-->

Lainnya Toggle

Mengapa TBM @ Mall

agus m irham:: Agus M. Irkham

Salah satu Entry atau lema paling mengemuka dalam konteks kampanye minat baca di tahun 2010 adalah wacana pendirian taman baca di pusat perbelanjaan. Disebut sebagai TBM@Mall. Pada bulan Mei, bertepatan dengan Hari Pendidikan. TBM@mall diluncurkan. Kalau tidak salah ingat di Banten, Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Makassar.

Pembukaan TBM di mal ini bertujuan mendorong minat baca pengunjung mal, yang mayoritas remaja. Asal tahu saja, skor minat baca remaja Indonesia saat ini adalah 393 atau di bawah rata-rata negara-negara anggota OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development), yakni 492.

Dengan kehadiran TBM@Mall diharapkan akan memperluas minat baca masyarakat. Sehingga mereka bukan hanya datang ke mal untuk belanja atau mencari hiburan, melainkan mencari ilmu, informasi, serta mengembangkan karakter serta jiwa wirausaha melalui beragam bacaan.

Karena sasaran utamanya adalah remaja, diharapkan TBM@Mall tidak melulu menyiadakan buku bacaan, tapi juga berderet varian layanan lainnya, misalnya (bisa nonton) film, berselancar di dunia maya (internet), pelatihan, dan cafe. Dengan begitu paling tidak TBM bisa menjadi alternatif tempat anak-anak muda nongkrong.

Program ini menjadi bagian dari target Kemdiknas di tahun 2010, yaitu membuka 561 TBM, yang terdiri atas 23 TBM@Mall, dua TBM di rumah sakit, 36 TBM di Balai Belajar Bersama (TBM di ruang publik yang bukan di mal), 50 TBM untuk daerah terpencil guna mengantisipasi putus sekolah (peningkatan minat baca), dan 450 TBM keaksaraan (rumah singgah dan panti-panti sosial). Sampai dengan tulisan ini selesai disusun, saya belum mendapat informasi, target 561 TBM itu tercapai atau tidak.

Ketika awal prakarsa TBM@Mall disosialisasikan ke publik, muncul banyak keberatan. Di antaranya menganggap program ini tidak pro rakyat kecil. Daripada digunakan membuat dan membiayai TBM di mal bukankah lebih baik digunakan untuk membuka TBM di pasar tradisional, di pesantren, di masjid, dan lain-lain tempat yang lebih mewakili kebutuhan mayoritas khalayak. Begitu dalih pihak yang kontra.

Keberatan lain muncul karena mal dianggap lembaga yang berorientasi pada melulu keuntungan ekonomi, mana mungkin bisa bersanding dengan taman baca yang memunyai pamrih sosial. Apalagi, ini kata seorang wartawan Koran Tempo, ketika seseorang masuk ke mal, ia telah kehilangan dirinya. Mal-mal yang berpenampilan menarik, dengan desain dan cat yang mencolok, menghidupkan kota bagai cahaya yang mampu menarik laron-laron terbang mengelilingi lampu yang bersedia jatuh dalam baskom berisi air sebagai perangkap untuk meniadakan mereka.

Maka dalam pengertian yang moderat, menurut saya TBM@Mall lebih tepat disebut sebagai private space. Karena menempati lokasi yang memiliki struktur kepemilikan yang jelas (swasta), dan dari sono-nya berorientasi profit ekonomi pula. Dalam definisi yang lebih progresif, TBM@Mall lebih cocok disebut sebagai alternative space. Sebuah ruang/tempat yang memberi pilihan alternatif bagi komunitas dan individu untuk mengaktualisasikan dirinya lewat kegiatan-kegiatan atau program-program yang diselenggarakannya.

Makna filosofis

Ada beberapa alasan filosofis yang patut dipahami mengapa TBM@Mall ini diluncurkan. Pertama, mal sekarang ini telah menjadi tempat tetirah banyak orang. Tidak saja bagi mereka yang termasuk ke dalam kelas menengah (secara ekonomi dan pendidikan), tapi juga kelas rendah. Tidak pula memandang asal daerah (desa-kota), gender (laki-perempuan), usia (anak-muda-tua). Semua lumer dalam kesibukan aktivitas di mal. Merayakan kegembiraan di mal adalah hak setiap warga negara. Begitu kira-kira kalimat mudahnya.

Nah, dengan adanya TBM di mal, diharapkan ada internalisasi kesadaran yang kurang lebih sama. Yaitu membaca (buku) adalah hak setiap warga negara. Tidak peduli kaya miskin, muda tua, semua berhak mendapatkan kemudahan akses bacaan. Tiap warga negara memiliki kesempatan membaca dan memaknai apa yang baca itu. Dan yang diharapkan dari pemaknaan itu akan meningkatkan pula pemahaman terhadap situasi kehidupan, sekaligus meningkatkan kualitas hidupnya. Baik secara sosial maupun ekonomi.

Kedua, mal identik dengan aktivitas membeli (konsumsi), terutama barang guna memenuhi kebutuhan fisik. Dan aktivitas tersebut dilakukan dengan segenap rasa suka cita. Secara tidak langsung, mal juga menjadi ukuran identifikasi golongan menengah (mapan). Dalam ungkapan yang berbeda, saat seseorang pulang dari mal, citra diri dan gengsi diri meningkat. Tingkat penghargaan terhadap diri menaik.

Mal juga menjadi salah satu ikon budaya pop. Dan selama ini saat budaya pop disandingkan dengan budaya ”konvensional”, kerap ditempatkan pada posisi saling menegasi.  Seperti yang dapat Anda baca pada matrik berikut ini.

Dari titik itu, pintu makna filosofis yang kedua, kehadiran TBM di mal bisa dimasuki. Kehadiran aktivitas membaca (buku) di mal sama penting dan menggembirakannya dengan belanja di mal—sebagai salah satu bentuk gaya hidup (budaya) populer. Kesejajaran posisi itu yang hendak disasar. Membaca buku ada adalah aktivitas yang bergengsi. Membaca buku tidak identik dengan kacamata tebal, kuper, tidak gaul, terasing, dan membosankan. Yang kemudian berlangsung adalah 2 in 1 (two in one). Dua jenis belanjaan dapat dilakukan dalam satu tempat.

Belanja barang untuk pemenuhan kebutuhan fisik, dan belanja (membaca) buku untuk pemenuhan kebutuhan otak dan hati. Dan keduanya tidak lagi ditempatkan dalam posisi saling menegasi. Tapi saling melengkapi. Simbiosis mutualisme.

***

Gerakan membaca di Indonesia, dapat saya kategorikan ke dalam tiga fase atau gelombang. Gelombang pertama (1.0), keaksaraan teknis. Bertujuan mengentaskan masyarakat dari ketidakmampuan mengenal huruf dan mengeja kata. Dengan kata lain yang dikejar adalah perbaikan statistik angka melek huruf (kemampuan membaca).

Gelombang kedua (2.0), keaksaraan fungsional. Bertujuan menjaga agar kemampuan yang membaca (dan menulis) yang sebelumnya telah diperoleh tidak hilang. Kembali menjadi buta huruf. Pada fase ini, prioritas program yang dihelat adalah mengembangkan minat baca masyarakat pada media teks.

Gelombang ketiga (3.0), keaksaraan budaya. Inilah tujuan ”akhir” gerakan membaca. Yaitu aktivitas membaca telah menjadi bagian hidup keseharian masyarakat. Telah menjadi gaya hidup. Telah menjadi budaya.

TBM@Mall masuk kategori gerakan literasi gelombang ketiga (3.0). Ia secara kreatif harus mampu mengawinkan antara buku, hobi, dan komunitas (buku dan hobi yang mencakup pengetahuan, bahasa dan budaya). Ia harus mampu mengejawantahkan makna, bahwa literasi (keberaksaraan) menjadi bagian dari hidup keseharian. Maka kegiatan yang paling pas di TBM@Mall, menurut saya, model kelas dan klab yang disesuiakan dengan karakteristik pengunjung.

Bagaimana arah dan strategi gerakan membaca di tahun 2011? Dugaan saya, helatan program literasi akan lebih dimoninasi oleh gerakan literasi gelombang tiga. Sasarannya dan pegiatnya pun yang semula di pinggiran (periphery), identik dengan masyarakat desa (rural), bergeser ke pusat (urban). Dan gerakan membaca di gelombang ketiga ini, buku tidak selalu menjadi pusat, dan menjadi akhir perjalanan. Sebaliknya, ia sekadar menjadi pintu pembuka, awal perjalanan. Bergeser ke beragam aktivitas literasi rekreatif.

*) Disalin dari catatan facebook Agus M Irkham

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan