-->

Tokoh Toggle

Harry A Poeze, 4 Dasawarsa Memecahkan Misteri Tan Malaka

232345_472228_BOKS_Harry_a_Poeze_Foto_DalemTak banyak peneliti yang menggeluti tokoh di negeri ini untuk dijadikan obyek penelitian. Namun sejarawan Belanda, Harry A Poeze, menjadi segelintir ilmuwan yang terus berkutat meneliti tentang Tan Malaka. Hampir empat dasa warsa Harry berupaya memecahkan berbagai misteri tentang Tan Malaka.
Tak banyak peneliti yang menggeluti tokoh di negeri ini untuk dijadikan obyek penelitian. Namun sejarawan Belanda, Harry A Poeze, menjadi segelintir ilmuwan yang terus berkutat meneliti tentang Tan Malaka. Hampir empat dasa warsa Harry berupaya memecahkan berbagai misteri tentang Tan Malaka.

==============
Antoni, Jakarta
==============

MILK coklat mengawali perbincangan Harry A Poeze dengan JPNN, beberapa waktu lalu. Ditemui di kantor Yayasan obor, Jalan Plaju, Jakarta Pusat, pria yang akrab disapa dengan nama Harry itu masih disibukkan dengan agenda diskusi di beberapa kota tentang tiga jilid buku Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia.

Namun pemilik nama lengkap Harry Albert Poeze yang dikenal rendah hati itu masih sempat meluangkan dua jam waktunya untuk meladeni pertanyaan-pertanyaan tentang ketekunannya meneliti Tan Malaka. Secara telaten, Harry pun menuturkan awal perkenalannya dengan Tan Malaka.

Berawal dari kuliah di Universitas Amsterdam tahun 1970, Harry mendapat kurikulum sejarah Indonesia. Ketertarikan dalam hal sejarah perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme Belanda, mengantar Harry pada buku tentang Kemunculan Partai Komunis di Indonesia karya Ruth T McVey. “Ada tokoh-tokoh disebut dalam buku itu, termasuk Tan Malaka. Tapi soal Tan Malaka itu paling misterius,” ucap Harry.

Akhirnya, ia pun menulis skripsi tentang Tan Malaka hingga lulus tahun 1972. Hanya berselang 4 tahun saja Harry sudah mengantongi gelar doktor dari Universitas Amsterdam karena meriset Tan Malaka.

Tentunya tak mudah bagi pria yang pada 20 Oktober lalu genap berusia 63 tahun itu untuk memecahkan misteri-misteri seputar Tan Malaka. Untuk merekonstruksi riwayat hidup Tan Malaka saja, kata Harry, sangat sulit. Ia sampai harus meneliti latar belakang penulis-penulis tentang Tan Malaka yang jumlahnya tak banyak.

Soal kesulitan, Harry mencontohkan ketika ia harus dihadapkan pada informasi-informasi yang tidak sahih tentang Tan Malaka. “Kesulitan meriset karena terutama sumber-sumber yang sangat tersebar dan jarang. Sumbernya juga banyak yang kontradiktif, terutama sumber-sumber yang banyak bohong dan fitnah,” ucapnya.

Menurut Harry, pihak yang menyebarkan kabar bohong tentang Tan Malaka justru dari kalangan komunis di Indonesia. Sebab, Tan Malaka dianggap pengkhianat karena tidak mendukung pemberontakan komunis pada 1927. “Ada banyak orang yang dengan sadar membohongi saya. Yang memfitnah (Tan Malaka) orang komunis sendiri. Dia tidak ikut Moskwa dan Stalin setelah pemeberontakan komunis 1927. Karena itu orang-orang seperti Muso dan Alimin (tokoh komunis) menganggap Malaka sebagai orang yang harus dilenyapkan,” bebernya.

Selain itu, sumber dari kalangan militer yang menjadi eksekutor atas Tan Malaka juga memilih bungkam. “Terutama dari eks-Brawijaya (Bataliyon) karena kekhawatiran akan adanya balas dendam dari pengikut Tan Malaka. Waktu Tan Malaka dieksekusi di lereng Gunung Wilis pada 1948, masih banyak pengikutnya dari Partai Murba yang baru saja didirikan,” papar Harry.

Belum lagi, sikap pemerintahan Orde Baru yang “mengharamkan” sosok Tan Malaka membuat Harry kesulitan saat melakukan riset lanjutan. Gelar pahlawan yang disandang Tan Malaka ternyata tak membuat pemerintahan Orde Baru menempatkan Tan Malaka sebagai sosok istimewa.

Harry memang tidak masuk dalam daftar cekal dan dilarang masuk Indonesia. Namun tetap saja halangan ditemuinya di lapangan ketika berusaha menemui sumber-sumber utama dalam meneliti Tan Malaka.

Misalnya, ketika Harry berkunjung ke kampung halaman Tan Malaka di Pandan Gadang, Sumatera Barat tahun 1976. Waktu itu, tuturnya, akses transportasi ke Pandan Gadang begitu sulit karena jalanan yang buruk. Bahkan Harry harus menyewa ojek untuk mengantarkannya ke rumah Tan Malaka.

Pandan Gadang seolah-olah memang diisolasi oleh pemerintah Orde Baru. “Saya dan istri saya dicegat dua orang polisi. Mereka melarang kita masuk ke Pandan Gadang. Saya pura-pura tak bisa berbahasa Indonesia dan mengaku sekedar tourist yang ingin berwisata. Beruntung karena membawa istri, akhirnya saya lolos ke Pandan Gadang untuk melakukan penelitian,” kenangnya.

Karenanya pula Harry merasa tak heran ketika buku karangannya yang berjudul “Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik” dilarang pemerintah Orde Baru. Tapi larangan itu seolah justru mendongkrak nama Tan Malaka maupun Harry sebagai penulisnya.

“Ada paradoks, buku saya itu dilarang zaman Orde Baru, tapi jadi populer karena dilarang. Karena pelarangan oleh pemrintah Indonesia, buku itu malah mendapat perhatian lebih besar dari publik,” ulasnya.

Ketekunan Harry bertahun-tahun meriset Tan Malaka bukannya tanpa hasil. Namun setiap misteri terpecahkan, muncul lagi sebuah misteri baru.

Sebagai contoh adalah tahun kelahiran Tan Malaka. Awalnya, Harry meyakini Tan Malaka lahir tahun 1897. Tapi kini ia meyakini bahwa tahun kelahiran Tan Malaka adalah 1894, dan bukan 1897. Kepastian itu diperolehnya ketika mendapatkan sebuah dokumen tentang daftar murid baru Sekolah Guru di Bukittinggi. “Dalam daftar itu adan murid bernama Ibrahim (nama kecil Tan Malaka) yang masuk sekolah itu pada 1907. Saat masuk sekolah, Tan Malaka tertulis berusia 13 tahun,” kata Harry.

Meski demikian tetap saja masih ada misteri yang ingin dipecahkannya. “Saya masih belum mendapat kepastian tanggal dan bulan kelahiran Tan Malaka,” ucapnya.

Hasil lain dari riset Harry, adalah bertemu dengan Zulfikar, kemenakan Tan Malaka yang kini tinggal di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Keberadaan Zulfikar menjadi penting karena menjadi pembanding bagi DNA dari kerangka dari sebuah mmakam di Selopanggung, Kediri, yang diyakini Harry sebagai Tan Malaka.

Meski begitu Harry merasa yakin bahwa kuburan di Desa Selopanggung, Semen, Kediri, adalah makam Tan Malaka. Bahkan untuk soal ini, Harry merasa terbantu dengan sebuah tulisan di Jawa Pos pada tahun 2007 yang masih disimpannya.

“Saya pernah terbantu dengan wartawan Jawa Pos yang ke Selopanggung dan meneruskan riset saya dengan tulisan untuk koran. Itu menjadi informasi baru. Itu salah satu yang membantu untuk memperkuat dugaan tentang lokasi kuburan Tan Malaka. Penulisnya adalah wartawan yang akan saya puji dalam edisi buku Tan Malaka nanti. Saya masih simpan korannya,” sebutnya.

Lantas setelah 40 tahun meneliti Tan Malaka, apakah menjadikan Harry bersikap dan berideologi seperti tokoh yang ditelitinya” “Saya moderat, saya dulu aktif sebagai anggota Partai Sosial Demokrat di Belanda. Tapi sekarang sudah tidak ada waktu,” ujar mantan anggota Dewan Kota Castricum, sekitar 20 kilometer dari Amsterdam. “Saya 11 tahun di Dewan Kota, termasuk menjadi pembantu Walikota,” kenang Harry tentang kiprahnya sebagai politisi dalam kurun waktu 1971 hingga 1982.

Harry juga memilih hidup berumah tangga dan menetap di Castricum, tidak seperti Tan Malaka yang memilih tidak menikah demi mendukung sikap revolusionernya untuk memerdekan bangsa. Soal alasan Tan Malaka tidak menikah, Harry menuturkan bahwa dalam kesehariannya tokoh sentral Partai Murba itu hanya memiliki dua stel pakaian, satu helm, dan satu buku catatan. “Agar gampang kalau sewaktu-waktu melarikan diri,” ujarnya.

Tapi berbeda dengan tokoh yang ditelitinya, Harry kini adalah ayah dari dua anak dan seorang cucu bernama Bimo. Dari pernikahannya dengan wanita bernama Henny, Harry memiliki dua anak laki-laki. Salah satu anaknya menikahi perempuan asal Surabaya yang memiliki anak bernama Bimo. “Sekarang tingal di Harleem, tak jauh dari dulu tempat Tan Malaka tinggal di Belanda,” ujarnya dengan nada bangga.

Apakah Harry masih ingin berkutat dengan penelitian tentang Tan Malaka? “Ya,” jawab mantan direktur penerbitan di lembaga  penelitian kerajaan Belanda atau yang lebih tenar dengan nama Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde (KITLV) sembari mengangguk. Karena dari perburuannya tentang Tan Malaka itu, selalu ditemukan data baru.

Harry bahkan menemukan data baru tentang Tan Malaka di Rusia. “Isi datanya adalah laporan ke pemerintah Moskwa tentang kiprah Tan Malaka,” ucapnya. “Saya pikir riset sudah hampir selesai. Tapi dari sana-sini memang ada saja menemukan tulisan tentang Tan Malaka. Saya memang ke pelosok dunia untuk memburu jejak-jejak Tan Malaka. Sejarah memang selalu ditulis orang yang menang. Saya cuma ingin memberi tempat bagi tokoh yang dilupakan,” ujarnya.(ara/jpnn)

*) Jawapos, 8 Desember 2010

==============
Antoni, Jakarta
==============

MILK coklat mengawali perbincangan Harry A Poeze dengan JPNN, beberapa waktu lalu. Ditemui di kantor Yayasan obor, Jalan Plaju, Jakarta Pusat, pria yang akrab disapa dengan nama Harry itu masih disibukkan dengan agenda diskusi di beberapa kota tentang tiga jilid buku Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia.

Namun pemilik nama lengkap Harry Albert Poeze yang dikenal rendah hati itu masih sempat meluangkan dua jam waktunya untuk meladeni pertanyaan-pertanyaan tentang ketekunannya meneliti Tan Malaka. Secara telaten, Harry pun menuturkan awal perkenalannya dengan Tan Malaka.

Berawal dari kuliah di Universitas Amsterdam tahun 1970, Harry mendapat kurikulum sejarah Indonesia. Ketertarikan dalam hal sejarah perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme Belanda, mengantar Harry pada buku tentang Kemunculan Partai Komunis di Indonesia karya Ruth T McVey. “Ada tokoh-tokoh disebut dalam buku itu, termasuk Tan Malaka. Tapi soal Tan Malaka itu paling misterius,” ucap Harry.

Akhirnya, ia pun menulis skripsi tentang Tan Malaka hingga lulus tahun 1972. Hanya berselang 4 tahun saja Harry sudah mengantongi gelar doktor dari Universitas Amsterdam karena meriset Tan Malaka.

Tentunya tak mudah bagi pria yang pada 20 Oktober lalu genap berusia 63 tahun itu untuk memecahkan misteri-misteri seputar Tan Malaka. Untuk merekonstruksi riwayat hidup Tan Malaka saja, kata Harry, sangat sulit. Ia sampai harus meneliti latar belakang penulis-penulis tentang Tan Malaka yang jumlahnya tak banyak.

Soal kesulitan, Harry mencontohkan ketika ia harus dihadapkan pada informasi-informasi yang tidak sahih tentang Tan Malaka. “Kesulitan meriset karena terutama sumber-sumber yang sangat tersebar dan jarang. Sumbernya juga banyak yang kontradiktif, terutama sumber-sumber yang banyak bohong dan fitnah,” ucapnya.

Menurut Harry, pihak yang menyebarkan kabar bohong tentang Tan Malaka justru dari kalangan komunis di Indonesia. Sebab, Tan Malaka dianggap pengkhianat karena tidak mendukung pemberontakan komunis pada 1927. “Ada banyak orang yang dengan sadar membohongi saya. Yang memfitnah (Tan Malaka) orang komunis sendiri. Dia tidak ikut Moskwa dan Stalin setelah pemeberontakan komunis 1927. Karena itu orang-orang seperti Muso dan Alimin (tokoh komunis) menganggap Malaka sebagai orang yang harus dilenyapkan,” bebernya.

Selain itu, sumber dari kalangan militer yang menjadi eksekutor atas Tan Malaka juga memilih bungkam. “Terutama dari eks-Brawijaya (Bataliyon) karena kekhawatiran akan adanya balas dendam dari pengikut Tan Malaka. Waktu Tan Malaka dieksekusi di lereng Gunung Wilis pada 1948, masih banyak pengikutnya dari Partai Murba yang baru saja didirikan,” papar Harry.

Belum lagi, sikap pemerintahan Orde Baru yang “mengharamkan” sosok Tan Malaka membuat Harry kesulitan saat melakukan riset lanjutan. Gelar pahlawan yang disandang Tan Malaka ternyata tak membuat pemerintahan Orde Baru menempatkan Tan Malaka sebagai sosok istimewa.

Harry memang tidak masuk dalam daftar cekal dan dilarang masuk Indonesia. Namun tetap saja halangan ditemuinya di lapangan ketika berusaha menemui sumber-sumber utama dalam meneliti Tan Malaka.

Misalnya, ketika Harry berkunjung ke kampung halaman Tan Malaka di Pandan Gadang, Sumatera Barat tahun 1976. Waktu itu, tuturnya, akses transportasi ke Pandan Gadang begitu sulit karena jalanan yang buruk. Bahkan Harry harus menyewa ojek untuk mengantarkannya ke rumah Tan Malaka.

Pandan Gadang seolah-olah memang diisolasi oleh pemerintah Orde Baru. “Saya dan istri saya dicegat dua orang polisi. Mereka melarang kita masuk ke Pandan Gadang. Saya pura-pura tak bisa berbahasa Indonesia dan mengaku sekedar tourist yang ingin berwisata. Beruntung karena membawa istri, akhirnya saya lolos ke Pandan Gadang untuk melakukan penelitian,” kenangnya.

Karenanya pula Harry merasa tak heran ketika buku karangannya yang berjudul “Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik” dilarang pemerintah Orde Baru. Tapi larangan itu seolah justru mendongkrak nama Tan Malaka maupun Harry sebagai penulisnya.

“Ada paradoks, buku saya itu dilarang zaman Orde Baru, tapi jadi populer karena dilarang. Karena pelarangan oleh pemrintah Indonesia, buku itu malah mendapat perhatian lebih besar dari publik,” ulasnya.

Ketekunan Harry bertahun-tahun meriset Tan Malaka bukannya tanpa hasil. Namun setiap misteri terpecahkan, muncul lagi sebuah misteri baru.

Sebagai contoh adalah tahun kelahiran Tan Malaka. Awalnya, Harry meyakini Tan Malaka lahir tahun 1897. Tapi kini ia meyakini bahwa tahun kelahiran Tan Malaka adalah 1894, dan bukan 1897. Kepastian itu diperolehnya ketika mendapatkan sebuah dokumen tentang daftar murid baru Sekolah Guru di Bukittinggi. “Dalam daftar itu adan murid bernama Ibrahim (nama kecil Tan Malaka) yang masuk sekolah itu pada 1907. Saat masuk sekolah, Tan Malaka tertulis berusia 13 tahun,” kata Harry.

Meski demikian tetap saja masih ada misteri yang ingin dipecahkannya. “Saya masih belum mendapat kepastian tanggal dan bulan kelahiran Tan Malaka,” ucapnya.

Hasil lain dari riset Harry, adalah bertemu dengan Zulfikar, kemenakan Tan Malaka yang kini tinggal di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Keberadaan Zulfikar menjadi penting karena menjadi pembanding bagi DNA dari kerangka dari sebuah mmakam di Selopanggung, Kediri, yang diyakini Harry sebagai Tan Malaka.

Meski begitu Harry merasa yakin bahwa kuburan di Desa Selopanggung, Semen, Kediri, adalah makam Tan Malaka. Bahkan untuk soal ini, Harry merasa terbantu dengan sebuah tulisan di Jawa Pos pada tahun 2007 yang masih disimpannya.

“Saya pernah terbantu dengan wartawan Jawa Pos yang ke Selopanggung dan meneruskan riset saya dengan tulisan untuk koran. Itu menjadi informasi baru. Itu salah satu yang membantu untuk memperkuat dugaan tentang lokasi kuburan Tan Malaka. Penulisnya adalah wartawan yang akan saya puji dalam edisi buku Tan Malaka nanti. Saya masih simpan korannya,” sebutnya.

Lantas setelah 40 tahun meneliti Tan Malaka, apakah menjadikan Harry bersikap dan berideologi seperti tokoh yang ditelitinya” “Saya moderat, saya dulu aktif sebagai anggota Partai Sosial Demokrat di Belanda. Tapi sekarang sudah tidak ada waktu,” ujar mantan anggota Dewan Kota Castricum, sekitar 20 kilometer dari Amsterdam. “Saya 11 tahun di Dewan Kota, termasuk menjadi pembantu Walikota,” kenang Harry tentang kiprahnya sebagai politisi dalam kurun waktu 1971 hingga 1982.

Harry juga memilih hidup berumah tangga dan menetap di Castricum, tidak seperti Tan Malaka yang memilih tidak menikah demi mendukung sikap revolusionernya untuk memerdekan bangsa. Soal alasan Tan Malaka tidak menikah, Harry menuturkan bahwa dalam kesehariannya tokoh sentral Partai Murba itu hanya memiliki dua stel pakaian, satu helm, dan satu buku catatan. “Agar gampang kalau sewaktu-waktu melarikan diri,” ujarnya.

Tapi berbeda dengan tokoh yang ditelitinya, Harry kini adalah ayah dari dua anak dan seorang cucu bernama Bimo. Dari pernikahannya dengan wanita bernama Henny, Harry memiliki dua anak laki-laki. Salah satu anaknya menikahi perempuan asal Surabaya yang memiliki anak bernama Bimo. “Sekarang tingal di Harleem, tak jauh dari dulu tempat Tan Malaka tinggal di Belanda,” ujarnya dengan nada bangga.

Apakah Harry masih ingin berkutat dengan penelitian tentang Tan Malaka? “Ya,” jawab mantan direktur penerbitan di lembaga  penelitian kerajaan Belanda atau yang lebih tenar dengan nama Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde (KITLV) sembari mengangguk. Karena dari perburuannya tentang Tan Malaka itu, selalu ditemukan data baru.

Harry bahkan menemukan data baru tentang Tan Malaka di Rusia. “Isi datanya adalah laporan ke pemerintah Moskwa tentang kiprah Tan Malaka,” ucapnya. “Saya pikir riset sudah hampir selesai. Tapi dari sana-sini memang ada saja menemukan tulisan tentang Tan Malaka. Saya memang ke pelosok dunia untuk memburu jejak-jejak Tan Malaka. Sejarah memang selalu ditulis orang yang menang. Saya cuma ingin memberi tempat bagi tokoh yang dilupakan,” ujarnya.(ara/jpnn)

*) Jawapos, 12 Desember 2010

1 Comment

aditya - 20. Des, 2010 -

tak banyak yang mengerti tan malaka….bagus informasinya

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan