-->

Kronik Toggle

Perpustakaan Masih Minim Perhatian

SURABAYA – Perpustakaan masih “dianaktirikan” oleh sebagian besar perguruan tinggi di Jawa Timur. Dari 34 institusi perguruan tinggi yang tergabung dalan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPTI) wilayah Jatim, banyak pustakawannya yang bukan lulusan dari ilmu perpustakaan.

Ketua FPTI Jatim, Aditya Nugraha, mengatakan, profesi pustakawan masih hanya dilihat sebagai profesi yang sifatnya administratif. Padahal inti dari profesi pustakawan adalah bagaimana menyediakan informasi bagi seluruh sivitas akademika di kampusnya. Jika kondisi para staf perpustakaan tidak profesional, tentunya kondisi perpustakaan sebagai gudang ilmu tak lebih dari sebatas gudang debu.

“Secara umum kondisi perpustakaan dari perguruan tinggi yang statusnya univeritas lebih baik ketimbang yang hanya institut, sekolah tinggi, atau akademi. Ini karena cakupan bidang di universitas lebih luas,” ujarnya

Ia menyayangkan, selama ini staf perpustakaan hanya dianggap “pesuruh” yang pekerjaanya hanya memberi sampul buku, mendata buku, dan menjaga pintu perpustakaan. Padahal ada fungsi lain seperti pengusulan jenis buku serta pendataan jurnal ilmiah yang tidak dipahami oleh orang yang tidak mengenyam pendidikan kepustakawanan.  “Minimal komposisi untuk staf perpustakaan komposisi yang dari asli pustakawan sebanyak 30 persen, tapi jika ingin lebih baik lagi harusnya di atas 50 persen,” katanya.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Perpustakaan UK Petra ini mengatakan pentingnya peran perpustakaan sebagai penyokong utama informasi di sebuah perguruan tinggi. Meski saat ini banyak informasi yang bisa didapat dari internet, namun peranan perpustakaan tetap saja tidak tergantikan.

“Tidak semua yang didapat dari internet benar. Selain itu banyak koleksi buku di perpustakaan yang tak ada di internet,” katanya.

*) Surabayapost, 27 Desember 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan