-->

Tokoh Toggle

Slamet, Titip Hidup di Lembaran Buku Komik

Titip Hidup di Lembaran Buku Komik
Oleh Heru Emka
“ Komik Helsing jilid sembilan sudah ada, pak ?,” tanya seorang pemuda kepada mas Slamet yang sedang menuliskan judul dua buah novel di sebuah buku tulis tebal. “ Ada, itu di deretan komik terbaru, katanya sambil menunjuk sebuah rak buku komik di sudut kiosnya. Emuda itu –n dan seorang temannya – segera menuju ke tempat yang ditunjukkan.
Saya bertanya kepadanya, “ Helsing itu komikn Barat ya ?.”
“ Bukan mas. Ini komik Jepang,” jawabnya.
“ Komik Jepang kok judulnya Barat ? Sepertinya nama yang ada kaitannya dengan film Dracula…”
“ Iya, ceritanya memang tentang musuh bebuyutan Dracula, namun situasina terjadi di jaman modern ini. Bagus kok ceritanya, “ katanya sambil melangkah me3nuju se4der4etan buku komnik yang tertata rapi di perpustakaannya, lalu mengambil sebuah manga ( komik Jepang) yang segera diberikan pada saya. Saya lalu menanyakan lagi beberapa judul komik dan menanyakan kisahnya tentang apa. Mas Slamet ternate paham adan dengan sabar memberikan penjelasan singkat.
“ Kalau komik Indonesia ada mas ?.”
“ Wah, sekarang komik Indonesia sudah tak ada. Kalah popular dengan komik Jepang. Ini semuanya komik Jepang. Ada juga komik Indonesia, koleksi lama. Tapi sudah tak ada lagi yang menyewa,” jawabnya sambil tertawa.
‘Perpustakaan’ tempat kami berbincang in memang hanyalah istilah bagi kios selebar dua kali enam meter, sebuah kios di mana mas Salemet menyewakan ratusan judul buku-buku komik.
Namnya memang singkat : Slamet. Usianya 51 tahun. Ayah dari dua anak yang sudah beranjak dewasa ini mengaku menitipkan hidupnya di lembaran buku komik. “ Dulu, waktu saya masih muda, pekerjaan ini terasa seperti iseng saja, sambil membaca komik mencari tambahan uang saku. Namun ternyata hasilnya cukup lumayan juga pada waktu itu, “ kenang mna Slamet tentang masa dia mengawali usahanya menyewakan buku, di akhir tahun 70-an.
Waktu itu, komik, sebagai anak kandung kebudayaan pop memang lagi naik daun. Hampir semua orang, tua-muda, punya hobi membaca komik dan novel pop. Mas Slamet masih ingat, komik serial Si Buta dari Gua Hantu ( Ganes Th ) dan Jaka Sembung ( Djair ), juga novel seperti Cintaku di Kampus Biru, karya Ashadi Siregar atau Kabut Sutera Ungu ( Ike Supomo ), amat disuka. “ Saya sampai harus membeli bukunya masing-masing lima eksemplar,” tutrnya tentang masaz keemasan komik dan novel pop.
Seperti pemuda lainnya pada waktu itu, tentu mas Slamet ingin bekerja di bidang lainnya. “ Waktu itu saya ingin menjadi pegawai negeri, karena rasanya dengan menjadi pegawai negeri, kita akan memiliki pensiun, dengan begitu setidaknya masa depan kita terjamin, “ katanya.
Namun ternyata tidak mudah menjadi pegawai negeri, walau mas Slamet telah mengikuti beberapa seleksi penerimaan calon pegawai negeri, “Kalah koneksi’, begitu istilah mas Slamet tentang perkiraan penyebab kegagalannya menjadi pegawai negeri. Akhirnya, daripada berharap pada keinginan yang belum pasti, lebih baik menghadapi kenyataan hidup, bahwa usahanya menyewakan buku komik ternyata juga menghasilkan uang.
Menyusun mimpi kecil
“ Saya berpikir, bahwa pekerjaan itu bisa apa saja. Kan tidak semua orang menjadi pegawai negeri. Banyak yang hidup berjualan nasi, menjadi sopir angkot, pedagang kaki lima, bekerja apa saja untuk menghidupi keluarganya. Bagaimanapun keputusan ada di tangan kita kan ?,” kata mas Slamet lebih lanjut.
“ Saya teringat nasehat ayah saya almarhum, yang pernah berkata,” Tinimbang numpak montor mbrebes mili, luwih becik mikul dawet rengeng-rengeng.” ( Daripada naik mobil bercucuran air mata, lebih baik jualan dawet namun bersenandung riang ). Daripada terus menerus mengangankan impian besar yang tak pasti, lebih baik saya menyusun impian kecil yang nyata, memiliki penghasilan sendiri, yang walau pun kecil, namun pansti dan lancar. Saya pun memutuskan untuk menjadikan persewaan komik sebagai usaha saya. Uang tabungan yang terkumpul sedikit demi sedikit saya belikan kios, sisanya saya belikan buku, baru dan bekas. Begitulah mas, saya menitipkan hidup saya pada usaha ini. Dan alhamdulilah, walau hasilnya naik turun , bisa berjalan hingga sekarang,” katanya
Slamet mengakui bila usaha menyewakan buku komik bukan sebuah profesi yang mentereng. “ Tidak keren seperti pekerja kantoran, yang punya jam kerja tetap dengan gaji bulanan. Tapi keadaan di negeri in kan tidak menentu bagi rakyat kecil seperti saya. Penduduk terus bertambah, dan jumlah pengangguran meningkat. Ini kan ibaratnya seperti sebuah hujan deras. Yang tak disukai oleh penjual es, namun disenangi oleh penjual payung. Tinggal dari sisi mana kita memandang, apakah akan menyerah atau berubah ?, “ ujarnya lagi.
Tentang modal usahanya, mas Slamet menjelaskan, “ Untuk modalnya, kalau diadakan seketika, saya kira ya cukup besar. Buku komik sekarangg harganya sekitar 15 ribu rupiah per eksemplar. Novel antara 40 ribu hingga 75 ribu. Padahal untuk membuka sebuah persewaan buku yang layak, koleksinya harus lengkap, seridaknya ada seratus buku, bahkan lebih ( ‘perpustakaan mas Slamet menyimpan tiga ribuan koleksi komik, novel dan cerita silat – Emka ). Untuk koleksi buku, andai semuanya beli baru, modalnya bisa sekitar 30 jutaan.”
“ Namun saya memulainya berawal dari koleksi saya pribadi, ditambah dengan pembelian bertahan, kalau ada uang terkumpul. Kini setiap bulan, setidaknya ada 25 judul buku baru yang harus dibeli. Jadi semuanya mengalir saja. Lama kelamaan, koleksi pun bertambah lengkap, sehingga pelanggan senang, karena dia bisa menyewa buku apa saja di tempat saya,” tuturnya lagi.
Menguntungkan
Menurut mas Slamet, tak hanya dalam soal gaya hidup, dalam urusan mencari nafkah, orang pun lebih silau pada bentuk yang gemerlap. “ Menyewakan buku komik memang usaha kelas teri, tapisyukurlah, bisa menghidupi. Yang penting menguntungkan, karena semakin lama bisa memperbesar modal. Misalnya saja sampeyan berjualan bakso. Kalau ada yang membeli semangkok bakso, dagangan anda kan berkurang semangkok. Menyewakan buku komik tidak seperti itu, karena sifatnya hanya menyewa, bukunya tetap menjadi milik kita, dengan begitu modal kita ( buku ) bukannya berkurang, malah semakin lama kian bertambah.”
Tentang keuntungan, mas Slamet menjelaskan,” Soal hasil, rejeni, kita semua kan mandho ( menadahkan tangan ) pada pemberian Tuhan. Selama ini rejeki bisa dibilang pasang surut. Namun terbukti saya bisa bertahan hidup, bisa membiayai anak-anak sekolah himngga lulus, bisa mengumpulkan modal bagi mereka untuk membuka kios buku di sebelah tempat ini.”
Dengan memungut ongkos sewa 10 persen dari harga buku ( Rp 1.500 per komik per hari ), mas Slamet seperti mengumpulkan uang receh. Namun bila dalam sehari ada 50 komik dan 20 novel yang disewa orang, dia memperoleh sedikitnya mengantongi uang Rp 200 ribu. Padahal saat tertentu seperti musim liburan, atau setiap hari Sabtu, merupakan saat di mana para pelanggan banyak berdatangan. Dan omset mas Slamet bisa bertambah dua- tiga kali lipat.
“ Sebagai orang kecil, saya tidak neko-neko ( berpikir yang bukan-bukan ) seperti mimpi punya rumah mewah megah dan mobil mewah. Bagi saya, rumah sederhana cukuplah, yang penting sandang pangan untuk anak isteri tersedia, serta syukur alhamdulilah bisa menyekolahkan anak sampai lulus. Soal jalan hidupnya kelak, Gusti Allah yang mengatur,” katanya lagi.
Saat ditanya tentang resepnya bisa awet mengusahakan persewaan buku komik, mas Slamet menjawab spontan,” Ini kan bentuk hiburan yang paling murah bagi orang banyak. Dan lagi, saya juga senang membaca, anak-anak juga. Usaha, apa pun jenisnya, bila dilandasi dengan perasaan senang, pasti akan awet bertahan.” Benar juga ya. Bagaimana pendapat Anda ?
Heru Emka, penyair dan peminat kajian budaya. Tinggal di Semarang
Sumber: D’Sari, “Rehat”, edisi Oktober-November 2010. Lihat juga di Note Facebook Penulisnya: Heru Emka http://www.facebook.com/notes/heru-emka/kisah-kehidupan-heru-emka-titip-hidup-di-lembaran-buku-komik/446459590765

Foto: Heru Emka

Foto: Heru Emka

Oleh Heru Emka

“ Komik Helsing jilid sembilan sudah ada, pak ?,” tanya seorang pemuda kepada mas Slamet yang sedang menuliskan judul dua buah novel di sebuah buku tulis tebal. “ Ada, itu di deretan komik terbaru, katanya sambil menunjuk sebuah rak buku komik di sudut kiosnya. Emuda itu –n dan seorang temannya – segera menuju ke tempat yang ditunjukkan.

Saya bertanya kepadanya, “ Helsing itu komikn Barat ya ?.”

“ Bukan mas. Ini komik Jepang,” jawabnya.

“ Komik Jepang kok judulnya Barat ? Sepertinya nama yang ada kaitannya dengan film Dracula…”

“ Iya, ceritanya memang tentang musuh bebuyutan Dracula, namun situasina terjadi di jaman modern ini. Bagus kok ceritanya, “ katanya sambil melangkah me3nuju se4der4etan buku komnik yang tertata rapi di perpustakaannya, lalu mengambil sebuah manga ( komik Jepang) yang segera diberikan pada saya. Saya lalu menanyakan lagi beberapa judul komik dan menanyakan kisahnya tentang apa. Mas Slamet ternate paham adan dengan sabar memberikan penjelasan singkat.

“ Kalau komik Indonesia ada mas?”

“ Wah, sekarang komik Indonesia sudah tak ada. Kalah popular dengan komik Jepang. Ini semuanya komik Jepang. Ada juga komik Indonesia, koleksi lama. Tapi sudah tak ada lagi yang menyewa,” jawabnya sambil tertawa.

‘Perpustakaan’ tempat kami berbincang ini memang hanyalah istilah bagi kios selebar dua kali enam meter, sebuah kios di mana mas Salemet menyewakan ratusan judul buku-buku komik.

Namnya memang singkat : Slamet. Usianya 51 tahun. Ayah dari dua anak yang sudah beranjak dewasa ini mengaku menitipkan hidupnya di lembaran buku komik. “ Dulu, waktu saya masih muda, pekerjaan ini terasa seperti iseng saja, sambil membaca komik mencari tambahan uang saku. Namun ternyata hasilnya cukup lumayan juga pada waktu itu, “ kenang mna Slamet tentang masa dia mengawali usahanya menyewakan buku, di akhir tahun 70-an.

Waktu itu, komik, sebagai anak kandung kebudayaan pop memang lagi naik daun. Hampir semua orang, tua-muda, punya hobi membaca komik dan novel pop. Mas Slamet masih ingat, komik serial Si Buta dari Gua Hantu ( Ganes Th ) dan Jaka Sembung ( Djair ), juga novel seperti Cintaku di Kampus Biru, karya Ashadi Siregar atau Kabut Sutera Ungu ( Ike Supomo ), amat disuka. “ Saya sampai harus membeli bukunya masing-masing lima eksemplar,” tutrnya tentang masaz keemasan komik dan novel pop.

Seperti pemuda lainnya pada waktu itu, tentu mas Slamet ingin bekerja di bidang lainnya. “ Waktu itu saya ingin menjadi pegawai negeri, karena rasanya dengan menjadi pegawai negeri, kita akan memiliki pensiun, dengan begitu setidaknya masa depan kita terjamin, “ katanya.

Namun ternyata tidak mudah menjadi pegawai negeri, walau mas Slamet telah mengikuti beberapa seleksi penerimaan calon pegawai negeri, “Kalah koneksi’, begitu istilah mas Slamet tentang perkiraan penyebab kegagalannya menjadi pegawai negeri. Akhirnya, daripada berharap pada keinginan yang belum pasti, lebih baik menghadapi kenyataan hidup, bahwa usahanya menyewakan buku komik ternyata juga menghasilkan uang.

Menyusun mimpi kecil

“ Saya berpikir, bahwa pekerjaan itu bisa apa saja. Kan tidak semua orang menjadi pegawai negeri. Banyak yang hidup berjualan nasi, menjadi sopir angkot, pedagang kaki lima, bekerja apa saja untuk menghidupi keluarganya. Bagaimanapun keputusan ada di tangan kita kan?” kata mas Slamet lebih lanjut.

“ Saya teringat nasehat ayah saya almarhum, yang pernah berkata,” Tinimbang numpak montor mbrebes mili, luwih becik mikul dawet rengeng-rengeng.” (Daripada naik mobil bercucuran air mata, lebih baik jualan dawet namun bersenandung riang). Daripada terus menerus mengangankan impian besar yang tak pasti, lebih baik saya menyusun impian kecil yang nyata, memiliki penghasilan sendiri, yang walau pun kecil, namun pansti dan lancar. Saya pun memutuskan untuk menjadikan persewaan komik sebagai usaha saya. Uang tabungan yang terkumpul sedikit demi sedikit saya belikan kios, sisanya saya belikan buku, baru dan bekas. Begitulah mas, saya menitipkan hidup saya pada usaha ini. Dan alhamdulilah, walau hasilnya naik turun , bisa berjalan hingga sekarang,” katanya.

Slamet mengakui bila usaha menyewakan buku komik bukan sebuah profesi yang mentereng. “ Tidak keren seperti pekerja kantoran, yang punya jam kerja tetap dengan gaji bulanan. Tapi keadaan di negeri in kan tidak menentu bagi rakyat kecil seperti saya. Penduduk terus bertambah, dan jumlah pengangguran meningkat. Ini kan ibaratnya seperti sebuah hujan deras. Yang tak disukai oleh penjual es, namun disenangi oleh penjual payung. Tinggal dari sisi mana kita memandang, apakah akan menyerah atau berubah ?” ujarnya lagi.

Tentang modal usahanya, mas Slamet menjelaskan, “ Untuk modalnya, kalau diadakan seketika, saya kira ya cukup besar. Buku komik sekarangg harganya sekitar 15 ribu rupiah per eksemplar. Novel antara 40 ribu hingga 75 ribu. Padahal untuk membuka sebuah persewaan buku yang layak, koleksinya harus lengkap, seridaknya ada seratus buku, bahkan lebih ( ‘perpustakaan mas Slamet menyimpan tiga ribuan koleksi komik, novel dan cerita silat – Emka ). Untuk koleksi buku, andai semuanya beli baru, modalnya bisa sekitar 30 jutaan.”

“ Namun saya memulainya berawal dari koleksi saya pribadi, ditambah dengan pembelian bertahan, kalau ada uang terkumpul. Kini setiap bulan, setidaknya ada 25 judul buku baru yang harus dibeli. Jadi semuanya mengalir saja. Lama kelamaan, koleksi pun bertambah lengkap, sehingga pelanggan senang, karena dia bisa menyewa buku apa saja di tempat saya,” tuturnya lagi.

Menguntungkan

Menurut mas Slamet, tak hanya dalam soal gaya hidup, dalam urusan mencari nafkah, orang pun lebih silau pada bentuk yang gemerlap. “Menyewakan buku komik memang usaha kelas teri, tapisyukurlah, bisa menghidupi. Yang penting menguntungkan, karena semakin lama bisa memperbesar modal. Misalnya saja sampeyan berjualan bakso. Kalau ada yang membeli semangkok bakso, dagangan anda kan berkurang semangkok. Menyewakan buku komik tidak seperti itu, karena sifatnya hanya menyewa, bukunya tetap menjadi milik kita, dengan begitu modal kita ( buku ) bukannya berkurang, malah semakin lama kian bertambah.”

Tentang keuntungan, mas Slamet menjelaskan,” Soal hasil, rejeni, kita semua kan mandho ( menadahkan tangan ) pada pemberian Tuhan. Selama ini rejeki bisa dibilang pasang surut. Namun terbukti saya bisa bertahan hidup, bisa membiayai anak-anak sekolah himngga lulus, bisa mengumpulkan modal bagi mereka untuk membuka kios buku di sebelah tempat ini.”

Dengan memungut ongkos sewa 10 persen dari harga buku ( Rp 1.500 per komik per hari ), mas Slamet seperti mengumpulkan uang receh. Namun bila dalam sehari ada 50 komik dan 20 novel yang disewa orang, dia memperoleh sedikitnya mengantongi uang Rp 200 ribu. Padahal saat tertentu seperti musim liburan, atau setiap hari Sabtu, merupakan saat di mana para pelanggan banyak berdatangan. Dan omset mas Slamet bisa bertambah dua- tiga kali lipat.

“Sebagai orang kecil, saya tidak neko-neko ( berpikir yang bukan-bukan ) seperti mimpi punya rumah mewah megah dan mobil mewah. Bagi saya, rumah sederhana cukuplah, yang penting sandang pangan untuk anak isteri tersedia, serta syukur alhamdulilah bisa menyekolahkan anak sampai lulus. Soal jalan hidupnya kelak, Gusti Allah yang mengatur,” katanya lagi.

Saat ditanya tentang resepnya bisa awet mengusahakan persewaan buku komik, mas Slamet menjawab spontan,” Ini kan bentuk hiburan yang paling murah bagi orang banyak. Dan lagi, saya juga senang membaca, anak-anak juga. Usaha, apa pun jenisnya, bila dilandasi dengan perasaan senang, pasti akan awet bertahan.” Benar juga ya. Bagaimana pendapat Anda ?

Heru Emka, penyair dan peminat kajian budaya. Tinggal di Semarang

Sumber: D’Sari, “Rehat”, edisi Oktober-November 2010. Lihat juga di Note Facebook Penulisnya: Heru Emka

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan