-->

Kronik Toggle

Ini Dia Buku Santapan Ariel Peterpan

Bandung – Nazril Irham alias Ariel Peterpan punya kebiasaan baru. Sejak pindah dari Rumah Tahanan Markas Besar Kepolisian di Kebayoran Baru Jakarta Selatan ke Rumah Tahanan Negeri Bandung, 22 Oktober lalu, dia keranjingan membaca.

“Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, saya baca buku terus,” ujarnya saat ditemui Tempo di sela pengadilan di Bandung. Terdakwa kasus video mesum ini memulai harinya di Kebon Waru usai salat subuh langsung membuka buku. Biasanya ditemani rokok dan segelas air putih.

Sesi baca pagi berlangsung sampai pukul 9. Setelah itu dia mandi, sebab biasanya teman, saudara, dan penggemarnya kerap membesuknya sekitar pukul 10. Termasuk sang pacar, Luna Maya, yang mengunjunginya minimal sepekan sekali.

Lewat tengah hari, jam besuk habis. Usai makan siang, Ariel, 30 tahun kembali melanjutkan hobinya sampai magrib. “Habis magrib, makan, isya, lanjut baca sampai tidur,” katanya

Pola kegiatan ini berubah total ketimbang saat dia mendekam di Rutan Mabes Polri. “Di sana tidurnya siang, malah sering tidak tidur,” ujar penyanyi kelahiran Pangkalan Brandan, Sumatera Utara ini.

Buku yang baru kelar dibacanya adalah “Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa – 4 Serangkai Pendiri Republik.” “Itu buku keren banget,” kata Ariel, sumringah. Sejak lama, dia memang tertarik dengan sejarah. Namun kesibukannya sebagai artis papan atas membuatnya tidak bisa meluangkan banyak waktu untuk membaca.

Dia tidak menyia-nyiakan “kesempatan” untuk memiliki banyak waktu di balik jeruji untuk membaca buku sejarah. Pilihan pertamanya jatuh pada Biografi Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams. Setelah itu dia tertarik dengan ide-ide sosialisme. Seorang sipir menyodorkannya “Tan Malaka-Bapak Republik yang Dilupakan”, satu dari empat seri Bapak Bangsa.

Dia langsung minta Luna untuk memboyong biografi kuartet founding-fathers itu pada kunjungan berikutnya. Selain biografi tokoh nasional, dia juga melalap kehidupan pembesar Islam seperti Umar bin Khattab dan buku ajaran Islam. “Pokoknya siang malam baca terus,” kata Ariel.

Selepas merampungkan “Empat Serangkai”, ada satu buku yang diincarnya, yaitu “Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto” karya sejarawan Universitas British Columbia, Kanada. Buku 392 halaman ini terbit 2006, namun dibredel pemerintah, dan baru boleh kembali terbit mulai Oktober lalu. “Tapi carinya susah sekali, saya sudah minta tolong teman-teman tidak ada yang dapat,” ujar Ariel.

Meski isi kepalanya bertambah, buku juga membawa dampak negatif. “Jadi merokok terus, karena baca selalu sambil merokok,” katanya, tersenyum. Konsumsi rokok hariannya meningkat dari satu jadi dua bungkus. Dampak lainnya, dia jadi malas olahraga. “Sejak di Bandung, dia tambah gemuk,” kata Luna.

REZA M

*) Tempointeraktif, 3 Desember 2010

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan