-->

Kronik Toggle

Sepekan Lagi DNA Tan Malaka Dicek Poeze di Korea Selatan

Sepekan Lagi DNA Tan Malaka Dicek Poeze di Korea Selatan
YOGYAKARTA — Selama 50 tahun lebih, makam Tan Malaka menjadi teka-teki di Indonesia. Selama itu, tak sat pun yang mengetahui di mana dan dalam posisi bagaimana Tan Malaka meninggal dunia.
Satu-satunya tokoh yang berjasa menemukan makam Tan Malaka adalah Harry A Poeze. Seperti ditakdirkan oleh sejarah, Direktur KITLV Belanda ini menjadi periset paling serius sosok Tan Malaka. Ia belum lama ini merilis buku tebal berjudul  … dan diterbitkan secara berseri dalam bahasa Indonesia, Tan Malaka dan Gerakan Kiri di Indonesia.
“Dalam riset, saya mendapat informasi yang terjadi selama hari-hari terakhirnya. Atas dasar dokumen dari Bandung dan wawancara yang menyaksikan kejadian. Saya yakin bahwa Tan Malaka ditembak mati di di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri,” kata Harry dalam dialog eksklusif di Radio Sonora FM Yogyakarta (19/10) yang dipandu budayawan Ons Untoro.
Menurut cerita Harry, awalnya ia tak tahu persis makam Tan Malaka itu. “Sesudah saya membicarakan pendapat saya tentang makam, ada wartawan yang coba mewawancarai orang tua-orang tua di sana. Dan saya ke sana lagi dua kali. Dan saya makin yakin bahwa di Selopanggung itulah makam Tan Malaka,” lanjut Harry.
Atas dasar keyakinan itu kemudian dilakukan penggalian. Sisa-sisa tulang yang rapuh dalam kuburan itu diteliti secara forensik. Sayang sekali, kurang jelas pemeriksaannya.
Menurut Harry, hasil forensik itu cuma memastikan bahwa di situ dikuburkan seorang pria yang tingginya cocok dengan Tan Malaka. Usianya juga cocok. Dan bahwa lengan tergelung ke pinggang belakang menandai bahwa tangan laki-laki dalam kuburan itu diikat sewaktu dikuburkan.
Untuk memberikan kepastian ilmiah, keponakan Tan Malaka yang masih hidup diambil DNA-ya untuk kebutuhan pencocokkan. Namun sayang, proses itu tak bisa dilakukan.
Karena itu, kata Harry, hasil itu dikirim ke Korea Selatan. Dan hasilnya belum diumumkan.
“Bahwa minggu-minggu ini saya akan menghubungi tim forensik untuk memperjelas penelitian itu. Tapi walau demikian, saya yakin 90 persen itu kerangka Tan Malaka. Inilah misteri Tan Malaka,” ujar Harry yang ke Yogyakarta dalam rangka bedah bukunya jilid ke-3 Tan Malaka dan Gerakan Kiri di Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Rabu, 20 Oktober 2010 pukul 09.00-12.00. (GM/IBOEKOE)

YOGYAKARTA — Selama 50 tahun lebih, makam Tan Malaka menjadi teka-teki di Indonesia. Selama itu, tak satu pun yang mengetahui di mana dan dalam posisi bagaimana Tan Malaka meninggal dunia.

Satu-satunya tokoh yang berjasa menemukan makam Tan Malaka adalah Harry A Poeze. Seperti ditakdirkan oleh sejarah, Direktur KITLV Belanda ini menjadi periset paling serius sosok Tan Malaka. Ia belum lama ini merilis buku tebal berjudul Tan Malaka: Verguisd en Vergeten (Tan Malaka: Dihujat dan Dilupakan) dan diterbitkan secara berseri dalam bahasa Indonesia, Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia oleh Yayasan Obor Indonesia.

“Dalam riset, saya mendapat informasi yang terjadi selama hari-hari terakhirnya. Atas dasar dokumen dari Bandung dan wawancara yang menyaksikan kejadian. Saya yakin bahwa Tan Malaka ditembak mati di di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri,” kata Poeze dalam dialog eksklusif di Radio Sonora FM Yogyakarta (19/10) yang dipandu budayawan Ons Untoro.

Menurut cerita Poeze, awalnya ia tak tahu persis makam Tan Malaka itu. “Sesudah saya membicarakan pendapat saya tentang makam, ada wartawan yang coba mewawancarai orang tua-orang tua di sana. Dan saya ke sana lagi dua kali. Dan saya makin yakin bahwa di Selopanggung itulah makam Tan Malaka,” lanjut Poeze.

Atas dasar keyakinan itu kemudian dilakukan penggalian. Sisa-sisa tulang yang rapuh dalam kuburan itu diteliti secara forensik. Sayang sekali, kurang jelas pemeriksaannya.

Menurut Poeze, hasil forensik itu cuma memastikan bahwa di situ dikuburkan seorang pria yang tingginya cocok dengan Tan Malaka. Usianya juga cocok. Dan bahwa lengan tergelung ke pinggang belakang menandai bahwa tangan laki-laki dalam kuburan itu diikat sewaktu dikuburkan.

Untuk memberikan kepastian ilmiah, keponakan Tan Malaka yang masih hidup diambil DNA-ya untuk kebutuhan pencocokkan. Namun sayang, proses itu tak bisa dilakukan.

Karena itu, kata Poeze, hasil itu dikirim ke Korea Selatan. Dan hasilnya belum diumumkan.

“Bahwa minggu-minggu ini saya akan menghubungi tim forensik untuk memperjelas penelitian itu. Tapi walau demikian, saya yakin 90 persen itu kerangka Tan Malaka. Inilah misteri Tan Malaka,” ujar Poeze yang ke Yogyakarta dalam rangka bedah bukunya jilid ke-3 Tan Malaka,  Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Rabu, 20 Oktober 2010 pukul 09.00-12.00. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan