-->

Kronik Toggle

'Sadur', Penerima Anugerah Dharmawangsa (Esei/Kritik)

Henri Chambert-Loir (Foto: M Hanif/IBOE-GIM)

Henri Chambert-Loir (Foto: M Hanif/IBOE-GIM)

“Kalau saya berdiri di sini, menerima penghargaan ini, tentu bukan untuk saya semata. Saya hanya mewakili banyak orang. Buku Sadur dikerjakan dari puluhan pakar dunia, puluhan penerjemah, juga pekerja buku yang mempersiapkan buku yang selama tujuh tahun dikerjakan ini. Jadi, saya mewakili sekitar 100 orang yang berada di belakang buku ini mengucapkan terimakasih atas penghargaan ini,” kata Henri Chambert-Loir dalam ucapan ringkasnya saat menerima Anugerah Dharmawangsa di Newseum Indonesia, Jakarta. Dengan demikian, buku Sadur dikekalkan oleh Yayasan Garuda Wisnu Kencana sebagai KITABUKU.

Inilah Sadur:

Terdiri dari 10 bagian; 69 artikel kajian; dan 65 periset dengan tema kajian mencakup segala aspek (dari serat, babad, kitabsuci, buku, teknologi, hingga pidato) di semua babakan zaman (dari babak prasasti, komik, hingga babak televisi). Juga mencakup semua aksara yang menjadi kendaraan bahasa untuk beroperasi di Nusantara (Pallawa, Kawi/Jawa Kuna, Buda, Ngalagena, Batak, Rencong, Jawa Baru, Bali, Lontarak, Arab, Pegon, Jawi) di semua daerah (Jawa, Bali, Lombok, Sumatera, Sulawesi).

Melihat komprehensifnya dan juga kolaboratifnya, bisa dipastikan, sebelum SADUR,  belum ada kajian yang menyoroti proses penerjemahan yang berlangsung sangat sublim dengan penjelajahan demikian luas bagaimana aksara beroperasi dan/atau antar penerjemahan di Nusantara atas bahasa asing. Sekaligus buku ini membuka pipa pemahaman atas hubungan-hubungan kekerabatan antara satu suku bangsa dengan suku bangsa yang lain lewat genealogi persebaran aksara.

SADUR memberitahu kita bagaimana sebagai sebuah bangsa, Nusantara menjadi melting pot bagi bahasa bangsa-bangsa (India, Arab, Belanda, Cina, Portugal, Jepang, Rusia, dan seterusnya). Nusantara terlihat begitu ramah dan terbuka atas nyaris seluruh praktik keberaksaraan di dunia, praktik keagamaan, dan juga politik yang menyertainya.

SADUR juga kemudian membuka horison yang luas betapa aksara dan semua praktiknya tak pernah kalis dari kuasa yang melingkupinya, sejak kerajaan dan kraton menjadi pusat, Hindia Belanda, Jepang, Indonesia Merdeka, hingga Indonesia Membangun. Masing-masing kuasa itu memiliki corak keberaksaraannya, pilihan resmi dengan satuan sistem yang kuat untuk memilih, menyingkirkan, dan menolak.

Untuk segala usahanya menunjukkan tonggak-tonggak penting bagaimana sistem penerjemahan bekerja di Nusantara dengan sedemikian ekstensifnya, hari ini, Kamis, 14 Oktober 2010, Yayasan Garuda Wisnu Kencana dan Newseum Indonesia, dengan bangga mempersembahkan Anugerah Dharmawangsa kepada SADUR yang disunting Henri Chambert-Loir dan diterbitkan atas kerjasama EFEO dan Kepustakaan Populer Gramedia.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan