampung Patehan (Yogyakarta), Pakisbaru (Pacitan), dan Jambu (Kediri) juga sedang melakukan langkah serupa. (Eri Irawan/IBOEKOE)

3 Comments

misbah - 20. Des, 2010 -

sangat setuju dan dukung banget mg dengan tahu sejarah kampung sendiri jadikan diri kita cinta tanah kelahiran

imam rosyadi - 20. Des, 2010 -

Sebaiknya acara seperti ini,dilakukan setiap tahun.
karena acara ini sangat baik untuk anak-anak dari kampung itu.

by;RJP(remaja petualang)

syaiful mustaqim - 20. Des, 2010 -

menarik banget…
sayang kemarin belum sempat mampir ke banjaragung…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan