-->

Resensi Toggle

Cine Book Club #6: Good Night, and Good Luck | George Clooney | 2005

good nightSebagai kelanjutan dari seri pemutaran film-film memperingati Bulan Jurnalistik Desember ini, Komunitas film Cine Book Club Yogyakarta bekerjasama dengan Indonesia Buku memutar film “Good Night, and Good Luck” (11/12) pada pukul 19.00 di Studio 2 Perpustakaan Indonesia Buku, Patehan Wetan No Tiga, Kraton, Yogyakarta.

Film produksi 2005 ini merupakan film kedua yang disutradari sekaligus dibintangi aktor kenamaan Hollywood, George Clooney.  Sejalan dengan keseluruhan tema “film jurnalistik” yang diputar selama bulan Desember oleh komunitas ini, “Good Night, and Good Luck” merupakan film mengenai praktik jurnalisme televisi Amerika Serikat pada tahun 1950-an.

Naskah film ini diangkat berdasarkan kisah nyata mengenai masa-masa genting awal perang dingin saat Amerika dilanda sikap paranoid dengan segala hal yang berbau komunisme.

Seorang senator bernama Joseph McCarthy selama 1950-1954 kondang berkat tuduhannya. Ia menyeru-nyeru bahwa terdapat ratusan orang yang disangka tersangkut aktivitas ataupun bersimpati pada komunisme berada di pemerintahan Amerika Serikat.

Langkah-langkahnya yang penuh teror dan tudingan menyebabkan banyak pihak gentar. Bahkan insan pers turut diam, membiarkan aktivitas senator tersebut yang sebetulnya inkonsistusional.

Satu-satunya pihak yang berani menantangnya adalah sekelompok jurnalis yang bekerja di saluran Columbia Broadcasting System (CBS).  Dipimpin oleh host program “See It Now” Robert M. Murrows, kelompok kecil ini tak gentar melaporkan beberapa tindakan tak pantas sang senator. Termasuk fitnah yang menyebabkan seorang tentara dipecat dari jabatannya hanya karena ayahnya dituduh simpatisan komunis.

Film ini membuka mata penonton, termasuk para penonton pemutaran Cine Book Club, bahwa jurnalisme televisi sebenarnya mampu menampilkan sebuah posisi tawar yang luar biasa sebagai anjing penjaga (watchdog) sistem yang mengarah tiran.

Berbagai kompleksitas kerja seorang jurnalis tergambar dalam film tersebut, termasuk perdebatan antara pemilik stasiun televisi CBS dengan Murrow, bahwa jurnalisme sejatinya tidak netral, menyinggung pemberitaan mereka yang melulu menjatuhkan sang senator tanpa memberikannya hak jawab proporsional.

Film ini, dengan tampilannya yang unik karena berwarna hitam putih, memberi kita gambaran bagaimana kerja ideal jurnalisme televisi seharusnya.

Hasil diskusi anggota Cine Book Club di akhir pemutaran juga bersepakat betapa kontrasnya penggambaran film tersebut dengan kondisi jurnalisme televisi Indonesia akhir-akhir ini. Misalnya yang melulu menjual sensasi seperti dalam kasus Merapi beberapa waktu lalu.

Tak berlebihan rasanya, jika kritikus film kawakan Amerika, Roger Ebert, berpendapat bahwa “Good Night, and Good Luck” adalah salah satu film jurnalisme terbaik sepanjang masa.

Seperti biasanya pula, pemutaran ini diakhiri dengan penyerahan bingkisan kepada dua peserta diskusi paling aktif dari Indonesia Buku. Ini dia yang berutung: Prima SW mendapatkan buku “Kaos Seabad Pers Kebangsaan” dan Mahathir mendapatkan buku “Gelaran Almanak”.

Cine Book Club kali ini mengucapkan terimakasih atas kehadiran pencinta film-film buku dan telah menonton dengan setia. Terutama kepada: Teta, Aya, Khotim, Tutik, Faqih, Dafi, Azka, Jaka Hendra, Rhea, Punkaz, ferry, Khairul, Islah, Panjul, Cahyo, Yemmestrie, Iwan, dan Sukma. (Ardyan M Airlangga/Cine Book Club)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan