-->

Lainnya Toggle

Rumah Dr Soetomo Juga Diulas di Buku 'Hikajat Soerabaja Tempoe Doeloe'

Surabaya – Pahlawan Kebangkitan Nasional pernah tinggal di Jalan Simpang Dukuh Surabaya dibenarkan. Dr Soetomo tinggal di rumah nomor 15 hingga akhir hayatnya. Keyakinan itu diungkapkan salah satu sastrawan yang tinggal di Surabaya, Dukut Imam widodo.

Dia menyatakan Dr Soetomo bersama istrinya memang tinggal alamat yang kini sudah berganti menjadi nomor 47.

“Memang benar di situ beliau tinggal. Bahkan sampai meninggal,” katanya kepada detiksurabaya.com, Kamis (2/12/2010). Dukut juga mengaku jika Dr Soetomo pernah tinggal di rumah yang sekarang sudah direnovasi namun mangkrak itu ditulisnya di buku miliknya ‘Hikajat Soerabaja Tempoe Doeloe’.

“Semua riwayat beliau serta pernah tinggal di mana serta mulai kapan beliau tinggal disitu ada semua di buku,” tutur Dukut. “Tapi saya lupa beliau tinggal disana mulai kapan. Yang pasti beliau memang tinggal disana,” imbuhnya.

Seorang warga yang tinggal di Simpang Dukuh pun menyakini meski tidak mengetahui pasti sejarahnya.

“Rumah Dr Soetomo memang di sekitar sini. Posisinya antara Simpang Dukuh dan Jalan Kenari,” kata Kemi Wagimin (64) yang berjualan rokok di depan rumah bernomor 47. Alamat rumah yang pernah ditinggali Dr Soetomo atau dikenal sebagai Pak Tom ini mencuat setelah

Kuncarsono Prastyo, seorang pemerhati sejarah asal Surabaya menulis penelusurannya di situsnya. Bangunan yang sudah direnovasi total dan kini tak berpenghuni dan kabarnya sudah dikuasai investor. Rumah yang dijaman dulu bernomor 15 itu tak terawat serta dipenuhi tumbuh-tumbuhan liar. Catatan sejarah yang didapat Kuncarsono adalah Buku ‘Peringetan Rapat Taoenan PBI Pertama’. Di dalamnya ada sebuah foto yang menjepret tulisan Dr Soetomo dalam sebuah memo. Tertulis di kop memo itu Raden Soetomo Huidarts, Simpang Doekoh 15 Soerabaia.

Diyakini Pak Tom tinggal di alamat tersebut pada tahun 1923 hingga akhir hayatnya 30 Mei 1938. Meski kisah tempat tinggal pahlawan nasional sudah tertoreh dalam buku maupun website milik Kuncarsono, namun masih banyak warga Surabaya yang tak mengetahui. Bahkan anggota dewan maupun anggota tim cagar budaya Pemkot Surabaya pun belum ‘menciumnya’. (gik/gik)

*) Detik.com 2 Desember 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan