-->

Kronik Toggle

'Sutasoma', Penerima Anugerah Dharmawangsa (Prosa)

Cok Sawitri (Foto: M Hanif/IBOE-GIM)

Cok Sawitri (Foto: M Hanif/IBOE-GIM)

“Hidup damai dalam beragama dan bernegara adalah pesan utama Mpu Tantular yang menjadi inspirasi dari novel saya ini. Perjuangan ke arah keharmonisan itu bukan jalan mudah. Sudah berabad-abad pesan itu didengungkan, tapi kekerasan yang mengkuti “dharma negara” dan “dharma agama”  tak pernah terselesaikan. Kepada Mpu Tantular dan para leuhur yang mengamanatkan kebhinekaan, saya ucapakan  terimakasih,” demikian Cok Sawitri mengucapkan kata ringkas usai menerima Anugerah Dharmawangsa dari Yayasan Garuda Wisnu Kencana di Newseum Indonesia, Jakarta (14/10). Dengan penganugerahan itu, Sutasoma dikekalkan Yayasan GWK sebagai KITABUKU.

Pada kesempatan yang sama, Cok Sawitri bersama Ayu Laksmi mempertunjukkan musik Kakawin Sutasoma yang sekaligus menjadi doa akhir acara penganugerahan.

Dan inilah Sutasoma:

Sutasoma atau Porusadha merupakan karya agung dalam kesuasteraan Jawa Kuno yang digubah Mpu Tantular. Penyair ini hidup pada abad ke-14 di Majapahit semasa raja Rājasanagara (Hayam Wuruk) bertakhta. Ia termasuk keponakan raja dan menantu adik wanita sang raja.

Tantular sendiri adalah putera Mpu Bahula di Lemah Tulis, Pajarakan, Kediri. Sementara Mpu Bahula adalah putra Mpu Bharadah. Adapun Mpu Bharadah tak lain adalah adik Mpu Kuturan; nama yang sohor di kawasan Bali, dikenal sebagai pendeta pendamping Maharaja Sri Dharma Udayana Warmadewa, serta dikenal sebagai perancang pertemuan tiga sekte agama Hindu di Bali, yang disatukan di Samuan Tiga, Gianyar. Kuturan juga yang merancang keberadaan desa pakraman–desa adat serta Kahyangan Tiga–tiga pura desa di Bali, yang hingga kini diwarisi masyarakat.

Nama “Tantular” terdiri dari dua kata: tan (“tidak”) dan tular (“tular” atau “terpengaruhi”). Artinya ia orang yang “teguh”. Tantular adalah seorang penganut agama Buddha, namun terbuka terhadap agama lainnya, terutama agama Hindu-Siwa, yang menjadi ruh dari kakawin Sutasoma.

Tantular dalam karyanya itu memberitahu betapa bahayanya “Dharma Agama” bersekutu dengan “Dharma Negara” tanpa kesadaran pluralisme yang teguh. Jika pluralitas adalah kenyataan yang terberi, maka pluralisme adalah sebuah keyakinan bahwa perbedaan dalam keharmonian itu harus diperjuangkan.

Asas ini yang kemudian diwariskan Tantular kepada Nusantara. Bahkan salah satu bait dari kakawin Sutasoma diambil menjadi semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia di kemudian hari: “Bhinneka Tunggal Ika” atau berbeda-beda tapi satu jua. Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Teks Sutasoma abad 14 itu, kini, dihadirkan kembali lewat bahasa novel kekinian dengan pola dan semangat merekonstruksi ulang bagaimana moralitas kekuasaan bekerja dalam sebuah masyarakat dan negara baru.

Penulisnya, Cok Sawitri adalah sosok yang tumbuh-tafakur dalam sebuah kaum yang sampai hari ini masih tekun menjaga dan merawat tradisi Siwa Buddha yang diwariskan Kakawin Sutasoma di Budakeling, Kabupaten Karanganyar, Bali.

Untuk segala usahanya mengingatkan kembali apa arti pluralitas dan bagaimana pluralisme dipraktikkan dalam kesadaran berbangsa dan tindakan bernegara dari “dharma negara” dan “dharma agama”, maka hari ini, Kamis, 14 Oktober 2010, Yayasan Garuda Wisnu Kencana dan Newseum Indonesia, dengan bangga mempersembahkan Anugerah Dharmawangsa kepada SUTASOMA karya Cok Sawitri yang diterbitkan Kaki Langit Kencana.

1 Comment

RB Sunarno - 31. Okt, 2010 -

Sotasoma aslinya seperti apa ya? Apakah sudah ada buku yang menerjemahkan teks asli Sotasoma?

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan