-->

Kronik Toggle

Sitor Situmorang Mendapat Penghargaan di Citibank-Ubud Writers and Readers Festival

UBUD – Sastrawan Sitor Situmorang (86) meraih penghargaan kesusastraan atas kontribusinya yang besar terhadap kesusastraan Indonesia. Penghargaan yang diberikan Rabu (6/10) malam itu
mengawali penyelenggaraan Citibank-Ubud Writers and Readers Festival ke-7 di Ubud, Bali.

Penghargaan yang bertajuk MasterCard-Saraswati Literary Award for Lifetime Achievement itu diberikan setelah budayawan Sutardji Calzoum Bachri membawakan puisinya, ”Tanah Airmata”. Dengan suara lantang dan agak parau, Sutardji mengepalkan tangannya dan meluncurlah bait-bait puisi garang. Tanah airmata tanah tumpah dukaku/mata air airmata kami/air mata tanah air kami….

Seusai menerima penghargaan, Sitor pun tak ketinggalan membacakan puisinya, ”Bukan Pura Besakih”, yang dibawakannya dalam versi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Aksi para ”titan” kesusastraan ini mendapat sambutan riuh dari penonton, dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika beserta jajarannya, Country Manager Citibank Shariq Mukhtar, Senior Vice President Master Card Matthew Driver, dan ratusan undangan dari sejumlah negara yang memenuhi Puri Ubud, Bali.

Kepada Kompas, Sitor mengatakan, dirinya berterima kasih atas penghargaan itu. ”Tentu saja namanya lifetime achievement award karena saya telah uzur. Saya sudah berkarya seumur hidup. Untuk itu, saya berterima kasih karya-karya saya dihargai. Saya berharap, karya-karya saya juga dibaca generasi muda,” ujarnya.

Sitor Situmorang, yang dikenal sebagai sastrawan Angkatan ’45, pada masa mudanya juga berprofesi sebagai wartawan. Kumpulan puisinya pertama kali diterbitkan pada 1953, saat ia berusia 19 tahun. Karya-karyanya yang telah diterbitkan, antara lain, Surat Kertas Hijau (1953), Drama Jalan Mutiara (1954), Wajah Tak Bernama (1955), Puisi Zaman Baru (1962), dan esai Sastra Revolusioner (1965). Karya yang terakhir itulah yang menyebabkan Sitor dijebloskan ke penjara oleh rezim Orde Baru tanpa melalui pengadilan. Ia mendekam di penjara Salemba pada 1967-1975. Di dalam tahanan, Sitor menghasilkan karya Dinding Waktu (1976) dan Peta Perjalanan (1977). Lepas dari penjara dan tahanan rumah, Sitor kemudian menetap di luar negeri dan kembali ke Indonesia pada 2001.

Citibank-Ubud Writers and Readers Festival kali ini mengambil tema Bhinneka Tunggal Ika (Harmony in Diversity). Menurut Direktur Festival Janet de Neefe, tema itu sangat relevan dengan situasi yang dihadapi masyarakat dunia saat ini, di mana upaya untuk membangun dunia yang damai dan penuh harmoni masih jauh dari harapan.

Sumber: Kompas, 7 Oktober 2010, “Penghargaan bagi Sitor”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan