-->

Resensi Toggle

Little Black Book | Nick Hurran | 2004

BookSTACY – Brittany Murphy
DEREK – Ron Livingston
KIPPIE KANN – Kathy Bates
BARB – Holly Hunter
JOYCE – Julianne Nicholson
MOM – Sharon Lawrence
CARL – Stephen Tobolowsky
IRA – Kevin Sussman
DR. RACHEL KEYES – Rashida Jones
LULU FRITZ – Josie Maran LARRY – Jason Antoon
RANDOM – Gavin Rossdale
PHIL – Cress Williams
BEAN – Dave Annable

Director: Nick Hurran
Written By: Elisa Bell and Melissa Carter
Story By: Melissa Carter
Producers: Elaine Goldsmith-Thomas, Deborah Schindler, William Sherak and Jason Shuman

Rahasia yang Menunggu Terungkap
Oleh: Nisa Diani

Buku harian  tidak bisa dipungkiri menjadi sesuatu benda yang menggambarkan pribadi seseorang secara utuh. Di dalamnya berisi tak hanya cerita atau pengalaman pribadi namun juga rahasia-rahasia paling tersembunyi dari kisah hidup seseorang. Kalau dulu buku harian berbentuk cetak dan kertas, kini revolusi baru diciptakan dalam bentuk tekhnologi. Memuat jutaan rahasia mulai cerita, foto-foto pribadi, hingga nomor kontak mantan pacar.

Mungkin rahasia seharusnya tetap menjadi rahasia saja, dan tak usah dibuka.

Kurang lebih seperti itu, kutipan dialog internal dari salah satu tokohnya, yang menjadi titik balik dari film ini.

Sinopsis

Cerita berawal dari kecemburuan Stacy Holt (Brittany Murphy) seorang kru dari sebuah reality-show TV yang ingin menguji kekasihnya Derek (Ron Livingston) atas kesetiaan dan ingin tahu bagaimana masa silam kekasihnya itu. Ia mencari tahu lewat Palm Tungsten C (semacam tekhnologi mirip i-Phone) milik Derek. Dari penelusurannya, ia jadi tahu bahwa Derek pernah mempunyai hubungan dengan tiga perempuan; Lulu Firzt seorang model perempuan terkenal, Joyce seorang koki restoran, dan seorang dokter ginekologi Rachel Keyes

Untuk mengorek-ngorek masa lalu, Derek, Stacy melakukan serangkaian rencana penjebakan. Ia menginterview mantan-mantan Derek dengan mengaku bahwa mereka akan dijadikan subyek utama dalam rangka acara televisi. Lulu yang dijanjikan akan mengisi segmen pembicara “Kegagalan sebuah operasi plastic”, Joyce yang dijanjikan mengisi segmen koki hotel berbakat, dan Rachel Keyes yang dijanjikan mengisi segmen penyuluhan penyakit seks menular.

Stacy selalu bercerita soal segala sesuatunya pada sahabatnya Barb yang juga seorang kru reality show tersebut. Dalam suatu hari Barb memenangkan persaingan sehat atas Stacy dan boss mereka menyetujui Barb memproduseri satu episode siaran langsung reality show tersebut. Dan apa yang terjadi bila cerita tersebut ternyata sebuah cerita milik sahabatnya, Stacy? Maka seperti demikianlah sebuah cerita kehidupan dipaparkan saat segala lekuk perselingkuhan, mata-mematai dan pengkhianatan terjalin dalam rangkaian yang utuh. Tak usah khawatir pada akhir cerita, saya pribadi masih lebih suka cerita film yang berakhir bahagia, dan film ini saya jamin mempunyai kejutan pula di akhir, sama layaknya dengan cerita kehidupan nyata yang selalu penuh kejutan.

Alur

Little Black Book (LBB) sangat cerdas mempermainkan karakter pemainnya. Penonton tentu menyadari bahwa tokoh utama di sebagian besar film adalah “orang baik-baik” namun apa yang disajikan oleh film ini berbeda, bahwa “hero” tak selalu “orang baik-baik”, bahwa manusia adalah manusia.

LBB mampu memutar persepsi tersebut sangat halus dan natural dengan menyajikan konflik batin internal para pelakonnya. Penyajian sudut pandang pertama –aku- versi Stacy mampu menggambarkan konflik batin perempuan (setidaknya saya) bahwa seperti demikianlah perasaan dan mungkin dialog-dialog yang dialami oleh perempuan yang tidak mempercayai pasangannya.

Kejujuran versus kebohongan menjadi latar utama dari cerita ini, disamping juga menggambarkan sebuah dilema ketika kita ingin tahu lebih banyak tentang rahasia hidup pasangan kita, dan mungkin rahasia hidup kita sendiri. Bahwa kadang kala sebuah rahasia ada saatnya tak perlu kita ketahui, tak perlu kita buka dan tak perlu kita korek-korek. Bahwa hidup terkadang perlu dijalani apa adanya, dan tak perlu mengambil pikiran buruk atau berencana terlalu muluk atasnya.

Seperti juga kutipan yang saya rasa bisa menjadi tema utama dari film ini, Hell is empty. All the devils are here… (William Shakespeare, The Tempest).

Nisa Diani, kreator di Komunitas ESOK, Surabaya

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan