-->

Lainnya Toggle

Rumah Arwah (House of Spirit) | Isabel Allende (2010)

Isabel AllendePenerjemah: Ronny Agustinus | Ukuran: 13.5 x 20 cm | Tebal: 600 halaman | Pertama, 1 Juni 2010

ARWAH PARA REZIM
Oleh Fahri Salam

Pada 1982, saat Nobel Sastra diberikan kepada Gabriel García Márquez untuk “penggambarannya yang kaya dengan kombinasi tuturan dongeng rakyat dan realitas, alusi dan kenyataan”, di tahun yang sama, Isabel Allende menerbitkan novel perdananya, La Casa de los Espiritus. Fiksi Allende menambah deretan generasi ‘post-boom’ – suatu gerakan kesusastraan Amerika Latin yang menjangkau dunia internasional dengan antusiasme yang lahap. Pionernya, Cien años de soledad, terbit pada 1967 dari tangan imajinasi Marquez yang mengenalkan realisme magis – pendekatan fiksi dengan menggabungkan realitas dan fantasi.

Jika Gabo mengenalkan Macondo, latar fiktif bagi keluarga Buenda, kisah perjuangan politik di tengah terpaan penindasan dan eksploitasi ekonomi, maka Allende mengenalkan latar negara Latin (alusi untuk Chile) – plus ladang pertanian bernama Tres Marias – dalam kurun pergolakan politik modern sesudah Perang Dunia melalui hikayat keluarga Trueba. Berfokus pada tahun-tahun pergulatan ideologi dunia, sama halnya Soledad, Allende menghembuskan nafas humanisme kepada tokoh-tokohnya dalam Espiritus.

Abad 20 memang penuh gejolak. Sesudah Perang Dunia, geopolitik antara blok Timur dan Barat mengubah peta nasib untuk jutaan umat manusia yang lahir di Dunia Ketiga. Jika kurun nasionalisme membentuk kesadaran akan pahitnya kolonialisme berselimut rasialisme, maka kurun berikutnya adalah kampanye “menangkal bahaya komunisme” untuk Asia, Afrika dan Amerika Latin. Ini era di mana sebagian umat dunia terpaksa mengungsi dari tanah lahir mereka; mereka terusir, mereka hilang secara paksa, mereka memangul senjata, mereka terpisah dari garis keturunan akibat fragmentasi keyakinan politik.

Kaum kiri di Indonesia, sebagian besar di Jawa dan Bali, harus tunggang-langgang mengemasi nyawanya pada 1965. Antara 500,000 hingga 2 juta orang terbunuh. Bagi mereka yang selamat, dituduh simpatisan dan anggota komunis, pemerintahan baru bentukan restu kepentingan modal – kolonialisme baru berkedok kapitalisme – membuka saluran modernisasi wilayah tak bernama Pulau Buru. Ini sebuah lokus isolasi di Kepulauan Maluku bagi sedikitnya 14,000 tahanan politik yang dipaksa mengeraskan otot-ototnya selama setidaknya 10 tahun dalam sistem kamp konsentrasi.

Pada 1974, Timor Leste dipaksa telentang di bawah boot tentara, yang kebanyakan dikirim dari Pulau Jawa. Hingga 1999, jumlah korban mati di negara baru itu sedikitnya 183,000 selama pendudukan ala teknokratisasi militer Indonesia.

Di Amerika Latin, hal sama pun berulang, tak terkecuali Chile. Upaya pendukung militer, terutama dari Amerika Serikat, telah menyalin mentah-mentah apa yang sudah dipraktikkan di Jakarta. Pada September 1973, militer mengkudeta pemerintahan sah presiden sosialis Salvador Allende, yang baru berkuasa tiga tahun. Augusto Pinochet, seperti halnya Mayjen Soeharto, berkuasa kemudian dan menikmati kekayaan di atas banjir darah.

Jutaan korban dibikin sunyi. Sastra, sedikit-banyak, memberikan suara.

Itulah kesan pendek dari garis besar kurun berdarah pada abad 20 sesudah membaca kesaksikan fiksi yang dibawa Allende dalam Espiritus. Buntut kudeta Pinochet, serta menyandang nama keluarga dari garis ayah, yang mengubah semua kehidupannya, Isabel Allende menyelamatkan diri ke Venezuela selama 13 tahun. Pada 1981, Allende mendengar kakeknya, berusia 99 tahun, sekarat di Chile dan mulai mengirimkan surat. Korespondensi surat-surat inilah yang mengilhami penulisan novel tersebut.

La Casa de los Espiritus atau The House of the Spirit (diterjemahkan menjadi Rumah Arwah oleh Ronny Agustinus), menuturkan tiga perempuan berbeda generasi dengan latar pergolakan politik di satu negara Amerika Latin. Kisah bermula dari kedatangan Barrabás, binatang serupa anjing dengan tubuh sebesar monster, yang dibawa buyut Marcos – paman Clara, nenekanda Alba. Clara, yang masih kecil namun sudah memiliki kemampuan sihir bak cenayang, mulai menulis segala kronik keseharian yang melingkari hikayat keluarganya. Esteban Trueba, pemuda bungsu dari keluarga kaya yang bangkrut, jatuh cinta kepada Rosa, yang memiliki kulit terang kebiruan, rambut hijau dan menyimpan keanggunan bahari.

Demi tekadnya menikahi Rosa, Trueba berburu emas, dengan sifatnya yang pemarah dan logis, melihat dunia hanya hitam dan putih. Malang baginya, Rosa mati keracunan tanpa sengaja — yang dialamatkan untuk ayah Rosa, Severo del Valle atas aktivisme politiknya yang berkiblat pada partai liberal.

Dimulailah petualangan Trueba membuka kembali lahan pertanian di ladang Tres Marias, warisan terbengkalai almarhum papanya. Ia kemudian menjadi tuan tanah sukses. Lelah dengan petuangan seksual terhadap gadis-gadis desa, yang dipandangnya sebatas objek ragawi dari cerminan penduduk desa bodoh dan miskin, Trueba menemukan pasangan hidup pada diri Clara, adik Rosa. Lahirlah anak-anak dari pasangan ini: Blanca, bersifat lembut namun pemberontak, serta si kembar Nicolás dan Jaime, yang berbeda watak.

Pada musim panas keluarga ini ikut Trueba ke Tres Marias. Seiring remaja, Blanca menambatkan hatinya pada pemuda dekil Pedro Tercero Garcia, anak petani si mandor Pedro Segundo Garcia. Percintaan tersembunyi dua remaja tanggung ini melahirkan Alba, cucu Trueba yang menjadi anggota keluarga paling disayang oleh Trueba sekaligus mesin penggerak kisah novel ini.

Tercero Garcia adalah manifestasi seniman rakyat, yang membuhulkan impian kaum petani mengolah tanahnya sendiri – melalui kisah sederhana dari lagu-lagu yang dibawakannya tentang ayam dan rubah. Jika ayam dapat bersatu, demikian isi dongeng rakyat Garcia, maka rubah pun akan takut mengganggu kehidupan mereka. Ayam adalah simbolisme kaum tani. Rubah adalah antagonisme tuan tanah dan pemilik modal. Kesadaran Garcia juga ditempa seorang pendeta sosialis yang meyakini “… gereja memang ada di sisi kanan, tapi Yesus Kristus selalu di kiri.”

Betapapun Trueba menyayangi Alba, ia tak pernah memaafkan tindakan Blanca, bahkan mencari-cari Tercero Garcia dan berusaha membunuhnya, lewat pertengkaran sengit, hingga meninggalkan cacat pada tangan Garcia. Bertahun-tahun kemudian mereka bertemu lagi, dalam situasi berbeda, di mana Trueba menjadi tahanan petani Tres Marias dan Garcia datang untuk menyelamatkannya atas permintaan Blanca. Keduanya akan rujuk sesudah Trueba menyadari aktivisme politiknya, yang berada di tangsi militer, berjalan penuh kelokan tajam – membunuh Jaime (dokter pribadi sang Presiden sosialis) dan menyiksa Alba atas dendam pribadi anak haram Trueba – suatu kepercayaan naif Trueba kepada kaum militer lewat kudeta yang disokong negara-negara Barat. Babak kudeta, yang menyuruk keluarga ini hingga tak terperi, merupakan salinan realitas atas peristiwa kudeta Chile pada 1973.

Isabel Allende menggali kehidupan para korban penggulingan berdarah ini sebagai arwah gentayangan yang menggelayut mendung hitam kediktatoran pemerintahan militer Pinochet. Generasi sesudah transisi rezim kotor ini menanggung beban sejarah maha berat di pundaknya. Saat rezim beralih ke arah yang lebih demokratis pada 90-an, baik di Eropa Timur maupun di Asia dan Amerika Latin, berbagai persoalan masa lalu itu terbuka bak kanker kronis yang segera diobati.

Ada negara-negara yang berhasil. Ada yang tersuruk dalam peperangan berlatar etnik. Ada kekerasan komunal di kota-kota terluar dari pusat-pusat kekuasaan. Segera sesudahnya, dunia internasional kembali diingatkan akan sejarah teror masa lalu, yang tak mungkin lagi bersandar pada alibi naif setelah mereka palingkan muka bertahun-tahun.

Latar Espiritus secara umum tak hanya Chile – negara si pengarang; namun juga secara geopolitik adalah negara-negara Amerika Latin. Saat negara Selatan mulai meraih politik populismenya – lewat pemimpin sosialis mereka, dari Venezuela hingga Bolivia — di Indonesia sendiri misalnya, yang mewarisi kejahatan HAM tanpa pernah diadili, masih berada dalam persimpangan, meski proses transisi itu sudah berjalan lebih dari satu dekade.

Bahkan kini yang menonjol populisme kaum kanan, berlatarbelakang agama mayoritas, yang menguasai ruang-ruang publik di jalanan; beberapa di antaranya telah memasuki legitimasi formal, lewat parlemen dan aturan legal. Keyakinan minoritas ditindas. Pemerintah seringkali dengan sengaja membiarkan proses pembusukan kebebasa sipil ini. Kemiskinan menjadi bisul busuk yang menjalar di wilayah-wilayah terluar. Protes-protes pemisahan diri ditekan dan dihancurkan; mereka kembali menjadi korban yang dipaksa untuk bungkam. Kekayaan alam, dari Acheh hingga Papua, dihisap dalam-dalam dan meninggalkan lubang-lubang kehancuran ekologis.

Novel La Casa de los Espiritus ini mengingatkan kita bahwa arwah korban dari para rezim perang kotor itu, untuk sebagian negara, sudah bisa tidur nyenyak di nirvana. Namun di sebagian negara lain, termasuk Indonesia, mereka masih bergentayangan. Mereka terbaring gundah di bahu generasi masa kini, menuntut kedamaian abadi melalui perjuangan yang seringkali bak dongeng sisiphus…

Disclosure:
* Untuk melihat mitologi prosa Allende selalu dimulai pada tanggal 8 Januari, gara-gara pengakuan internasional atas novel ini, sila tengok tautan wawancaranya.
* Untuk keterangan Nobel Sastra 1982 kepada Gabriel Garcia Marquez, lihat jendela ini.
* Untuk website Allende.

1 Comment

nurjali salam - 04. Okt, 2010 -

manztap benar! jadi pengen baca ri.
Tapi bentar, aku jadi ingat, ada satu keluarga di kampung K, tercerai-berai melarikan diri dari kepungan stigma “kiri” ke belantara banten salatan, sebagian yang bertahan tetap dicap “ET” sepanjang hidupnya, padahal bisa baca-tulis pun, tak.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan