-->

Kronik Toggle

Tragedi Bom Bali Dibukukan Dalam Novel Grafis

KUTA – Peristiwa tragedi kemanusiaan Bom Bali I, 12 Oktober 2002 dikisahkan dalam sebuah komik atau novel grafis yang berisikan kisah nyata para pelaku dan korban bom yang menewaskan 202 orang.

“Untuk memperingati tragedi kemanusiaan itu, kami meluncurkan novel grafis berjudul `Ketika Hati Nurani Bicara` yang mengisahkan kisah di balik tragedi Bom Bali I,” ujar Ketua Lazuardi Biru, Dyah Madya Ruth SN, selaku penggagas buku di Kuta, Selasa.

Dalam peringatan sewindu peristiwa Bom Bali I serta peluncuran buku tersebut dihadiri para keluarga korban Bom Bali I dan I

I yang tergabung dalam Isana Dewata, Asosiasi Korban Bom di Indonesia (Askobi) Jakarta, para guru, Satgas Kuta dan pihak lainnya.

Dikatakan Dyah, pihaknya mengampanyekan pemahaman budaya damai dan menolak segala tindak kekerasan dalam berbagai bentuk. “Sasaran kami adalah generasi muda, anak-anak agar terhindar dari paham radikalisme dan terorisme,” kata dia.

Diharapkan lewat peluncuran buku tersebut, mampu membuka kesadaran masyarakat luas bahwa aksi terorisme bukanlah tindakan yang dibenarkan agama manapun.

Pihaknya berharap belajar dari tragedi kemanusiaan ini bisa dijadikan momentum untuk memulai gerakan bersama antara komponen bangsa untuk hidup harmonis antara umat beragama dan golongan.

“Kami menolak segala aksi kekerasan dan teror menjadi tujuan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia,” ujarnya.

Hadir dalam diskusi buku setebal 130 halaman itu relawan Bom Bali H Agus Bambang Priyanto, Psikolog Tika Bisono, mantan Panglima Jamaah Islamiyah (JI) Nazir Abbas dan para keluarga korban dari dalam negeri dan relawan asing.

Acara peluncuran dan diskusi novel grafis di Hotel White Rose, Kuta menjadi ajang renungan dan refleksi atas tragedi kemanusiaan, mulai kisah relawan H Agus Bambang Priyanto, janda korban Bom Bali Hayati Eka Laksmi dan teroris Ali Imron.

Buku komik itu menuturkan kisah Ali Imron, seputar keterlibatannya dalam gerakan terorisme dan serangan bom, keraguannya melakukan aksi teror hingga penyesalannya.

Dalam buku itu, juga memuat keterlibatan H Bambang saat menolong para korban dan melakukan evakuasi tanpa memandang agama, ras dan suku bangsa.

Selain itu mengisahkan Hayati Eka Laksmi, janda Bom Bali yang harus berjuang sendiri menghidupi dua anaknya.

“Ketiga tokoh mengutarakan isi hati nuraninya kepada generasi muda untuk Indonesia damai,” kata Dyah.

Sumber: Antara, 12 Oktober 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan