-->

Lainnya Toggle

Bau Betina dan Tiga Gadis Kelas 8

IraOleh Ira Wangsa

Tiga orang gadis, ketiganya kelas 8, datang ke Perpustakaan Gelaran IBOEKOE untuk mengembalikan dan meminjam buku. Salah satunya bertanya pada Mbak Khotim, “Mbak, ada cerita-cerita horor?”

“Ada, tapi belum masuk katalog, jadinya belum bisa dibawa pulang. Tapi kalo dibaca di sini aja bisa kok.”

“Nanti ada komik juga gak?”

“Iya, ada.”

Mereka lalu melihat-lihat isi perpustakaan. Salah satunya (sebut saja A) melihat sebuah buku yang rupanya menarik minatnya. A berkata spontan, “Eh, Bau Betina. Betina bau po? Buku opo ki?” Kedua temannya juga ikut memperhatikan, Si A lalu mengambil dan membacanya. “Oh puisi ki,” ujarnya dengan suara rendah. Si A lalu menunjukkannya pada dua temannya yang lain, dan membacakan satu judul puisi dengan suara setengah berbisik. Kedua temannya senyam-senyum. Setelah selesai membaca Si A bilang, “Wah, saraf ki. Njijiki.”

Saya mengira gadis itu akan meletakkan buku itu. Tapi dugaan saya salah, dia semakin tertarik dengan isinya. Dia lalu duduk di kursi semakin serius membaca, dan setiap ada bagian erotis yang menurutnya perlu di-share bersama kedua temannya, Si A akan membacakannya, tetap berbisik-bisik. Aku dengan sigap mencuri pandang. Dia pun sama sigapnya melirikkan mata lalu sedikit memutar arah sehingga sebagian punggungnya menutupi buku yg sedang ia baca.

Saya tak tahu harus berbuat apa. Padahal kadang saya mengomentari buku-buku yang mereka baca. Misalnya, “Oh, itu buku bagus”. Atau komentar-komentar lainnya. Saya hanya tak mengerti bagaimana mesti berkomentar sekarang. Bukan berarti Bau Betina adalah buku yang tidak bagus. Saya hanya bingung harus berkomentar apa jika yang membaca Bau Betina adalah anak gadis kelas 8. Saya juga berpikir bahwa Binhad menulis puisi-puisi erotis tersebut tentu saja tidak ditujukan untuk anak usia SMP seperti mereka. Saya pun memutuskan untuk tetap diam saja dan pura-pura sibuk dengan Facebook.

Hingga saya selesai menulis ini, gadis itu masih tekun membaca Bau Betina sembari sesekali menggelengkan kepala dan berkata, “Ih, saru. Njijiki.”

Patehan, 22 Desember 2010, 13:05

1 Comment

jrwh - 23. Des, 2010 -

Binhad Afuuuu!

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan