-->

Kronik Toggle

Bondan Nusantara: “Angkringan jangan tercerabut dari akarnya”

Bondan Nusantara

Bondan Nusantara (Foto: Bajang/IBOEKOE)

YOGYAKARTA — Warung angkringan berawal dari tradisi merayakan malam lailatul qodar yang biasanya jatuh pada 21 Ramadhan pada zaman Pakubuwono IX. Lalu tradisi ini berkembang dengan hadirnya warung-warung baru dan menjadi cikal bakal angkringan sampai hari ini.

Demikian pendapat seniman ketoprak Bondan Nusantara dalam acara Sarasehan Angkringan di Perpustakaan Gelaranibuku, Alun-Alun Kidul, Kraton, Yogyakarta (12/12).

Sepenuturan Bondan, angkringan datang dari Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Awalnya dari spiritualistas Jawa kemudian dijadikan sebagai tempat lek-lekan.

Sebelum muncul di Yogyakarta, angkringan berkembang dahulu di Surakarta. Namanya “Hik”. Nama “Hik” berasal dari kata “hek”. karena “hek” berkonotasi negatif, yakni kotoran, maka diganti menjadi “hik” sebagai tempat yang dekat dengan jembatan tempat para nongkrong.

Pindah di Yogyakarta, “hik” berubah jadi “angkringan”. “Mungkin karena di Yogya memakai kereta dorong. Atau bisa juga “angkringan” berasal dari bahasa Indonesia; “angkring” yang berarti nongkrong,” jelas Bondan di depan peserta sarasehan yang terdiri dari warga sekitar.

Sebagai tempat nongkrong atau lek-lekan, angkringan menjadi semacam pusat komunikasi antarwarga. Semuanya bisa diekspresikan. Di angkringan ini diskusi bisa mengalir ke mana saja. Mulai dari pembicaraan yang sederhana sampai masalah politik.

“Di angkringan, semua perbedaan  bisa diselesaikan secara damai dan rukun. Jarang ada perkelahian dan bunuh-bunuhan di angkringan. Dan ini yang tercermin di Yogya. Makanya, menurut saya, yang istimewa di Yogya itu rakyatnya. Salah satunya ya tradisi angkringan ini,” tegas seniman ketoprak terkemuka ini.

Berubah

Seiring perkembangan zaman, model dan pemanfaatan angkringan pun berubah. Masuknya investor atau pemodal yang mengeruk uang dari penjualan angkringan, menjadikan posisi para pelaku pengusaha angkringan dirugikan. Keuntungan lebih banyak dinikmati investor dibandingkan pekerja angkringannya. Hadirnya Angkringan hot spot, Angkringan Gaul dan angkringan modern lainnya telah membuat persepsi masyarakat atas angkringan mulai bergeser.

Menurut Bondan Nusantara, angkringan seperti House of Raminten milik Mirota Batik itu bisa mengancam ekonomi rakyat yang dikelola secara swadaya oleh warga. Angkringan seperti itu angkringan palsu. Nasinya saja yang seperti nasi kucing. Lainnya mahal-mahal. Lagi pula sudah berbeda peruntukannya seperti angkringan yang biasanya menjadi pusat informasi warga. Miriplah dengan yang Angkringan Hotspot. Jebakan individual muncul, tak seperti tradisi yang sudah terbangun selama ini.

“Diusahakan tetap seperti peruntukannya. Hotspot boleh. Tapi, pengunjung bisa dipersilakan membuat minuman sendiri. Terserah dicampurnya seperti apa. Jadi, ada eksperimen. Ada sapaan-sapaan. Walaupun yang datang menenteng laptop,” usul Bondan.

Acara berlangsung meriah dan beberapa kali terdengar gelak tawa dari para peserta yang mendegarkan beberapa guyonan ala Pak Bondan. Acara yang dipandu M Faiz Ahsoul ini juga menghadirkan pakar tataboga Nuzulina dan Eni yang datang mewakili Angkringan Lek Min yang tenar di Yogya itu.

Acara diakhiri dengan menikmati suguhan nasi angkring beserta lauk khas angkringan, minuman, kacang dan pisang rebus serta masakan tradisional lainnya yang disediakan di Angkringan Buku. (Teta Fathiyah/IBOEKOE)

1 Comment

Dimas Candra van Bratan - 13. Des, 2010 -

Keren Mbak Teta tulisannya…jadi manteb insyaALLAH mau usaha HIK di Sumatera 😀

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan