-->

Kronik Toggle

Jaminan Ditolak, Pendiri WikiLeaks Tetap Ditahan

London – Hakim Inggris tetap menahan Julian Assange, pendiri Wikileaks meski ia memberikan jaminan ke pengadilan setempat, Selasa (7/12). Hakim Howard Riddle mengatakan, Assange akan tetap dipenjara dan akan disidang lagi pekan depan untuk menentukan rencana ekstradisi Assange ke Swedia dalam penyelidikan kejahatan seks.

Seorang juru bicara pengadilan mengatakan, jaminan terhadap pembocor rahasia diplomatik Amerika Serikat ini tidak akan mempengaruhi proses hukum yang berlangsung. “Ini tidak akan mengubah operasi kami,” kata Kristinn Hrafnsson kepada The Associated Press.

Assange menyerahkan diri ke Scotland Yard pada Selasa pagi, dan selanjutnya ia dikirim ke pengadilan Magistrates Kota Westminster, London pada siang harinya.

Menteri Pertahanan Amerika, Robert Gates, yang sedang mengunjungi Presiden Afganistan Hamid Karzai dan pasukan Amerika di Afghanistan, senang mendengar kabar Assange berada di balik jeruji. “Kedengarannya seperti kabar baik bagi saya,” katanya.

Assange menghadapi tuduhan perkosaan dan pelecehan seksual di Swedia. Dia menyangkal tuduhan itu, dan bersama pengacaranya ia mengklaim bahwa hubungan itu dilakukan atas keinginan bersama dan tanpa menggunakan pengaman atau kondom.

Permintaan ekstradisi terhadap Assange tampaknya akan sulit. Para ahli mengatakan bahwa surat perintah penangkapan seperti yang diterbitkan oleh Swedia bisa jadi sulit diujudkan.

Pengacara Swedia, Bjorn Hurtig juga mengatakan sulit untuk menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memproses rencana ekstradisi itu. Bisa jadi, prosesnyaakan berlangsung seminggu sampai dua bulan.

WikiLeaks, sementara ini, sempat mengalami tekanan keuangan, sebab Paypal Inc, sebuah layanan pembayaran online populer, memotong akses ke situs tersebut. Sementara, Pemerintah Swiss juga menutup rekening bank milik Assange, pada Senin kemarin yang berakibat pembekuan puluhan ribu Euro miliknya.

Namun WikiLeaks masih bisa mengumpulkan sumbangan melalui transfer bank ke afiliasi di Islandia dan Jerman, serta melalui surat ke alamat di University of Melbourne, Australia.

Sejak Juli lalu, WikiLeaks marah terhadap pemerintah Amerika dan menyebarkan puluhan ribu dokumen rahasia militer negara tersebut selama perang di Afghanistan dan Irak. Pemerintah Amerika berusaha meredam aksi itu dengan melakukan investigasi dan mengumumkan bahwa kelompok ini membahayakan keamanan nasional Amerika dan upaya diplomatik di seluruh dunia.

Akibatnya, WikiLeaks diserang dari berbagai sisi seperti soal hukum, keuangan, dan teknologi. Namun bala bantuan justru berdatangan, diantaranya dengan membuat lebih dari 500 situs mirror di seluruh dunia untuk memastikan bahwa dokumen-dokumen rahasia yang diterbitkan Wikileaks tersebut tetap aman dan tersimpan di berbagai tempat.

Hrafnsson, juru bicara WikiLeaks, mengatakan kelompok itu telah mengirimkan ribuan salinan arsip yang masih terenkripsi untuk mengantisipasi jika Assange dalam kondisi darurat misalnya ia ditangkap atau situsnya ditutup. Ia mengatakan, arsip tersebut telah tersebar kepada lebih dari 100.000 orang dalam bentuk terenkripsi.

AP | HAYATI MAULANA NUR

*) Tempointeraktif, 08 Desember 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan