-->

Lainnya Toggle

Sandeq: Pleidoi dari Mandar (Sidang #7)

Sandeq-sampulOleh: Muhammad Ridwan Alimuddin

Terima kasih atas tuntutan “jaksa buku” Bustam Basir Maras (BBM). Kami sama-sama dari Mandar, hanya beda kabupaten. Saya di Polewali Mandar, BBM di Majene; berjarak hampir 100 km. Kami juga sama-sama penulis. BBM lebih banyak tentang sastra (khususnya puisi), saya tulisan ilmiah populer bertema laut dan Mandar.

Buku “Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara” adalah hasil riset saya hampir satu dekade. Selain buku yang terbit November 2009 lalu, masih ada naskah dan buku lain yang juga bertema Mandar. Pertama naskah “babon”, judulnya “Laut, Ikan dan Tradisi: Kebudayaan Bahari Mandar”. Tebalnya lebih 600 halaman. Naskah tersebut gaya tulisannya “ilmiah dan kaku”. Oleh KPG, diminta dibuat lebih populer agar bisa dibuat buku. Hasilnya, buku “Orang Mandar Orang Laut: Kebudayaan Bahari Mandar Mengarungi Gelombang Perubahan Zaman”. Terbit tahun 2005.

Satu tahun sebelumnya, tulisan-tulisan pendek saya yang berasal dari beberapa perjalanan diterbitkan Ombak, “Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut”.

Dua buku tersebut di atas mendapat sambutan hangat. Sold out. Malah “Orang Mandar Orang Laut” dua kali cetak. Berbeda dengan dua seri maritim KPG lainnya yang ditulis Susanto Zuhdi (tentang sejarah Pelabuhan Cilacap) dan Edward Poelinggomang (tentang sejarah Makassar Abad XIX) yang hanya sekali cetak.

Rentang waktu 2006 – 2008 saya lebih banyak menulis hasil perjalanan dan pengamatan untuk www.panyingkul.com dan Harian Radar Sulbar. Untuk harian terakhir, selalu memuat tulisan berseri saya tentang sandeq dan Sandeq Race.

Bila dibanding dengan buku, pembaca koran lebih banyak. Pelanggannya 3000, beda dengan buku yang hanya dicetak 1000-an. Walau demikian, agar terdokumentasi dengan baik dan memberi kesempatan non-pelanggan Harian Radar Sulbar bisa membaca tentang sandeq, kumpulan tulisan tentang sandeq saya rangkum dalam buku “Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara”.

Ya, pasti ada banyak kekurangan. Termasuk pengulangan-pengulangan. Walau demikian, sebelumnya tak ada perbaikan. Malah naskah hampir dua tahun mengendapnya. Selain alasan pendanaan, juga tak ada pihak yang betul-betul bisa mengedit dengan baik naskah saya agar bisa menjadi buku yang ideal.

Terlepas kekurangannya, sepengetahuan saya, buku saya tersebut memiliki kekhasan dibandingan buku-buku bertema perahu lainnya yang pernah terbit di Indonesia. Sekadar informasi, buku tentang perahu yang pernah terbit di Indonesia oleh penulis Indonesia bisa dihitung dengan satu tangan saja!

Tentang komentar Halim HD

Komentar dari pembaca yang dikenal sudah umum dalam dunia penerbitan. Tujuannya macam-macam: mempromosikan isi buku, memperkenalkan penulisnya, mempropagandakan buku, dan sebagainya.

Apa pun tujuannya sah-sah saja. Kesimpulan akhir ada pada pembaca, apakah isi sama dengan komentar. Ada yang cocok, ada yang dilebih-lebihkan.

Saya akan menanggapi pertanyaan atau asumsi BBM dan beberapa teman di Mandar, yang merasa “kurang enak” dengan komentar tersebut. Setidaknya alasan mengapa Halim HD sampai menulis demikian. Setelah itu sedikit catatan saya tentang dunia kepenulisan di Mandar.

Menurut perkiraan saya, Mas Halim sampai berpendapat begitu sebab setahu saya, satu-satunya penulis Mandar yang selalu meminta pendapatnya (Halim HD) atas tulisan yang saya buat untuk kemudian saya kirimi ketika terbit adalah saya.

Ya, sejak buku pertama saya hingga yang terakhir (ada lima buku) selalu saya mintai pendapatnya. Selain yang saya sebutkan sebelumnya, juga “Makassar di Panyingkul” (2007) dan “Indonesia di Panyingkul” (2008). Dua buku ini saya berperan sebagai kontributor, sedang Mas Halim sebagai proof reader-nya.

Lalu, semenjak saya dan Mas Halim sama-sama aktif di milis panyingkul (www.panyingkul.com), Mas Halim terus mengikuti produktivitas saya dalam menulis. Belum lagi tulisan-tulisan saya di media massa.

Jadi, wajar saja bila Mas Halim berasumsi demikian. Satu dekade saya meminta masukan-masukannya atas tulisan-tulisan saya. Sebagai pengandaian adalah dunia paten. Misalnya si A menemukan teknologi X lebih dulu daripada si B. Tapi karena si B duluan mempatenkan, maka dia dianggap sebagai penemu. Demikian juga ketika mendaftarkan alamat domain ke server; internet. Yang lebih dululah yang lebih berhak. Sebenarnya sih tidak persis betul pengandaian saya ini, tapi setidaknya bisa memberi gambaran.

Ada banyak penulis (orang) Mandar, misalnya: H. Ahmad Asdy, Idham Khalid Bodhi, Muhammad Syariat Tajuddin, Muhaimin Faisal, Bustan Basir Maras, Suradi Yasil, Muis Mandra, dan Sarbin Sjam. Memang sebagian penulis-penulis tua. Walau demikian, yang saya tahu persis yang sampai hari ini masih terus menulis (terakhir saya lihat kemarin) adalah Suradi Yasil. Terus terang, saya mewarisi bakat menulis dari dia. Dia paman saya, adiknya ibu.

Terlepas saya bagian dari penulis buku di Mandar, saya mencoba untuk membandingkan kuantitas (kualitas kalau bisa orang lain yang bandingkan, sebab kalau saya, itu terlalu subyektif) antar penulis di Mandar, yang saya tahu ada karyanya.

Ahmad Asdy. Ia banyak menulis buku-buku sejarah, khususnya tentang Andi Depu. Walaupun ada banyak buku tentang Andi Depu, antar buku isinya relatif sama. Juga ada buku tentang kisah romantis di Mandar (tentang Hadara, Daeng Rioso), tentang siri dan etika di Mandar, dan tentang cerita-cerita rakyat. Ia penulis yang termasuk produktif. Sayangnya, bukunya hanya tersebar di Mandar saja. Belum ada tersebar nasional. Terbitannya pun sangat menyedihkan kualitas cetak dan editingnya. Sepertinya setiap halaman pasti ada ejaan atau hal teknis yang salah.

Idham Khalid Bodi. Menerjemahkan tafsir Al Quran berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Mandar, menulis buku tentang sibaliparriq, tentang petuah-petuah di Mandar, tentang sarung sutra, dan tentang logo provinsi Sulawesi Barat.

Muhammad Syariat Tadjuddin. Menulis tentang sibaliparriq bersama dua peneliti dan beberapa artikel di koran serta facebook.

Muhaimin Faisal. Saya belum punya bukunya, tapi sepertinya dia yang menulis tentang Mamasa?

Bustan Basir Maras. Menerbitkan buku puisi, artikel pendek, dan tentang tradisi mappio di Majene.

Suradi Yasil. Banyak menulis hasil riset tentang kebudayaan di Jurnal Bosara (terbitan Balai Kajian Sejarah Sulawesi Selatan), menerjemahkan lontara, buku puisi “Di Tengah Padang Ilalang” (diterbitkan Walhi), “Ensiklopedia Sejarah, Tokoh dan Kebudayaan Mandar” (beberapa edisi), buku puisi “Republik Korupsi”, dan menjadi salah satu penerjemah ke dalam bahasa daerah cerpen Umar Khayam “Kunang-kunang di Manhattan”.

Muis Mandra. Bukunya tentang Mandar amat banyak. Khususnya terjemahan-terjemahan lontar. Sayangnya masih dalam bentuk stensilan atau fotokopian.

Sarbin Sjam. Penulis puisi. Saya pernah melihat naskah ketikan puisi-puisi berbahasa Mandarnya. Dan dalam bentuk buku “Bunga Rampai Kebudayaan Mandar dari Balanipa” (2000).

Masih ada beberapa penulis, khususnya dari Majene. Saya lupa namanya. Yang membuatnya tidak terlalu dikenal sebagai penulis (juga penulis-penulis yang saya sebut di atas) adalah penyebaran karyanya yang terbatas.

Tapi bila membandingkan kuantitas jumlah tulisan dalam bentuk buku yang diterbitkan dan tersebar nasional, apa yang saya tulis lebih banyak dibanding yang saya tuliskan sebelumnya. Mengenai kualitas isi masih bisa diperdebatkan.

Salah satu kekurangan penulis di Mandar adalah sangat jarangnya terbit menasional. Setahu saya, penulis Mandar yang karyanya (khususnya tulisan ilmiah) pernah tersebar secara nasional adalah dua karya Baharuddin Lopa, satu tentang kebudayaan bahari Mandar (terbit 1982) dan kumpulan tulisannya di Harian Kompas (terbit setelah beliau meninggal).

Tak ada buku tentang kebudayaan Mandar yang tersebar menjadi salah satu faktor Mandar tak dikenal, pustaka Mandar jarang dikutip. Sebagai contoh referensi yang digunakan Christian Pelras dalam bukunya “Manusia Bugis”. Dari sekian puluh buku yang dia jadikan referensi, satu-satunya buku tentang Mandar yang ada di dalam adalah buku “Orang Mandar Orang Laut”, yang saya tulis. Koq bisa? Padahal kan ada banyak buku tentang Mandar yang harus dia baca?

Alasannya, sebab tulisan saya itu tersebar nasional. Yang lain tidak. Ini sama sekali tidak berkaitan dengan kualitas isi, tapi kualitas persebaran buku. Kalau orang Mandar saja yang baca (sebab hanya tersebar di Mandar) kurang elok. Idealnya kan orang luar juga membacanya!

Saya pribadi sangat menyadari kekurangan penulis-penulis Mandar yang lain, yang hanya puas ketika bukunya terbit, yang hanya berorientasi materi (harus kita akui ada beberapa buku proyek!), dan tidak mengusahakan tanggapan dari orang lain.

Untuk itu, saya sangat mengusahakan buku-buku saya selain tersebar di Mandar, juga tersebar nasional. Karena tersebar nasional, pada gilirannya kualitas cetakan harus menarik. Bukan stensilan dan layout seadanya.

Jadi, ketika kita kembali ke pendapat Mas Halim, secara obyektif saya katakan, Mas Halim berpendapat demikian dikarenakan ada beberapa faktor:

–          penulis-penulis lain di Mandar memang tidak banyak menulis

–          ada yang (banyak) menulis tapi tidak membukukannya atau mengusahakan dibaca banyak orang (tak mengirim ke koran, tak menerbitkan di blog atau sejenisnya)

–          ketika penulis Mandar menghasilkan buku, tidak tersebar nasional

–          sang penulis tak mensosialisasikan bukunya walau terbitannya itu hanya lokalan

–          penulis menghasilkan karya yang tak berkualitas (orang tak minta membacanya sehingga tak ada masukan berarti)

Setidaknya hal di atas itulah yang harus disadari calon atau penulis lain di Mandar bila ingin tulisannya dibaca banyak orang; bila buah pikirannya menjadi khazanah ilmu pengetahuan.

Agar mendapat masukan berkualitas, penulis pemula harus menjali jaringan dengan ahli, dengan orang yang suka membaca buku, dan masukannya obyektif. Inilah yang saya praktekan, ketika selalu mengirimkan naskah ke Mas Halim. Dia budayawan, pengkritik tajam, dan seorang kutubuku sekaligus seorang penulis produktif. Sangat cocok meminta masukan. Mendapat masukan dari orang seperti dia adalah berkah tersendiri.

Bukan hanya kepada Mas Halim saya meminta masukan, kepada beberapa ahli saya juga melakukannya. Misalnya, Nirwan Arsuka, Prof. Adrian Lapian, Prof. Christian Pelras, Horst Liebner, Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib, dan dosen-dosen saya serta kolega saya. Ini bukan untuk gaya-gayaan tapi untuk mendapat masukannya.

Kecepatan sandeq; sandeq, dan Sandeq Race

Siapa yang pernah mencatat atau membandingkan di suatu arena balap kecepatan mobil F1, truk puso, kerea api “Gaya Baru”, bis “Piposs”? Tak ada. Tapi orang pasti tahu mana yang lebih cepat. Tentang berapa kecepatannya pun, bila tak dicantumkan berapa km/jam, orang pasti yakin mobil berlogo “kuda jingkrak” pasti lebih cepat daripada sedan Proton-nya Malaysia.

Sama seperti sandeq dengan perahu-perahu lain. Dari pengalaman membandingkan kecepatan maksimal perahu-perahu layar tradisional serta dari catatan ilmiah dan informasi dari para antroplog maritim, sandeq adalah perahu tercepat nusantara; di dunia! Agar tak terlalu dianggap berlebihan, saya tidak menuliskan “tercepat di dunia”. Nusantara saja.

Pada halaman 127 di buku “Sandeq: Perahu Tercepat Nusantara” saya cantumkan rata-rata kecepatan sandeq, “15-20 knot atau sekitar 30-40km/jam”. Menurut Horst, belum ada kapal perang di Indonesia yang bisa menyamai kecepatan perahu sandeq.

Perahu layar terkenal lain bagaimana? Pinisi yang pakai mesin 250PK kecepatan maksimalnya hanya 9 knot. Sehingga saat berlayar pun sandeq bisa berputar-putar mengelilingi pinisi. Bagaimana bila hanya menggunakan layar? Pinisi, apalagi yang besar, tak bisa sampai pada kecepatan 9 knot.

Perahu bercadik lain bagaimana? Saya sudah menyaksikan perahu-perahu di pantai utara Jawa, pesisir selatan dan utara Bali, perahu-perahu di Madura, hingga perahu-perahu bercadik dari NTB sampai ke kepulauan Maluku Tenggara. Tak satu pun yang bisa menyamai sandeq! Bila memasukkan sandeq inovasi terbaru (yang dipakai khusus lomba), kecepatannya bisa melebihi 20 knot!

BBM juga mempertanyakan tentang “tercepat, terjauh, terkeras” di dunia.

Harus dibedakan sandeq dengan Sandeq Race. Sandeq itu nama perahu, sedang Sandeq Race nama kegiatan lomba perahu. Sandeq bisa hanya dilekati “tercepat”, sedang “terkeras dan terjauh” di dunia ketika sandeq dibawa ke lomba perahu; membandingkannya dengan lomba-lomba perahu layar tradisional lainnya di belahan dunia lain.

Sekali lagi, menurut Horst, dan beberapa kolega saya, khususnya dari Jepang dan Inggris, memang tak ada lomba perahu tradisional yang rutenya sampai ratusan kilometer. Lomba perahu Dhow di Teluk Persia hanya beberapa kilometer, juga beberapa perahu layar lain di Asia Tenggara.

Apa sebab sandeq bisa memegang rekor itu? Alasannya, perahu layar tradisional banyak yang punah. Jadi, perahunya tak ada, untuk lombanya pun apalagi. Contoh paling dekat di Sulawesi Selatan. Perahu layar tradisional amat jarang. Walaupun ada, itu ukuran sampan saja.

:::

Bagaimana dengan Horst? Dari sekian peneliti maritim yang pernah riset di Mandar, paling lama dan paling intens mengikuti perkembangan kebudayaan Mandar adalah Horst H. Liebner. Ia antropolog maritim dari Jerman. Tulisannya tentang kebudayaan maritim Mandar dan suku-suku lain di Sulawesi Selatan pun sangat komprehensif. Dibandingkan dengan tulisan penelitian lain, yang lain “tak ada apa-apanya”.

Juga, satu-satunya peneliti sandeq yang bisa melayarkan sandeq seorang diri hanyalah Horst. Jadi, wajar saja dia tahu sandeq luar-dalam.

Mencari pendapat ilmiah peneliti sandeq lain, rata-rata mengutip dari Horst juga. Dan kebanyakan para peneliti sandeq lain, berlayar dengan sandeq malah ada yang tidak pernah. Jika pun pernah, hanya satu dua hari saja.

2 Comments

Bustan Basir Maras - 20. Okt, 2010 -

Sekedar melengkapi tulisan dan menambah referensi Iwan, buku saya terbit pertama dalam skala nasional, kumpulan pusi ‘Mata Air Mata Darah’ awal tahun 2004 (sebelum Iwan menerbitkan bkunya ‘Mengapa Blm Cinta Laut’), Penerbit Buku Laila, tersebar di seluruh garamedia se Indonesia (bisa dicek di buku online gramedia) dan dibedah berkali-kali di Pulau Jawa, Sulsel, Mandar dll. Berikutnya kumpulan cerpen saya ‘Damarcinna’ diterbitkan Fajar Pustaka juga tersebar di berbagai toko buku di Indonesia. Dari kedua bku ini berkali-kali menjadi bahasan skripsi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indinesia. Tanpa perlu panjang lebar, atas arahan kolega saya Iman Budhi Santosa, penyair dan budayawan besar Yogyakarta (pelopor Persada Studi Klub Tahun 70-an di Malioboro Jogja bersama Emha Ainun Nadjib, Linus dll), sya diminta agar lebih fokus ke Mandar dlm menulis. Mka muncullah bku saya berikutnya, Negeri Anak Mandar, Ziarah Mandar, Cerita Rakyat Mandar, etnografi Upacara Paqbandangang-Peppio di Malunda, Mandar dll. Beberapa bku sya bertama Mandar ini, tidk hanya tersebr di beberapa tempat di Indonesia, tapi merambah beberapa perpustakaan Internasional, sperti Australian Library, California dll. Bisa di-google nama saya nanti akan ketemu. Selebihnya kumpulan tulisan ilmiah, puisi, terbit dalam kumpulan puisi bersama nasional, 30 penyair nasional Indonesia, juga dalam buku Rumpun Kita di Kula lumpur Malaysia dll. Heheh..jdi lucu klo ngmong ini…pkoknya yg mau liat, google aja nama saya, insya Allah tahu kemana aja persebaran bku saya dan orangnya…soal kecintaan dan promosi Mandar, saya sudah baca puisi mulai dari Mandar, Jawa, Singapura, Thailand, dll…semoga Mandar tetap jaya…sukses juga buat Iwan, semoga Sandeq tetap jaya…

emge tocalocalo` - 19. Mar, 2011 -

Unik dan vulgar, budayawan akademis vs dokumenter jurnalis………!

Bismillah dan salam ….,
Kedua tokoh muda di muka, MRA + BBM, untuk menyebutnya dari sisi kepakaran mereka sebagai peneliti dan penulis tentang keragaman sosial budaya Mandar, sepertinya saling ber-Aku-Saya!

Buat sdr. BBM, apakah pengadilan sebuah buku dibolehkan langsung dituduh tanpa disidik dan atau diselidiki bahwa buku itu ternyata tdk layak berbicara–baca terbit–krn dianggap prematur? saran, sidik dan selidiki secara tuntas alur asal muasal embrio sperma + ovumnya, sehingga ia lahir dan dituduh prematur!

Buat sdr. MRA, jangan memancing siapapun utk ber-Aku-Saya, krn kalau seseorg sampai menjadi takabur–baca spontanitas dan tdk sadar kalau ia adalah hamba Allah yg dhaif–maka, dosa pelaku baginya dan dosa embrio bagimu, saran jangan ber-Aku-Saya!

Do`a, ya Allah, angkatlah derajat hamba-Mu bagi siapa saja yg berilmu, yg hanif yg dhaif, amin, semoga!

Mohon ma`af beribu ma`af, hamba-Mu yg berusaha hanif lagi dhaif.

Wassalam, Emge Tocalocalo`
e-mail: arzanjany@gmail.com
hp: +6281341313303

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan