-->

Kronik Toggle

Eni Suprihatin: “Tak gentar dengan angkringan hotspotan itu, apa itu, ya…”

Eni Suprihatin (Foto: Bajang/IBOEKOE)

Eni Suprihatin (Foto: Bajang/IBOEKOE)

YOGYAKARTA–Sarasehan angkringan bertema “sehat, irit ragat tur payu” digelar Balai Belajar Bersama Angkringan Buku di Perpustakaan gelaranibuku, Patehan Wetan No.3, Kraton, Alun-Alun Kidul,  Yogyakarta (12/12).

Selain Bondan Nusantara dan Nuzulina, salah satu pembicara yang dihadirkan adalah Eni Suprihatin (37). Ia menceritakan sejarah angkringan Teh Poci milik keluarganya yang kini berdiri belakang Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta. Menurutnya, angkringan Teh Poci tersebut dibangun dengan susah payah oleh ayahnya, Pak Min. Pak Min adalah pengusaha angkringan yang sangat populer di Yogyakarta.

Lebih lanjut Bu Eni bercerita, sebelumnya Pak Min adalah penjudi berat. Hampir setiap hari dan ke mana pun dia pergi hanya untuk judi, sampai-sampai ia nyaris melupakan anaknya sendiri. Namun kemudian, entah bagaimana, Pak Min berniat untuk membuka usaha angkringan.

Tapi Pak Min ingin sesuatu yang lain. Angkringan tidak disajikan dalam bungkusan sekepal mirip “nasi kucing”. Oleh Pak Min, nasi dibuat seperti prasmanan. Awalnya nama tempatnya berjualan adalah Warung Tenda Biru. Nama tersebut berubah menjadi Angkringan Teh Poci karena  tehnya disuguhkan dengan poci.

“Nama Teh Poci itu sendiri adalah nama yang diusulkan oleh Pak Bondan Nusantara dan kawan-kawan yang sering kumpul di sana. Pak Bondan ini sendiri termasuk pelanggan-pelanggan pertama angkringan Pak Min. Kebanyakan dari pelanggan pak Min adalah para seniman yang sering nongkrong sampai larut malam,” jelasnya.

Bagi Bu Eni, sebelum terkenal seperti sekarang, duka dihadapi datang berganti-ganti. Terutama konflik keluarga yang membuat angkringan Pak Min pindah-pindah sebelum menetap di belakang SMSR. “Tapi saya bertekad meneruskan usaha itu. Apa pun kendalanya,” tekadnya. Karena itu, selain membuka angkringan Teh Poci Bu Eni juga menambahkan kolam pemancingan yang sekarang dikelolah oleh ayah dan adiknya.

“Walaupun sekarang ada banyak angkringan dengan fasilitas hotspot-hotspotan itu, apa itu, ya, saingan-saingan banyak, tapi saya gak takut. Kalau pintu rejeki saya segitu, ya saya terima. Kalau pun rejeki saya dikurangi, ya udah, saya terima. Pokoknya apa adanya,” ujar Bu Eni menutup pembicaraan. (Nurhidayah/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan