-->

Kronik Toggle

Sebelum Seribu Tahun Mahapralaya, GWK Sudah Selesai

I Gde Ardika (Foto: M Hanif/IBOE-GIM)

I Gde Ardika (Foto: M Hanif/IBOE-GIM)

JAKARTA-Hampir 15 tahun sudah Garuda Wisnu Kencana Cultural Park dibangun. Hingga sekarang masih terbengkalai. Dan kini, muncul semangat kembali untuk menyelesaikan monumen kebudayaan itu. Salah satu langkah awalnya adalah menjadi tonggak 14 Oktober sebagai Hari Aksara dan memberikan Anugerah Dharmawangsa untuk buku-buku yang berusaha menggali khasanah masa lalu dengan pengucapan terkini. Berikut ini adalah pidato Ketua Yayasan Garuda Wisnu Kencana I Gde Ardika sebelum Anugerah Dharmawangsa diserahkan kepada tiga penerima terpilih di Newseum Indonesia, Jakarta.

Om shanti shanti shanti om

Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan Saudara-saudara sekalian yang kami hormati

Pertama-tama kami ingin menyatakan bahwa sesungguhnyalah Garuda Wisnu Kencana bermula dari era dinasti Dharmawangsa Teguh pada abad 10 yang untuk pertama kalinya mengeluarkan stempel kerajaan Garudamukha.

Setelah Tragedi Mahapralaya 1016 M yang membuat Dharmawangsa Teguh dan keluarganya terbunuh, Airlangga yang baru saja menikah dengan putri Dharmawangsa Teguh dititipkan kalung dan cap kerajaan yang kemudian dalam dinastinya dikembangkan menjadi Garuda Wisnu. Airlangga disebut-sebut sebagai titisan Dewa Wisnu sebagaimana diungkapkan dalam salah satu puncak kakawin Arjunawiwaha oleh Mpu Kanwa.

Kita kemudian tahu bahwa bentuk ikonografi Garuda Wisnu yang dikenal dalam sejarah di Jawa dan Bali adalah patung yang dibuat putra Airlangga  atau cucu Dharmawangsa Teguh, Raja Gunarasakan, yang berada dalam petirtaan Candi Belahan di Gunung Penanggungan; yang kemudian dikembangkan secara kolosal dan kontemporer oleh seniman Nyoman Nuarta dalam bentuk GWK Cultural Park.

Dan dapat ditelusuri bahwa simbol burung garuda sebagai simbol kenegaraan Republik Indonesia saat ini, dipergunakan oleh Dharmawangsa Teguh yang diteruskan oleh Dharmawangsa Airlangga.

Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan Saudara-saudara sekalian yang kami hormati

Mungkin bukan koinsidensi bahwa peristiwa pencanangan batu pertama Garuda Wisnu Kencana di Bali pada tahun 1996 M adalah tepat seribu tahun pembacaan Wirataparwa oleh Dharmawangsa Teguh di Kediri, pada 14 Oktober 996 M, yang terus terang kami belum mengetahui sebelumnya hingga data-data terbaru ini diungkapkan.

Karena itu kami berharap GWK Cultural Park ini bisa terbangun pada 2016 atau seribu tahun sebelum tragedi Maha Pralaya.

Dalam sejarah Jawa Kuno dan Bali, nama Dharmawangsa adalah nama yang dicitrakan terkait dengan pencerahan, kesejahteraan, dan keadilan. Setidak-tidaknya ada lima raja di Jawa dan Bali yang menggunakan nama “Dharmawangsa”. Selain Dharmawangsa Teguh di Kediri Jawa Timur, seterusnya adalah Dharmawangsa Airlangga (Jawa Timur), Dharmawangsa Marakata Pangkaya (Bali), Dharmawangsa Kirtisi (Bali), dan Dharmawangsa Kertawardhana (Jawa Timur).

Maka tepatlah kiranya, dari paparan singkat kami ini, “Dharmawangsa” kami jadikan sebagai anugerah dari sebuah cita-cita pencerahan, kesejahteraan, dan keadilan yang dirintis sejak seribu tahun silam. Penghargaan bagi setiap upaya pengolahan akal budi, rasa, dan penghormatan pada keindahan jiwa.

Kami mengucapkan selamat kepada para penerima penghargaan, para penulis buku: SUTASOMA dalam prosa, IBUMI dalam puisi, SADUR dalam esai.

Terimakasih atas perhatiannya.

Om shanti shanti shanti om

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan